Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang diisi beragam pemikiran, gagasan, peristiwa dan kronik antar manusia yang khas dan pelik. Kita hidup dalam sejarah itu, dalam segala kepelikan dan kekhasannya. Manusia masa kini mencari teladan dari sejarah, dari peristiwa dan dari tokoh di masa lampau. Kini kita dapat menyebut nama dari kelampauan sejarah kita, Mohammad Natsir dan Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau lebih sohor dikenal sebagai Tan Malaka.
Kaji
Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said
Di antara banyak tokoh besar dari Minangkabau, ada dua nama perempuan yang sama-sama dikenang sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Rahmah El Yunusiyah dan muridnya, Rasuna Said. Bagi sebagian orang, kisah keduanya mungkin sudah sering didengar. Namun bagi saya, Gen-Z Minang yang masih belajar memahami sejarah tokoh-tokoh dari tanah sendiri, hubungan guru dan murid ini justru memunculkan banyak pertanyaan yang tidak sederhana.
Setia pada Ushul, Terbuka pada Furu’: Menelusuri Jejak Syekh Thayyib Umar Sungayang
Siapa tak kenal dengan Syekh Thayyib Umar Sungayang? Ulama besar yang mempunyai nama yang harum dikalangan orang Siak (baca: santri) di Minangkabau di awal abad 20. Salah seorang muridnya yang terkemuka ialah Prof. Mahmud Yunus, ulama dan tokoh pendidikan Islam Indonesia. Demikian harumnya, sampai-sampai generasi muda saat ini tetap mengenal namanya, bahkan diabadikan menjadi salah satu nama pesantren Modern, yaitu Pesantren Syekh Muhammad Thayyib Umar yang disokong oleh alumni-alumni Mesir masa kini, begitu juga muridnya tersebut yakni Mahmud Yunus telah pula dijadikan nama sebuah kampus PTKIN di Batusangkar / Kab. Tanah Datar.
Rahmah El Yunusiyyah: Manifestasi Perlawanan dan Daulat Pendidikan Perempuan
Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sering kali terjebak pada romantisme seragam dan birokrasi. Padahal, jika kita menengok ke Padang Panjang pada awal abad ke-20, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen resistensi kultural dan politik.
Sawah Kagadangan Panghulu di Minangkabau dan semangat Anti-korupsi
Sawah Kagadangan adalah sebuah harta pusaka tinggi berupa lahan sawah yang khusus diperuntukkan kepada Panghulu untuk menunjang kegiatanya sehari-hari dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi Panghulu sebagai pemimpin kaum. Secara filosofis fungsi utama Sawah Kagadangan adalah untuk mencegah seorang Panghulu mengambil hak orang lain dan untuk tidak berharap kepada pemberian orang lain. Disisi lain fungsi Sawah Kagadangan secara ekonomis adalah untuk menunjang Panghulu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dan juga untuk menafkahi keluarga Panghulu itu sendiri.
Jejak Inyiak De-er: Di Balik Tirai Muhammadiyah dan Kelahiran Kaum Muda
Warkah ini disuling berdasar manuskrip “al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut…” (1938), memoar “Ayahku” serta opus magnum “Islam dan Adat Minangkabau” (Hamka), dikukuhkan pula oleh kesaksian primer Abuya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno dan Abuya Drs. H. Abdul Jalal.





