Dok. Ahmad Yani Tengah Berada dalam Operasi Penumpasan PRRI di Bukittinggi

Gincu Kota Wisata, di Atas Amnesia Massal Ratusan Nyawa di Pelataran Jam Gadang

oleh | Mar 29, 2026 | Kaji, Opini

Awal September tahun 2025, aku kembali mengunjungi kota kelahiranku, Bukittinggi. “Bukittinggi Kota Wisata”, setidaknya itulah yang paling digembor-gemborkan pemerintah setempat, sementara itu tukang pakuak yang menguasai titik parkir belum kunjung dibereskan. Kota wisata, tapi parkir kendaraan saat liburan tarifnya bisa menyentuh tarif Rp50.000 jika plat selain kode BA bersandar di bahu jalan. Kota wisata, tapi orang yang manggaleh di dalamnya jauh dari kata sejahtera.

Bagi yang suka membolak-balik laman buku sekolah, nama Bukittinggi pasti tidak asing di telinga. Kota ini pernah menjadi pusat denyut intelektual dan politik yang intens di masa lampau dan perlahan pudar setelah terror pembantaian di Jam Gadang. Tokoh-tokoh pergerakan dan intelektual banyak terlahir di kota ini. Setidaknya, cukuplah untuk diromantisasi oleh para pareman gadang sarawa sebagai counter jika ada kritik/tuduhan miring tentang adat dan kultur Minangkabau.

…..

Tak jauh dari rumah, aku melihat baliho peresmian nama jalan Usmar Ismail. Sepertinya kita memang dipaksa hidup dengan kondisi lidah terlipat dan kepala tertunduk. Menjadikan Usmar Ismail sebagai nama jalan, tetapi industri perfilman di bioskop terhenti pada penayangan film-film produksi zaman Orba. Kalian bayangkan saja mereka menjadikan nama jalan dengan titel “Bapak Perfilman Indonesia” yang berasal dari Bukittinggi, sementara itu industri perfilman di kota ini macet total. Film-film di bioskop kantau tetap memutar film produksi era Orde Baru yang sudah jauh tertelan zaman dan tak ada pembaruan.

Dok. Pribadi, Baliho Bukittinggi Kota Perjuangan
Dok. Pribadi, Baliho Bukittinggi Kota Perjuangan

Beberapa meter dari spanduk “Kota Perjuangan” ini, terlihat ada tugu dengan narasi yang dipalsukan. Anak-anak muda dipaksa mengubur luka masa lampau PRRI. Tragedi pembantaian 187 orang di Jam Gadang seperti lembaran usang memori yang bakal lapuk digiling mesin penghancur yang disebut waktu. Bahkan pada proyek penulisan ulang sejarah, fakta adanya tragedi berdarah PRRI tidak akan lagi muncul di buku sekolah.

Awalnya saya heran bagaimana bisa patung ini bisa berdiri gagah di tengah kultur masyarakat Minang yang menjunjung tinggi falsafah adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini bisa eksis sampai sekarang. Ternyata beberapa sumber menyebutkan bahwa tugu ini awalnya dibangun oleh serdadu pusat untuk menunjukkan kedigdayaannya di Ranah Minang, sekaligus peringatan jangan macam-macam terhadap pusat. Tapi entah kenapa sekarang narasi yang tampil di bawah tugu ini adalah simbol perlawanan terhadap Belanda. Pada dasarnya, sejarah memang ditulis sesuai kebutuhan penguasa.

Dok. Pribadi, Tugu Pahlawan Tak Dikenal
Dok. Pribadi, Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Bukittinggi pada akhir tahun 1950an serupa tubuh yang memar; tampak utuh dari luar, tetapi menyimpan luka-luka yang tidak terlihat. Ada bapak yang tidak kembali, ada anak yang menunggu di tangga kayu, ada ibu yang mematikan lampu lebih cepat karena takut ketukan pintu larut malam. Bahkan sekarang, ada warga tua yang masih menghindari membicarakan masa itu, seolah sejarah itu sendiri memiliki taring yang dapat menggigit balik.

