Tercatat dalam lembaran sejarah intelektual Minangkabau awal abad ke-20, perdebatan teologis antara Kaum Muda dan Kaum Tua menemukan salah satu manifestasi tekstualnya yang paling memikat melalui kalam Syekh Sulaiman Ar-Rasuli Canduang (1871-1970).
Kaji
Catatan Kritis untuk Ammar Alwandi: Mengkoreksi Kekeliruan Konten @nusa.angka Terkait Perang Padri dan Memori Kolektif Masyarakat Minangkabau
Pada 27 Juni 2026, salah seorang konten kreator Instagram yang bernama Ammar Alwandi mengunggah sebuah konten mengenai Perang Padri dengan tajuk “Kenapa masyarakat Minangkabau melupakan Adityawarman”? Pertanyaan itu diklaim disampaikan oleh salah seorang peserta tur museum yang dipandu oleh saudara Alwandi sendiri.
Sebuah Catatan Perjalanan Tahun 2012 dan Biografi Intelektual Syekh Tuanku Ali Imran Ringan-Ringan
Pada tahun 2012, kami bersama sejawat peneliti dari IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN Imam Bonjol) berkesempatan melintasi berbagai sentra tafaqquh fiddin di Pariaman, sebuah kawasan yang sangat masyhur sebagai episentrum transmisi Tarekat Syattariyyah di persada Minangkabau.
Poetika Transendental Ulama Minangkabau: Manifestasi dan Interpretasi Sufistik dalam Tradisi Sya’ir
Menatap geliat Sastra Minangkabau beserta segala riak dinamikanya membawa kita ke dalam gelanggang diskursus keagamaan yang cukup menarik dan juga memikat. Bermula dari para pujangga tempo doloe yang menggoreskan tinta emas pada khazanah kesusastraan Minangkabau, hingga generasi muda Minang yang lebat bersastra, merangkai prosa serta puisi penuh pendar pengabdian.
Jalan Tol Boleh Dibangun, Keadilan Tidak Boleh Ditinggalkan
Boleh jadi, setelah tulisan ini dipublikasikan, saya akan menerima kritik, sanggahan, bahkan hujatan dan saya memahami hal itu adalah konsekuensi dari menyampaikan pandangan di ruang publik. Namun, saya berharap diskusi tetap berada pada substansi persoalan, bukan bergeser menjadi penilaian terhadap karakter masyarakat Minangkabau, lembaga adat, atau para niniak mamak.
Republik di Persimpangan Sejarah: Menggugat Privatisasi Kekuasaan dan Mistifikasi Demokrasi
Di tengah riuh rendah panggung politik nasional yang kian hari kian terjebak dalam pragmatisme transaksional dan teatrikalitas visual, masyarakat modern sering kali kehilangan kompas filosofis yang paling mendasar. Kita kerap merayakan pesta demokrasi secara prosedural (seperti pemilu berkala, pelantikan pejabat, dan perdebatan di media massa) namun lupa pada pertanyaan eksistensial yang mengalasi seluruh bangunan ketatanegaraan kita: apa sebenarnya yang sedang kita bangun, rawat, dan pertahankan dengan nama “Republik”? Apakah ia sekadar sebuah label administratif yang membedakan kita dari sistem monarki, ataukah ia sebuah komitmen etis-spiritual yang mendalam mengenai bagaimana sebuah bangsa mengelola takdir bersamanya?





