Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo

oleh | Mei 20, 2026 | Sosok

Tulisan ini didasarkan pada catatan saripati rihlah ziarah ke MTI Malalo serta makam Syekh Zakaria Labai Sati pada Juni 2010 dan 3 Juni 2011, yang kemudian diperkaya dengan tawatsiq (verifikasi) dari berbagai literatur historiografi.

Menelusuri tepian Danau Singkarak tidak hanya memanjakan mata dengan lanskap alam yang permai dan arsitektur autentik Rumah Gadang, tetapi juga membawa kita pada sebuah situs ta’lim (pendidikan) Islam yang legendaris. Pada masa keemasannya, lembaga ini memancarkan pengaruh spiritual yang luas di seantero Minangkabau, bertindak sebagai rahim tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama) yang melahirkan poros ulama serta mujahid di tanah Andalas.

Institusi tersebut adalah Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Padang Lawas, Malalo. Kendati kini mengalami reorientasi nomenklatur menjadi “Pondok Pesantren” demi penyelarasan birokratis dengan Kementerian Agama sebuah istilah yang secara historis merupakan produk sosio-kultural Jawa dan menggeser tradisi penamaan lokal esensi institusi ini tetaplah sebuah halakah keilmuan yang kokoh berakar di bumi Minang.

Logo PPTI Malalo

Pendidikan Islam tradisional yang telah berusia hampir seabad ini telah memainkan peran pentingnya dalam transmisi keilmuan Islam, dan mempunyai nama besar di kalangan ulama-ulama dan masyarakat Minangkabau. Di masa keemasannya, bukan hanya “urang-urang siak” (sebutan santri di Minangkabau) dari berbagai wilayah Minangkabau yang menuntut ilmu di lembaga ini, bahkan ada yang dari negeri yang jauh-jauh, seumpama Aceh.

Selain itu tercatat tokoh-tokoh yang lahir dari MTI ini, yang sebahagian besarnya menjadi pejuang agama yang taguh dan pelanjut tradisi pendidikan Islam, penyambung estafet keulamaan di kemudian hari. Siapa tokoh dibalik kebesaran nama “Malalo” sebagai kota “Urang siak” tersebut? Yang telah menjadi pengerak utama Madrasah ini dan mata air ilmu di lembaga ini? Dialah ulama besar yang berenang di laut ilmu, yaitu Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, “Alim Allamah”, salah seorang dari pendekar Naqsyabandiyah di Darek.

Demi mengenang hidup beliau, mengingat tokoh yang mempunyai dedikasi yang tak termungkiri dalam transmisi keilmuan Islam yang bertitik tolak kesinambuangan intelektual, maka sangat perlulah kita menilik biografi intelektual beliau, supaya menjadi kaca tempat bercermin terhadap kejayaan Islam masa lalu, dan supaya pula timbul rasa “ta’zhim” akan pejuang-pejuang agama di tanah Minang ini adanya.

Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Laweh Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo.

Setahun setelahnya beliau melanjutkan menuntut ilmu khususnya dalam ilmu Agama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho yang begitu terkenal seantero Minangkabau, kehadapan ulama yang sangat Alim Syekh Muhammad Jamil yang masyhur dengan gelar Angku Jaho atau Inyiak Jaho. Lebih kurang 7 tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Jaho, mengaji seluk beluk agama sedalam-dalamnya, apakah Nahwu, Sharaf, Bayan, Ma’ani, Badi’, Mantiq, Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadist, Tasawuf, Ushul dan lain-lainnya. Tepat pada tahun 1926 beliau memperoleh Ijazah dari Madrasah yang masyhur ini.

