Pada tahun 2012, kami bersama sejawat peneliti dari IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN Imam Bonjol) berkesempatan melintasi berbagai sentra tafaqquh fiddin di Pariaman, sebuah kawasan yang sangat masyhur sebagai episentrum transmisi Tarekat Syattariyyah di persada Minangkabau.
rundiang
Kucing Saya Ditembak dengan Senapan Angin
Jum’at 7 Agustus saya sedang berjalan-jalan di rumah, dan tak sengaja melihat kucing saya tidur di atas meja komputer, keadaannya lemas, dan sepertinya ia ingin tidur pulas, karena kebiasaan saya adalah mengganggunya, saya pun mencoba mengganggunya sebentar.
Tersedak Madilog: Catatan atas Kepanikan Intelektual terhadap Tan Malaka
Menarik sekali membaca tulisan Ustadz Ferry Hidayat di Rundiang.id yang berjudul “MADILOG, Buku Beracun Komunis”. Di tengah zaman ketika minat membaca buku-buku tebal kian menyusut, usaha beliau mengumpulkan kutipan-kutipan Tan Malaka secara kronologis dari tahun 1922 hingga 1946 tentu patut diapresiasi. Namun, membaca artikel tersebut memberikan sebuah kesan yang menggelitik: ada gelagat tersedak intelektual yang cukup hebat saat tulisan itu diracik.
Poetika Transendental Ulama Minangkabau: Manifestasi dan Interpretasi Sufistik dalam Tradisi Sya’ir
Menatap geliat Sastra Minangkabau beserta segala riak dinamikanya membawa kita ke dalam gelanggang diskursus keagamaan yang cukup menarik dan juga memikat. Bermula dari para pujangga tempo doloe yang menggoreskan tinta emas pada khazanah kesusastraan Minangkabau, hingga generasi muda Minang yang lebat bersastra, merangkai prosa serta puisi penuh pendar pengabdian.
Jalan Tol Boleh Dibangun, Keadilan Tidak Boleh Ditinggalkan
Boleh jadi, setelah tulisan ini dipublikasikan, saya akan menerima kritik, sanggahan, bahkan hujatan dan saya memahami hal itu adalah konsekuensi dari menyampaikan pandangan di ruang publik. Namun, saya berharap diskusi tetap berada pada substansi persoalan, bukan bergeser menjadi penilaian terhadap karakter masyarakat Minangkabau, lembaga adat, atau para niniak mamak.
Mari Belajar Memberontak, Pak, kepada Para Petani Kamang dan Pada Mande Siti
Namanya mungkin tidak setenar Kartini atau Tjut Nyak Dien, tetapi bagi masyarakat Manggopoh, Agam, Siti Manggopoh adalah sosok yang bermakna. Ia lahir dari keluarga petani sederhana, putri bungsu Sutan Tariah dan Mak Kipap. Seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya, tumbuh dan belajar mengaji di surau, serta membantu keluarganya bertani dan menjaga tanah adat.





