Baru-baru ini, panggung kebudayaan kita yang biasanya riuh oleh perayaan seolah diselingi sebuah adegan komedi. Ada seorang anak kandung daerah ini yang sejak muda merantau tiba-tiba ditawari gelar kebesaran oleh para elit adat justru ketika ia baru saja menduduki kursi empuk kementerian di ibu kota. Penolakan halus dari sang tokoh, yang dengan jenaka mempertanyakan nalar pemberian gelar yang serba tiba-tiba itu, seakan menjadi cermin raksasa bagi kita. Cermin yang memantulkan betapa praktis dan pragmatisnya tata kelola kelembagaan adat kita hari ini.
Opini
Mencari Semangat Tan Malaka di Era Post-Truth yang Cair
Membicarakan Tan Malaka hari ini adalah ibarat membuka kembali kode sumber kuno di tengah sistem operasi digital yang sudah melampaui arsitekturnya. Di satu sisi, Madilog tetap menjadi monumen intelektual yang impresif, sebuah upaya heroik untuk meretas mentalitas klenik bangsa melalui instrumen logika dan materialisme. Namun, ketika kita membenturkan visi Tan Malaka dengan realitas zaman posttruth dan hegemoni algoritma, kita mendapati adanya celah yang lebar, sebuah jeda kognitif yang membuat metode perjuangannya terasa seperti mencoba menjalankan aplikasi berat di perangkat warisan yang sudah tidak lagi mendapat dukungan pembaruan. Ini bukan berarti kita menolak sejarah, melainkan mengakui bahwa tantangan eksistensial kita hari ini telah bermutasi menjadi bentuk yang tidak lagi bisa didekati dengan manual lama yang sudah usang.
Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas
Tak sedikit orang yang heran, kenapa anak “Badung” dari Pandam Gadang itu bisa begitu cerdasnya. Padahal hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain saja. Kalau tidak layang-layang, sepakbola, pasti berenang di sungai. Pada malam hari akan habis waktu untuk mengaji, bersilat, dan tidur di surau. Keheranan itu juga dirasakan oleh para gurunya di Sekolah Kelas Dua (sebutan sekolah untuk rakyat biasa). Dengan kecerdasan itu, para gurunya di Sekolah Kelas Dua itu menyarankan agar sekolah Tan mesti dilanjutkan. Mereka merekomendasikan Tan untuk lanjut bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Anak pegawai rendahan itu kemudian masuk ke Sekolah Raja. Sekolah yang memang diciptkan untuk anak-anak bangsawan, ningrat, dan pegawai tinggi Belanda. Syahdan, Tan Malaka dilepas para tetua kampung. Bukittinggi kemudian menjadi rantau pertamanya.
Mengabadikan atau Mewarisi? Tan Malaka dan Tradisi Nalar Republik
Bangsa ini memiliki kebiasaan yang tampak mulia, tetapi menyimpan paradoks: ia gemar mengabadikan tokoh-tokoh yang dulu mengguncangnya. Nama mereka dipahat, diperingati, dan dijadikan simbol kebanggaan nasional. Namun dalam proses itu, sering kali yang hilang justru...
Dari Seremoni ke Substansi: Menjaga Api Tan Malaka Tetap Hidup
Tulisan terbaru dari Fajirul Aflah yang membedah peringatan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka dengan pendekatan Sorelianisme, hegemoni, dan simulakra menawarkan satu tesis utama: bahwa seremoni adalah bentuk kooptasi, bahwa penghormatan adalah penjinakan, dan bahwa massa...
Haul Tan Malaka dan Tanggung Jawab Sejarah, Menjawab Kritik dengan Kepala Dingin
Tulisan Saudara Muhammad Nurazmi Harza mengenai pelaksanaan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka di Pandam Gadang adalah bagian dari dinamika intelektual yang patut dihargai. Kritik tidak pernah menjadi musuh bagi gagasan. Justru dalam tradisi berpikir seorang Tan Malaka,...