Khusus dalam ilmu Tarekat, yaitu Tarekat Tarekat Naqsyabandiyah, beliau mengambil daripada Maulana Syekh Ja’far Pulau Gadang Kampar. Berdasarkan sebuah catatan yang disimpan oleh anak cucunya, pertalian silsilah Syekh Zakaria dengan Maulana Syekh Khalid Kurdi sebagai berikut:

Syekh Zakaria menerima dari Syekh Ja’far Pulau Gadang, beliau menerima dari Syekh Abdurrahman Tanjuang Alai, beliau menerima dari Syekh Mahmud Alin ad-Dili (Deli?), beliau menerima dari Syekh Abdurrahman ad-Dili (Deli?), beliau menerima dari Maulana Syekh Khalid Kurdi an-Naqsyabandi, selanjutnya bertali-tali hingga kepada Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keterangan Syekh Idrus Batu Basurek Kampar, beliau Syekh Zakaria juga mengambil dari Guru dari sekalian ulama Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar. Ketika Tuanku Laskar ke Batu Basurek, Syekh Idrus mengisyaratkan tempat dimana Syekh Zakaria Labai Sati mendapat “Irsyad” di ruangan Suluk Batu Basurek tersebut.

Setelah lama menuntut ilmu, telah pula memperoleh “Ijazah”, pada tahun 1930 Syekh Zakaria mendirikan Madrasah di Padang Laweh Malalo. Madrasah ini diberi nama sebagaimana nama Madrasah gurunya di Jaho, Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Madrasah ini merujuk kepada organisasi ulama-ulama Minangkabau yang teguh kepada i’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah, bermazhab kepada Mazhab Imam besar Imam Syafi’i dan mempusakai Tasawuf dengan mengajarkan kearifan Tarekat-Tarekat ahli Sufi yang Mu’tabarah, yaitunya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (waktu itu disingkat dengan PERTI). Persatuan ini kala itu sangat besar pengaruhnya di Sumatra Tengah dan menaungi sebahagian besar ulama-ulama tua, madrasah-madrasah dan surau-surau yang tersebar luas saat itu.

Madrasah Tarbiyah Islamiyah Padang Laweh Malalo menjadi sangat tenar, dengan sosok ulama yang memimpinnya, dan ilmu agama yang sungguh-sungguh diajarkan lewat kitab kuning yang lautan ilmu itu. Banyak “urang siak” (istilah untuk santri) berdatangan dari berbagai penjuru Minangkabau untuk menuntut ilmu, bahkan dari rantau yang jauh, seperti dari Aceh, Riau, Jambi dan Maluku.

Foto: Syekh Muda Wali (Dok. Istimewa)

Adalah Syekh Zakaria Labai Sati sangat dekat dan memiliki hubungan emosional yang dalam dengan ulama besar Aceh yang sangat Alim, yakni Syekh Muda Wali al-Khalidi, yang juga keturunan dari ulama Minangkabau yakni Syekh Pelumat asal Batusangkar di pinggang Marapi sana. Hubungan ini begitu erat, sampai-sampai beliau berdua saling mengaku menjadi murid.

Dimana Syekh Zakaria mengaku menjadi murid Syekh Muda Wali, Syekh Muda Wali pun mengaku murid Syekh Zakaria. Begitulah kerendahan hati dari kedua ulama yang Alim semasa dulu. Konon kabarnya yang memberi nama “Zakaria” ialah Syekh Muda Wali (yang masyhur di Minangkabau dengan Angku Aceh) ini. Adapun kisahnya ialah ketika Syekh Muda Wali membuka pengajian di Lubuk Alung (Padang). Kita ketahui bahwa Syekh Muda Wali setelah belajar bertahun-tahun di berbagai Dayah (istilah untuk Pesantren di Aceh) di Aceh, beliau oleh salah seorang tokoh Modernism disuruh belajar pada Normal Islam yang juga cenderung Modern di Padang.

Sesampainya di Padang, dan memasuki Normal Islam, rupa-rupanya Syekh Muda Wali tidak berselera untuk sekolah di sekolah yang digembar-gemborkan ini. Sebabnya Normal Islam hanya kebanyakan mengajarkan ilmu umum, ilmu agama hanya diberikan sangat sedikit, sedangkan ilmu Syekh Muda Wali sudah melebihi apa yang diajarkan itu. Syekh Muda Wali lalu keluar dari Normal Islam setelah 3 bulan bertahan.

