Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang diisi beragam pemikiran, gagasan, peristiwa dan kronik antar manusia yang khas dan pelik. Kita hidup dalam sejarah itu, dalam segala kepelikan dan kekhasannya. Manusia masa kini mencari teladan dari sejarah, dari peristiwa dan dari tokoh di masa lampau. Kini kita dapat menyebut nama dari kelampauan sejarah kita, Mohammad Natsir dan Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau lebih sohor dikenal sebagai Tan Malaka.
rundiang
Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said
Di antara banyak tokoh besar dari Minangkabau, ada dua nama perempuan yang sama-sama dikenang sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Rahmah El Yunusiyah dan muridnya, Rasuna Said. Bagi sebagian orang, kisah keduanya mungkin sudah sering didengar. Namun bagi saya, Gen-Z Minang yang masih belajar memahami sejarah tokoh-tokoh dari tanah sendiri, hubungan guru dan murid ini justru memunculkan banyak pertanyaan yang tidak sederhana.
Setelah Tan dan Natsir, Mau Ngapain?
“Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan…”. Tentang pemikiran Tan Malaka dan kaitan nya dengan masuk dalam pemerintahan sudah dibahas panjang lebar oleh saudara Habiburrahman dengan semangat yang berapi – api. Ini bukan soal romantisme saya kira, ini soal mendudukkan pemikiran Tan Malaka dan Natsir melalui konteks sejarah berdasarkan sumber primer dan otoritatif. Dengan mendudukkan kedua nya melalui konteks sejarah akan menempatkan nya dengan seimbang. Seperti diketahui, sejak 1966 pemerintah Orde Baru melakukan kekerasan budaya melalui kampanye anti komunis. Sehingga buku – buku kiri, terindikasi komunis, dilarang beredar, disebarluaskan, didiskusikan.
Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo
Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Laweh Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo.
Terkubur Dua Kali: Nestapa Pusara dan Memori Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh
Tulisan ini merupakan sebuah catatan dialektis yang lahir dari laku ziarah ke makam Syekh Abdullah Khatib yang dinarasikan dalam kolektif memori sebagai “Baliau Ladang Laweh” di Banuhampu, Agam, pada hari Selasa, 27 Agustus 2013, yang bertepatan dengan syiar Syawal 1434 H, perjumpaan fisik dengan situs tersebut menyisakan melankolia yang mendalam; menyaksikan pusara sang ulama yang rimbun dilingkupi semak belukar seketika mengiris hulu hati, memantik rasa pilu atas pengabaian sejarah.
Tan dan Pak Natsir di Media Sosial
Tak ada gulir layar hape yang membuat penulisberhenti relatif lama menelusuri setiap untaian kalimatdi media sosial, kecuali kala membaca soal Tan dan Pak Natsir baru-baru ini. Seakan penulis ditarik kembali pada praktik diskursus intelektual yang entah kapan, rasanya sudah lama sekali, telah berhenti di Sumatra Barat.