Jam Gadang, ikon sekaligus epitome kilometer nol kota ini, saat tragedi pembantaian berlangsung diam-diam memandang bagaimana kota ini dipaksa menahan napas saat mendengar derap pantofel, bisik-bisik warga, dan puluhan tembakan yang dilepaskan di bawah kakinya.

Lucunya setelah kejadian tersebut, nama ruas jalan utama diberikan untuk jendral yang menjadi sosok trauma masyarakat pada masa lampau—Ahmad Yani. Generasi berikutnya tumbuh tanpa mengenal awal mula eksodus masyarakat Minang ke perantauan, lalu distorsi penamaan etnis “Minang” yang berubah menjadi “Padang”, bahkan nama-nama berbau Minang mulai diganti dengan lebih kebarat-baratan agar tidak dicurigai sebagai pemberontak di perantauan. Generasi muda tumbuh tanpa mengenali luka yang masih menganga tentang pembantaian orang tak bersalah di bawah pelataran Jam Gadang.

…..

Naik sedikit dari tugu tersebut, rumah tempat diberlakukannya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) terbengkalai. Serupa etalase arloji berkabut yang tertutup oleh samar kabut kejayaan masa lalu. Untuk mengurusnya saja para stakeholder masih dibenturkan pada urusan birokrasi yang macet. Padahal rumah ini merupakan salah satu alasan Indonesia dapat eksis hingga saat ini.

Dok. Pribadi, Rumah PDRI
Dok. Pribadi, Rumah PDRI

Rumah PDRI, rumah yang saat itu pernah menjadi pusat denyut republik ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Rumah tempat para pemimpin bertahan, merawat pemerintahan yang hampir padam sekaligus menjadi alasan mengapa Indonesia tetap ada dalam garis sejarah tanpa jeda.

Kini rumah ini berdiri dalam kesunyian yang berbeda, bukan lagi sunyi karena operasi militer, tetapi karena sunyi yang terlupakan.

Dindingnya meretak pelan. Catnya mengelupas tanpa ada yang peduli. Ilalang tumbuh liar seperti ikut serta menutupi jejak sejarah yang tak lagi disentuh. Sebuah ironi, tempat yang pernah menyelamatkan eksistensi sebuah republik kini malah menua tanpa penghormatan yang pantas, sementara kota di sekelilingnya berlari mengejar modernitas.

Bukittinggi pernah menjadi pusat harapan, pusat ketakutan, hingga kini—pusat ironi. Jam Gadang tetap berdiri, menarik wisatawan dengan wajah bahagia, sementara itu ada luka yang masih menganga dalam dada, lalu menyaksikan semuanya tanpa bisa mengubah apa pun.

…..

Kita memang gemar dan lihai perihal memoles gincu di bibir, sementara kurap di pangkal paha menjalar hingga pusar. Kita terlalu membanggakan “Kota Wisata”, lalu memutus denyut nadi awal kota ini dikenal. Di Bukittinggi saat ini jangan harap kalian akan menemukan banyak pejuang, saat ini perjuangan anak muda adalah membongkar algoritma dengan cara nongkrong di kafe-kafe kalcer. Adu gagasan berganti adu outfit, anak-anak muda lebih memilih bergurau di lapau ketimbang berangkat ke surau.

Tiap saban malam sabtu, kini kita tak lagi mendengar derap kerbau yang bertanya pada pedati, tetapi suara mesin motor balap liar yang tak sekali-dua kali merenggut nyawa. Kota wisata, tetapi anak mudanya kurang hiburan.

Bagaimanapun, Bukittinggi tetaplah kota dengan tumpukan luka yang masih menganga. Menangis Usmar Ismail, Hatta, Syahrir, Agus Salim dari dalam kubur melihat keadaan ini. Benar-benar alam Minangkabau yang tak terbayangkan oleh Datuak Katumangguangan dahulunya.

Kapan kita akan berbenah?

Penulis:
Rega Maulana
(Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Andalas yang lahir di Bukittinggi pada sabtu terakhir bulan Juni tahun 2000. Saat ini sedang berusaha membebaskan diri dari belenggu korporasi dengan cara menulis di media online dan kerja-kerja kebudayaan lainnya saat weekend atau di luar jam kerja nine to five.)