Belasan tahun aku belajar, puluhan kitab sudah aku khatamkan, beberapa dari semi-khusus, beberapa privat, beberapa sistem pengajian, beberapa lebih pada teman bahs dan debat. Satu kepribadian yang terbentuk dalam diriku, terkhusus saat berpendapat dalam kitab islami.
Abdul Malik Karim Amrullah
Legalitas Tanpa Moralitas: Mengapa Ruang Kelas Perlu Dijejali Materi Membangkang secara Tertib?
Ada lelucon birokratis yang ganjil dalam cara kurikulum kita menobatkan status “anak berprestasi”. Peserta didik dianggap sukses paripurna jika ia bermutasi jadi NPC yang patuh, bebas komplain, dan lihai menelan dogma legalitas tanpa pernah kepikiran mengaudit siapa pemegang saham di balik regulasi tersebut.
Dari Ota Lapau ke Coffee Shop: Anak Muda Mulai Bicara 2029
Seru juga sesekali duduk di kedai kopi Kota Padang. Kopi di meja, orang lalu-lalang, dan tanpa sengaja telinga kita menangkap percakapan yang kadang lebih dari kopi yang diminum.
Beberapa waktu lalu saya duduk di salah satu kedai kopi. Tidak jauh dari tempat saya ada tujuh anak muda yang sedang nongkrong. Awalnya saya kira mereka hanya membahas hal-hal biasa. Ternyata pembicaraannya masuk ke politik. Mereka mulai membahas 2029. Gerindra, PSI, NasDem. Nama Vasko, Fadli Amran, sampai Zigo ikut disebut. Lalu obrolannya bergeser ke Pilpres. Prabowo, Gibran, bahkan Anies.
Kepala Daerah Superiority Complex
“Penindasan tidak akan pernah hilang, jika rakyat masih percaya pemimpin adalah tuan bukan pelayan” – Tan Malaka
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” ini bukan sebuah dalil, tapi hikmah yang telah lama hidup dalam khazanah peradaban Islam. Bisa diterjemahkan seperti “Pejabat Publik adalah Pelayan”. Sebuah hikmah, tetapi sejalan dengan apa yang menjadi prinsip dalam agama Islam, dalam perspektif Islam, jabatan bukanlah simbol kemuliaan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan pencipta umat manusia.
Kala Benci Bertolak Perangai: Retorika Rasa dalam Pantun Minang Klasik
Mengarang pantun ibarat mengaduk (maaru) gula saka dan santan jadi tengguli. Adukan yang pas akan menghasilkan tengguli yang manis dan enak. Sebuah ungkapan Minang lama berbunyi: ‘Kurang aru cirik kambiangan, talampau aru bapalantiangan’. Ungkapan itu menyiratkan bahwa hanya tangan dan yang cekatan dan emosi yang tertatalah yang dapat menghasilkan tengguli yang bagus.
Sedikit tentang Polemik Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Araby
Akhir-akhir ini sebagian yang mengikuti sedang dihadapkan pada polemik perdebatan panas tentang status Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Araby, mulai dari yang mengatakan beliau qutubul ghaust sampai pada yang mengkafirkan. Sebenarnya aku tidak terlalu suka untuk menulis ini, karena aku tidak merasa bahwa medsos tempat yang tepat membahasnya, kalaupun ada ya tipis aja, bukan tujuan berdebat, adapun diskusi tentu saja aku melakukannya, tapi dikalangan khusus saja, mempertajam bahasa.





