Natsir dan Tan Malaka berdampingan

Setelah Tan dan Natsir, Mau Ngapain?

oleh | Mei 22, 2026 | Opini

Sungguh sangat menyenangkan mengikuti diskusi tentang Tan Malaka dan Natsir yang semula dipicu oleh video pak Hadi Nur yang sedang membandingkan dua tokoh tersebut. Sehingga memantik diskusi lebih dalam lewat tulisan oleh beberapa orang. Jujur saja, saya sangat kesulitan mencari ceramah penuh pak Hadi melalui media daring. Melalui tulisan – tulisan sebelumnya pun saya merasa pak Hadi babak belur, tanpa perlawanan. 

Namun saya ingin mengajak untuk mencermati lebih dalam dari potongan video tersebut. Dalam potongan video tersebut, setelah dialih bahasakan kira – kira, “ Sekarang banyak anak-anak Minang yang mengagumi Tan Malaka… Dikit-dikit menganalisa satu bangsa satu negara dengan kaji pemikiran Tan Malaka…” Dari sini tepat saya kira, Pak Hadi menilai. Sebab dalam dua tahun terakhir saja, penjualan dan permintaan terhadap buku – buku karya Tan Malaka meningkat. Dapat diperiksa ulang di loka pasar tren penjualan karya Tan Malaka dari berbagai penerbit dan toko. Tidak hanya di Minang saya rasa, bahkan di Indonesia. Pertanyaan nya apa yang menyebabkan Tan Malaka populer akhir – akhir ini? 

Sekiranya menurut saya ada dua hal yang menjadi alasan mengapa Tan Malaka popular akhir – akhir ini. Pertama karena arus informasi melalui siniar maupun ulasan media sosial berdasarkan algoritma. Hal ini menyebabkan siapa saja dapat meng akses informasi didalam nya sesuai dengan topik, minat, sampai kebiasaan pengguna. Bisa jadi tinggi nya popularitas Tan Malaka ini karena konten FYP (for your page).

Kedua karena konten yang terkait Tan Malaka FYP (for your page), menjadi alasan buku dan karya nya dicari, dibaca dan dipelajari. Kemudian dinilai sesuai dengan keadaan Indonesia hari ini, lalu didiskusikan, dan dipakai untuk menganalisa kejadian hari ini, di Indonesia, lalu menjadi sebuah gerakan positif untuk perbaikan keluarga nya, kampungnya, komunitasnya, sungguh suatu kemajuan di alam berpikir mereka. Tinggal menunggu waktu saja, pemikiran Natsir pansos.

Lalu boleh kita masuk ke persoalan selanjutnya. 

Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan…”. Tentang pemikiran Tan Malaka dan kaitan nya dengan masuk dalam pemerintahan sudah dibahas panjang lebar oleh saudara Habiburrahman dengan semangat yang berapi – api. Ini bukan soal romantisme saya kira, ini soal mendudukkan pemikiran Tan Malaka dan Natsir melalui konteks sejarah berdasarkan sumber primer dan otoritatif. Dengan mendudukkan kedua nya melalui konteks sejarah akan menempatkan nya dengan seimbang. Seperti diketahui, sejak 1966 pemerintah Orde Baru melakukan kekerasan budaya melalui kampanye anti komunis. Sehingga buku – buku kiri, terindikasi komunis, dilarang beredar, disebarluaskan, didiskusikan. 

Sejatinya, pemikiran Tan Malaka belum selesai, menurut saya benar. Begitu pula dengan pemikiran Natsir. Sebagai tokoh kedua nya telah selesai, kalah. Namun sebagai gagasan, ia dapat dipelajari kembali, dikaji ulang, didiskusikan, dikembangkan ke bentuk nya yang baru dan dipergunakan sebagai pedoman suatu gerakan, atau hanya ditumpuk di sudut zaman. Lalu, sekarang mau ngapain?.

Penulis:
Kholiq Kurniawan
Relawan jauh sekolah adat @ulinggenamori, pengasuh Perpustakaan Bersama Gresik, kerani dan wakil perusahaan di Bandung yang memiliki minat dalam sejarah, buku, masakan dan kopi.