Beliau Syekh Muda Wali kemudian tinggal bersama ulama besar Minangkabau di Padang, yaitu Syekh Khatib Ali al-Fadani (pengarang “Burhanul Haq” dan “Soeloeah Melajoe”) yang dikenal gigih memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i. Perlu kita ketahui bahwa Syekh Muda Wali sudah begitu Alim, hafizh segala “matan” kitab, cakap mensyarah, hingga membuatnya seketika terkenal di Minangkabau.

Oleh karena kealimannya itulah banyak ulama Minang terpikat, sampai menjadikannya menantu, ada yang mengajukan syarat untuk berdebat masalah kitab “Alfiyah” (kitab Nahwu yang tertinggi dan terbilang rumit) sebelum mengambil mantu, namun itu semua dapat beliau penuhi.

Syekh Muda Wali kemudian membuka pengajian di Lubuk Aluang. Cukup ramai. Di suatu waktu datang seorang yang serba putih, berjubah putih dan bertutup kepala putih, duduk paling belakang. Adapun pengajian hari itu seputar ilmu Ushul Fiqih. Setelah usai mensyarah, lelaki berjubah putih itu mengajukan pertanyaan tentang Ushul. Syekh Muda Wali dapat menjawabnya setelah merujuk “Waraqat”. Pada hari berikutnya, pada pengajian yang sama, lelaki serba putih itu mengajukan pertanyaan tentang juga tentang Ushul.

Syekh Muda Wali-pun dapat menjawabnya, tetapi setelah merujuk kitab “Latha’if al-Isyarat” (lebih tinggi dari “Waraqat”). Pada hari berikutnya, juga pada pengajian yang sama, lelaki berkopiah putih itu mengajukan pertanyaan lagi-lagi pada Ushul fiqih. Syekh Muda Wali-pun akhirnya dapat menjawab, namun setelah merujuk kitab “Ghayah al-Wushul” (lebih tinggi dari “Latha’if al-Isyarat”). Rupa-rupanya lelaki serba putih itu ialah seorang Ahli Ushul Fiqih, lagi ahli berkata-kata (Mantiq), yang cukup membuat Syekh Muda Wali berpikir keras untuk menjawab soalan yang diajukannya. Lelaki serba putih itu tak lain “Buyuang Malalo”. Karena kealimannya dalam soal Ushul itu, Syekh Muda Wali memberinya nama Zakaria al-Anshari, mengambil berkat kepada pengarang kitab Ushul Fiqih “Ghayah al-Wushul” yaitu Syekhul Islam Syekh Zakaria al-Anshari al-Syafi’i. Sejak itu pulalah, “Buyuang Malalo” masyhur dengan nama Syekh Zakaria al-Anshari Labai Sati, atau yang lebih dikenal dengan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo. Demikian penjelasan Buya Laskar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang.

Mengenai kedekatan Syekh Zakaria dengan Syekh Muda Wali. Diceritakan di suatu tempat ada orang yang membatalkan amalan Tarekat, maka datanglah Syekh Zakaria dan Syekh Muda Wali untuk meluruskan bantahan itu. Dimana kedua ulama ini saling isi mengisi, Syekh Muda Wali sangat hafizhnya akan kitab, sedangkan Syekh Zakaria pintar mensyarahnya. Ketika Syekh Muda Wali membacakan “matan” dari hafalannya, ketika itu Syekh Zakaria mensyarahkannya dengan cemerlang. Sehingga tiada yang dapat menegakkan hujjah didepan dua ulama besar ini.

Antara kedua ulama ini juga saling kunjung mengunjungi. Ketika Syekh Muda Wali sudah kembali ke Aceh, dan mendirikan Dayah Darussalam Labuhan Haji, Syekh Zakaria sering bertamu ke Aceh. Begitulah adab pergaulan ulama-ulama silam.

