Seru juga sesekali duduk di kedai kopi Kota Padang. Kopi di meja, orang lalu-lalang, dan tanpa sengaja telinga kita menangkap percakapan yang kadang lebih dari kopi yang diminum.
Beberapa waktu lalu saya duduk di salah satu kedai kopi. Tidak jauh dari tempat saya ada tujuh anak muda yang sedang nongkrong. Awalnya saya kira mereka hanya membahas hal-hal biasa. Ternyata pembicaraannya masuk ke politik. Mereka mulai membahas 2029. Gerindra, PSI, NasDem. Nama Vasko, Fadli Amran, sampai Zigo ikut disebut. Lalu obrolannya bergeser ke Pilpres. Prabowo, Gibran, bahkan Anies.
Yang membuat saya tersenyum, pembahasannya tidak seperti diskusi politik di televisi. Ada seriusnya, ada bercandanya, ada sarkasnya juga.
“Kalau Anies 2029, apa masih nyalon ya?” celetuk salah seorang.
Yang lain membalas, “Kalau Gibran, kira-kira sudah jadi orator ulung belum ya?”
Sementara Prabowo dibicarakan dari sisi bagaimana seorang petahana akan memainkan kekuatan politiknya menuju 2029.
Saya tidak tahu siapa di antara mereka yang paling benar. Bahkan mungkin sebagian informasi yang mereka bicarakan belum tentu tepat. Tapi justru di situ menariknya. Mereka sedang mencoba memahami politik dengan cara mereka sendiri.
Kita selama ini sering mengatakan anak muda apatis terhadap politik. Tidak peduli siapa yang menjadi pemimpin. Sibuk dengan media sosial dan kehidupan masing-masing. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Mereka mungkin tidak datang ke seminar politik, tidak membaca buku politik setiap hari, tetapi mereka tetap membicarakan siapa yang akan memimpin negeri ini.
Dan bagi saya, itu patut diapresiasi.
Orang Minang punya tradisi yang menarik: ota lapau. Lapau sejak dulu bukan hanya tempat minum kopi atau makan. Di sana orang bisa membicarakan apa saja. Harga hasil tani, masalah nagari, ekonomi, sampai politik. Kadang pembahasannya serius, kadang ota saja. Tapi dari situlah orang belajar mendengar pendapat orang lain dan menyampaikan pikirannya.
Ada semacam sikola lapau. Sekolah tanpa seragam, tanpa papan tulis, dan tanpa ijazah.
Hari ini lapau itu mungkin sudah berubah menjadi coffee shop. Kursinya lebih nyaman, kopinya pakai espresso, ada Wi-Fi, bahkan ada yang datang membawa laptop. Tetapi kebiasaan berbicara dan bertukar pikiran itu masih ada.
Ota lapau ternyata tidak mati. Ia hanya berganti tempat.
Yang perlu kita dorong sekarang adalah agar obrolan itu tidak berhenti pada siapa yang paling viral, siapa yang paling banyak pengikut, siapa yang paling pandai membuat konten, atau siapa yang paling menarik ketika berada di depan kamera.
Sebab memilih pemimpin bukan memilih artis, voting Indonesia idol atau bahkan dangdut akademi.
Kita perlu mulai bertanya lebih jauh: apa gagasannya? Apa rekam jejaknya? Apa yang sudah dikerjakannya? Bagaimana sikapnya ketika menghadapi masalah? Dan yang paling penting, apakah dia benar-benar punya kemampuan memimpin?
Mau Prabowo, Gibran, Anies, atau siapa pun yang nanti muncul pada 2029, semuanya memang boleh dibicarakan. Bahkan boleh dikritik dan disindir. Namanya juga demokrasi.
Tapi jangan sampai kita hanya menjadi penonton politik.
Anak muda harus menjadi orang yang ikut menilai politik.
Karena mungkin saja, dari tujuh anak muda yang malam itu duduk sambil ngopi dan membicarakan 2029, salah satunya kelak menjadi politisi. Atau bahkan pemimpin.
Dan kalau itu terjadi, mungkin kita akan sadar bahwa pendidikan politik tidak selalu lahir dari ruang kuliah atau gedung parlemen.
Kadang ia lahir dari tempat yang sederhana.
Dari secangkir kopi.
Dari perdebatan kecil.
Dari tawa dan sarkas.
Dari ota lapau.
Dan sekarang, dari coffee shop di Kota Padang.
Yang berubah hanya tempatnya. Semangat untuk berbicara dan mempertanyakan kekuasaan itu sebenarnya masih sama.

Penulis:
Salistio Erisa Putra
Lulusan ekonomi pembangunan Universitas Bung Hatta, demisioner Ketua BEM FEB UBH, pengusaha dan penulis/pegiat literasi yang hari ini aktif di beberapa kegiatan sosial di Solok.