Di tengah riuh rendah panggung politik nasional yang kian hari kian terjebak dalam pragmatisme transaksional dan teatrikalitas visual, masyarakat modern sering kali kehilangan kompas filosofis yang paling mendasar. Kita kerap merayakan pesta demokrasi secara prosedural (seperti pemilu berkala, pelantikan pejabat, dan perdebatan di media massa) namun lupa pada pertanyaan eksistensial yang mengalasi seluruh bangunan ketatanegaraan kita: apa sebenarnya yang sedang kita bangun, rawat, dan pertahankan dengan nama “Republik”? Apakah ia sekadar sebuah label administratif yang membedakan kita dari sistem monarki, ataukah ia sebuah komitmen etis-spiritual yang mendalam mengenai bagaimana sebuah bangsa mengelola takdir bersamanya?
Kaji
Di Balik Sejarah Muhammadiyah Minangkabau: Ketika Sang Pelopor Tak Menolak Qunut Subuh
Tulisan ini disarikan secara teliti melalui penelusuran heuristik terhadap kitab al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut (1938), karya monumental Hamka seperti ”Ayahku” dan ”Islam dan Adat Minangkabau”, dan juga sekumpulan literatur sejarah terkait, serta diperkuat oleh kesaksian oral history dari Abuya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno Batuhampar dan Abuya Drs. H. Abdul Jalal.
MADILOG, Buku Beracun Komunis
Untuk menilai konsistensi pemikiran seseorang, salah satu caranya ialah membaca semua karyanya secara kronologis. Dengan begitu, kita jadi tahu bahwa si Fulan, dari tahun ke tahun hidupnya, konsisten dengan pemikirannya. Jika pun pemikirannya berubah, maka perubahan pemikirannya gampang sekali teridentifikasi, karena terlihat dari tahun kapan ia menulis karyanya. Saya memakai cara kronologis ini untuk menilai konsistensi sikap kritis Tan Malaka terhadap agama-agama, yang tercermin dalam karya-karyanya, terutama MADILOG. Saya akan menelusuri isi karya-karya Tan Malaka yang ditulisnya sebelum ia menulis MADILOG dan setelah ia menulis MADILOG. Dari situ, akan nampak konsistensi kritisismenya terhadap agama-agama.
Al Fikri Malin Basa: Sarjana yang Pulang untuk Menjaga Akar Tradisi Budayanya
Perkenalkan, ia bernama Al Fikri bergelar Malin Basa, seorang alumnus Program Studi Hukum Tata Negara, UIN Imam Bonjol Padang, semasa kuliah dirinya pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum UKM Surau Konstitusi, dan menaruh minat pada konsentrasi persoalan adat dan budaya, ia berasal dari Magek, Kab. Agam. Fikri tergolong mahir menuturkan pasambahan.
Disungkuik Qur’an Tigo Puluah
Beberapa tahun lalu saya membaca sebuah buku baru tentang Minangkabau oleh sarjana Amerika Karl G. Heider. Judul bukunya: The Cultural Context of Emotion: Folk Psychology in West Sumatra (New York: Palgrave Macmillan, 2011). Buku ini adalah salah satu seri korpus publikasi tentang culture, mind, and society (budaya, pikiran, dan masyarakat).
Rabithah di Pangkal Dendang: Misi Sunyi Andrianto untuk Menjaga Sijobang
Namanya Andrianto, orang-orang memanggilnya Andi atau Anto. Saat aku sampai, dia telah berdiri menungguku di simpang rumahnya. Pria kurus berkulit cokelat itu memakai baju hijau dan celana dasar hitam. Sebuah peci bertengger di kepala, memberikan kesan alim pada sosoknya yang murah senyum.