Madrasah Tarbiyah Islamiyah Malalo yang mencapai zaman keemasannya di masa Syekh Zakaria Labai Sati telah mengeluarkan ulama-ulama penerus estafet keilmuan Islam, tercatat tamatan Madrasah ini yang kemudian menjadi panutan selaku ulama terkemuka, dan memimpin Madrasah-madrasah pula dikemudian hari, diantaranya:

  1. Tgk. H. Zamzami Zamra (pimpinan Dayah Darul Hasanah Syekh Abdurrauf Singkel Aceh Selatan)
  2. Tgk. H. Abdul Aziz Calang (pimpinan Dayah Patik Calang Aceh Barat)
  3. Tgk. H. Baharuddin Tawar (pimpinan Dayah Mulhallimin Tanah Merah Simpang Kanun Singkel)
  4. Tgk. Baidhawi (pimpinan Dayah Shabul Yamin Aceh Selatan)
  5. Tgk. Muhammad Rasyid (pimpinan Dayah Dayul Yakin Singkel)
  6. Tuanku Ali Amran Ringan Ringan (pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan Pariaman)
  7. Tgk. Armin Kemunus Labuhan Haji Aceh Selatan
  8. Tgk. Ibrahim Lamo Aceh Barat

Dan ulama-ulama lainnya.

Itu semua dirangkum melalui catatan murid-murid ini dari buku Sejarah Ringkas Ponpes Tarbiyah Islamiyah Malalo oleh Ibnu Hadjar, tahun 1993, hal. 17.

Dari Risalah Tablighul Amanah fi Izalah Khurafat wa Syubhah (karangan Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, tahun 1954) disebutkan bahwa pada tahun 1954 diadakan konferensi Tarekat Naqsyabandiyah se-Sumatra Tengah untuk membahas buku-buku Haji Jalaluddin, dimana waktu itu hadir 280 ulama-ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah dari berbagai daerah di Sumatra Tengah, termasuk Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar (yang saat itu usianya sudah lebih 100 tahun), maka Syekh Zakaria Labai Sati Malalo juga hadir sebagai peserta, dicantumkan dalam karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli ini.

Syekh Zakaria Labai Sati wafat pada tahun 1973. Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang merupakan peninggalan beliau, secara berganti-ganti di pimpin oleh murid-muridnya. Di antaranya dipimpin oleh Buya H. Thaharuddin (1941-2011), atau yang lebih dikenal dengan gelar Angku Andah Malalo. Saat ini Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini diasuh, salah satunya oleh murid Syekh Zakaria pula, yaitu Buya Lasykar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang, atau yang lebih akrab dengan panggilan Angku Lasykar.

Sedemikianlah sekeping tarikh perjalanan ulama Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, ulama terkemuka Minangkabau dari Malalo setelah ulama Besar Tuanku Uwaih Limo Puluah, yang tercatat sebagai pejuang Agama. Beliau telah mewariskan keilmuan Islam yang luas dan dalam lewat kitab Kuning, mempusakai kita dengan Tareka Naqsyabandiyah. Semoga kita bisa meneladani beliau, tempat bercermin, mengukur badan, untuk memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana pitua ulama-ulama besar silam, di Tanah Seribu Ulama ini, Ranah Minangkabau yang elok permai. Amin.

Akhirnya, tersebut dalam Nazham Silsilah Naqsyabandiyah, gubahan dari Nazham Syekh Isma’il al-Khalidi Naqsyabandi Simabur al-Minangkabawi, halmana ditambahkan beberapa bait perihal 2 ulama besar, Syekh Zakaria Labai Sati Malalo dan Syekh Muda Wali al-Khalidi, sebagai berikut:

‎وبعده مرشـدنا لابي ساتى # أعني به زكريا الأنصاري
‎بصاحب العلامة الحـكيم # مرشدنا محمد والي الفهيم
‎فيا إلهـي قدسن سـرهما # وقربن بطه سكنا هــما

Terjemahannya:
“dan setelahnya (setelah syekh-syekh sesuai urutan Silsilah sebelumnya), Mursyid kami Labai Sati, yaitunya Syekh Zakaria al-Anshari.
Dan sahabatnya yang alim lagi bijaksana, yaitu mursyid kami Muhammad Wali yang luas fahamnya. Wahai Tuhanku, sucikanlah Sir dari keduanya, dan dekatkan pula tempat keduanya, dengan tuah junjungan Thaha (Muhammad)…”.

Amin ya Rabb al-‘Alamin. Wallahu al-Muwafiq ila Aqwam al-Thariq, wal Hadi Ila Sabil al-Rasyad.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.