“Baramulo syahadat itulah dibagi duo. Manyo nan duo? Paratamo syahadat tauhid, dan kaduo syahadat rasul. Ba a nan syahadat tauhid? Tahu di-tauhid nan ampek. Manyo nan ampek? Paratamu tauhid zat, nan kaduo tauhid sifat, nan katigo tauhid fi’il, nan ka ampek tauhid namo.”
rundiang
Tuan Zainuddin El-Junusy Labay
Tulisan ini merupakan tulisan dari Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan nama Buya Hamka. Tulisan ini termuat dalam buku berjudul: ”Sedjarah Minangkabau dengan Agama Islam” yang dicetak di Tasamartul Ichwan, Fort de Kock, Bukittinggi, pada tahun 1929. Redaksi menilai, bahwa penting untuk menyebarluaskan tulisan ini kembali, mengingat tulisan ini terbilang sulit ditemukan cetakannya.
Kok Berang Biyai Ka Denai
Dihukum gantuang den lai namuah
Gantuangkan ka tandan pisang masak
Membongkar Amnesia Digital Sejarah: Mengapa Narasi Luar tentang Minangkabau Kerap Keliru?
Bagi saya yang tumbuh dalam persilangan kultural—mengalir darah Minangkabau namun dibesarkan dalam iklim perantauan yang kompleks—melihat Ranah Minang dari kejauhan hari ini mendatangkan kecemasan tersendiri. Di era ketika algoritma media sosial lebih menyukai sensasi ketimbang akurasi, kebudayaan Minangkabau yang kokoh kini tengah menjadi sasaran empuk dekonstruksi narasi dari luar. Ada upaya sistematis, baik disadari atau tidak, yang berusaha mengkerdilkan tatanan sosiokultural Urang Awak. Narasi ini berkembang dari yang semula menyerang fondasi filosofis, kini bergeser menjadi upaya penggugatan memori kolektif melalui simplifikasi sejarah yang akut.
Membayangkan Hatta di Tengah Polemik Tol Sumbar
Sembari menyeruput kopi pagi, pikiran saya tiba-tiba sampai kepada Bung Hatta. Saya membayangkannya pada usia senja, duduk di meja kerja dengan peta trase jalan tol terbentang di hadapannya.
Ketika Agus Salim Berujar kepada Hamka: “A nan ang unian di siko?”
Hamka ketika baru lebih dari dua bulan berada di Mekah bertemu dengan Haji Agus Salim yang ketika itu sedang berada di Tanah Suci. Lalu Haji Agus Salim berujar pada Hamka: “A nan ang unian di siko? di siko tompek baibadat, indak tompek manuntuik ilemu.”





