Belasan tahun aku belajar, puluhan kitab sudah aku khatamkan, beberapa dari semi-khusus, beberapa privat, beberapa sistem pengajian, beberapa lebih pada teman bahs dan debat. Satu kepribadian yang terbentuk dalam diriku, terkhusus saat berpendapat dalam kitab islami.
Kadang dalam melakukan penelitian ilmiah, kita sudah melakukan bahs berbulan-bulan dalam sebuah masalah, saat kita mendapat kesimpulan, yang kita anggap itu tahrir atau rajih, tapi terdapat perbedaan ulama yang begitu kuat didalamnya, dimana para imam (bukan sekedar ulama) berbeda dalam 2-3 kelompok besar, maka jangan pernah menjazamkan pendapat kita.
Apalagi menjadikan pendapat para imam yang lain sebagai pendapat munkar yang harus ditahzir, itu bentuk kekanak-kanakan ilmiah, cukup jadikan itu bentuk tahrir pribadi kita sebagai peneliti saja. Apalagi jika ternyata pendapat kita melawan jumhur besar yang mendekati ijmak, walau kita kadang harus berpegang pendapat kita, tapi yang harus kita lakukan adalah tawadhu untuk terus mencari kelemahan pendapat kita.
Tentang apa yang jumhur para imam lihat, dan kita tidak lihat, kenapa ikhtiyar mutaakhirin seperti itu? Padahal mereka lebih pintar dari kita, lebih tajam analisa dari kita, bacaan dan ilmunya lebih luas dari kita, karena saat kita berada dalam posisi itu, kita akan terlatih berfikir pada celah yang sangat kecil, itu bisa jadi bentuk upgrade diri. Jangan sampai kita overpede pada bahs kita yang kadang bacaan kita itu bacaan sathy.
Yang mana dengan sikap seperti itu, bisa jadi 50 tahun kedepan tahrir kita akan hilang karena ga dipedulikan keilmiyahannya, atau yang lebih parah, cara kita meneliti itu akan jadi bahan tertawaan komunitas ilmuwan dimasa depan, dimana kita akhirnya jadi ibrah bagi orang lain, tentang seorang dengan ilmu sedikit, tapi pede memberikan pendapat prematur.
Ini bukan berarti kita tidak boleh beda pendapat, sebagaimana saya katakan sebelumnya, kita tetap pada pendapat, tapi jangan overpede, apalagi menganggap pendapat lain itu mungkar dan menghancurkan islam, dan yang mengatakan para imam tidak ada ghirah pada islam, bayangkan orang yang salat jamaah tidak pernah penuh seharian, berbicara tentang ghirah pada ulama mutamakkin salihin, yang menghabiskan waktunya untuk ilmu dan agama.
Tapi mau gimana lagi, ini memang zamannya ruwaibidhah, dimana semua orang overpede dengan pendapatnya, dan memandang remeh keilmuwan semua orang yang beda pendapat dengannya. Kita sering merasa, yang pernah baca kitab yang kita baca itu cuma kita saja, yang pernah melakukan bahs/penelitian dalam masalah itu cuma dia saja, dan lain-lain. Ayolah bro, berapa si umur kita? Apakah kita berpikir bumi berotasi mengelilingi kita? Kenapa mudah banget menganggap hasil penelitian itu sudah final?
Padahal orang lain membaca hadis yang sama, bisa jadi lebih, kitab yang sama, bahkan lebih, hanya saja pemahamannya berbeda, tapi melihat orang beda pendapat setelah kita melakukan penelitian panjang itu kadang larinya tidak lagi ilmiah, tapi ego. Di sinilah pentingnya mujalasah kibar, bukan hanya tentang materi penelitian ilmiah, tapi juga bimbingan untuk dewasa dalam sikap ilmiah.
Sikap ilmiah inilah yang membuat analisa kita terhadap suatu masalah makin matang, dan tidak kekanak-kanan, dan ini tidak bisa didapatkan dari buku, karena perlu dipantau langsung oleh pembimbing yang mutakhasis, mereka akan melihat langsung perkembangan kita, kemudian mengarahkan dan melatih kita untuk meningkatkan skill meneliti kita, sampai benaran matang. Ini yang dinamakan suhbah, sesuatu yang tidak mungkin digapai mustasyriqin sebanyak apapun bacaan mereka.
Adapun aku sendiri belum merasa matang, tapi aku bersyukur dilatih beliau dalam beberapa ilmu, terutama aqliyat, tasawuf dan ushul fikih, tapi tentu bukan beliau satu-satunya yang jadi pembimbingku, ada beberapa ulama lain yang juga mutakhasis yang bersedia memberi waktu dan perhatian, baik dalam ilmu yang aku sebut atau ilmu lain, bimbingan intens dan privat ini adalah salah satu yang paling aku syukuri selama aku belajar di Damaskus.

Penulis:
Fauzan Inzaghi
Merupakan mahasiswa di Universitas Syeikh Ahmad Kuftaro, Damaskus, Suriah. Ia suka menulis di sosial media.