Kaji

Seorang Datuak Memukul Peminta Belasting di Lubuak Basuang (1934)

Seorang Datuak Memukul Peminta Belasting di Lubuak Basuang (1934)

KEPALA NEGRI DIPOKOEL.

Gara-gara minta belasting.

Di Balai Selasa (Loboek Basoeng) pada hari Selasa yang baroe laloe ada sedikit keriboetan, karena Kepala Negri Kampoeng Tengah dipoekoel orang. Kedjadiannja ada seperti berikoet:

Pada pagi hari itoe, Kepala Negri terseboet telah larang seorang jang bergelar Datoek Toemanggoeng Poetih boeat mendjoeal kelapa jang telah diambilnja dan akan didjoeal di Balai Selasa. Karena menoeroet keterangan K[epala] Negri kelapa itoe boekanlah kepoenjaan Dt. Toemanggoeng terseboet, melainkan adalah kepoenjaan anaknja, sedangkan anaknja itoe soedah 2 taon menoenggak oeang belasting.

Kala Benci Bertolak Perangai: Retorika Rasa dalam Pantun Minang Klasik

Kala Benci Bertolak Perangai: Retorika Rasa dalam Pantun Minang Klasik

Mengarang pantun ibarat mengaduk (maaru) gula saka dan santan jadi tengguli. Adukan yang pas akan menghasilkan tengguli yang manis dan enak. Sebuah ungkapan Minang lama berbunyi: ‘Kurang aru cirik kambiangan, talampau aru bapalantiangan’. Ungkapan itu menyiratkan bahwa hanya tangan dan yang cekatan dan emosi yang tertatalah yang dapat menghasilkan tengguli yang bagus.

Pauh Janggi: Menilik Erotisme Halus dalam Estetika Pantun Minangkabau

Pauh Janggi: Menilik Erotisme Halus dalam Estetika Pantun Minangkabau

Genre pantun boleh dibilang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan. Walapun zaman berubah, musim berkisar, pantun tetap hidup meskipun secara estetika ia mengalami transformasi. Namun itu adalah sesuatu yang wajar terjadi. Di negeri ini sekarang pantun juga populer di ranah politik. Politikus seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Tifatul Sembiring, misalnya, suka mengungkapkan pesan politiknya lewat pantun, sebagaimana dibahas oleh Erizal dalam artikelnya ‘Politik Pantun Yang Rumit’ (2011:75-80). Pantun memang bagian dari politik kehidupan, tak terkecuali pantun Minangkabau.

Mubalig Muda Minang Ber-blangkon Jawa (1931)

Mubalig Muda Minang Ber-blangkon Jawa (1931)

Konteks foto klasik yang kami turunkan kali ini adalah Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta (1931). Dalam foto ini kelihatan Buya Hamka (duduk, kedua dari kiri) yang memakai pakaian Jawa, lengkap dengan blangkon-nya, bersama beberapa rekannya dari Minangkabau. Jarang-jarang, bahkan mungkin belum pernah orang Minang melihat Buya Hamka tampil dalam pakaian Jawa.

Tan, Islam, dan Kesalahan Membaca Komunisme

Tan, Islam, dan Kesalahan Membaca Komunisme

Perdebatan mengenai Islam dan Marxisme memang sering kali berhenti pada kesimpulan yang terlalu sempit, Islam adalah agama, sedangkan Marxisme adalah materialisme, maka keduanya pasti bertentangan. Dari logika sederhana ini lahir juga tuduhan bahwa seorang Marxis atau mungkin juga komunis dengan sendirinya adalah anti-agama. Jika kita lihat dalam sejarah, penjelasannya tidak sesederhana itu.