Opini

yang Ditutup Lubang Tambang, yang Menganga Perut Rakyat

yang Ditutup Lubang Tambang, yang Menganga Perut Rakyat

Orang Minangkabau mengenal petuah, “Nan bana tagak, nan salah tagak dibana.” Yang benar harus ditegakkan, yang salah harus dibenarkan. Sebab itu, tidak ada orang waras yang membela tambang emas ilegal. Hukum memang harus berdiri tegak, alam memang harus dijaga, dan kerusakan lingkungan tidak boleh diwariskan kepada anak cucu. Namun, Minangkabau juga mengajarkan bahwa keadilan tidak cukup hanya berdiri di atas aturan, melainkan juga di atas rasa. Sebab dalam adat dikatakan, “Raso dibao naiak, pareso dibao turun.” Segala keputusan mesti ditimbang dengan hati nurani dan akal sehat.

Kucing Saya Ditembak dengan Senapan Angin

Kucing Saya Ditembak dengan Senapan Angin

Jum’at 7 Agustus saya sedang berjalan-jalan di rumah, dan tak sengaja melihat kucing saya tidur di atas meja komputer, keadaannya lemas, dan sepertinya ia ingin tidur pulas, karena kebiasaan saya adalah mengganggunya, saya pun mencoba mengganggunya sebentar.

Tersedak Madilog: Catatan atas Kepanikan Intelektual terhadap Tan Malaka

Tersedak Madilog: Catatan atas Kepanikan Intelektual terhadap Tan Malaka

Menarik sekali membaca tulisan Ustadz Ferry Hidayat di Rundiang.id yang berjudul “MADILOG, Buku Beracun Komunis”. Di tengah zaman ketika minat membaca buku-buku tebal kian menyusut, usaha beliau mengumpulkan kutipan-kutipan Tan Malaka secara kronologis dari tahun 1922 hingga 1946 tentu patut diapresiasi. Namun, membaca artikel tersebut memberikan sebuah kesan yang menggelitik: ada gelagat tersedak intelektual yang cukup hebat saat tulisan itu diracik.

Jalan Tol Boleh Dibangun, Keadilan Tidak Boleh Ditinggalkan

Jalan Tol Boleh Dibangun, Keadilan Tidak Boleh Ditinggalkan

Boleh jadi, setelah tulisan ini dipublikasikan, saya akan menerima kritik, sanggahan, bahkan hujatan dan saya memahami hal itu adalah konsekuensi dari menyampaikan pandangan di ruang publik. Namun, saya berharap diskusi tetap berada pada substansi persoalan, bukan bergeser menjadi penilaian terhadap karakter masyarakat Minangkabau, lembaga adat, atau para niniak mamak.

Mari Belajar Memberontak, Pak, kepada Para Petani Kamang dan Pada Mande Siti

Mari Belajar Memberontak, Pak, kepada Para Petani Kamang dan Pada Mande Siti

Namanya mungkin tidak setenar Kartini atau Tjut Nyak Dien, tetapi bagi masyarakat Manggopoh, Agam, Siti Manggopoh adalah sosok yang bermakna. Ia lahir dari keluarga petani sederhana, putri bungsu Sutan Tariah dan Mak Kipap. Seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya, tumbuh dan belajar mengaji di surau, serta membantu keluarganya bertani dan menjaga tanah adat.