Pada bulan Juli 2025 lalu, ada pembasahan menarik di kanal YouTube MALAKA kembali yang mengundang banyak atensi. Video mereka yang berjudul: ”Kalau Nggak Bisa Dibuktikan, Kenapa Kamu Percaya?” itu menghadirkan narasumber fisikawan.
Hasanudin Abdurakhman yang akrab disapa Kang Hasan itu hadir di sana, pria yang sudah mengkhatamkan pendidikan S1-nya di Jurusan Fisika FMIPA UGM dan S2-S3-ny di di bidang Fisika Universitas Tohoku, Sendai, Jepang itu hadir pada video yang di upload 8 Juli 2025 dan telah mendapatkan penayangan sekitar 64 k views, dengan durasi video hampir 10 menit.
Pada era ketika informasi mengalir lebih cepat ketimbang proses verifikasi, suara seorang fisikawan kenamaan muncul sebagai pengingat penting: bahwa berpikir ilmiah bukanlah aksesori, melainkan fondasi kebebasan intelektual.
Kang Hasan, doktor fisika terapan dari Tohoku University Jepang, kini GM Business Development di sebuah perusahaan multinasional mengajak kita berhenti sejenak dan menimbang bagaimana kita memperlakukan informasi sehari-hari.
“Dalam keseharian kita banyak menemukan orang-orang yang tidak berpikir ilmiah. Kalau bagi saya pribadi, orang yang tidak berpikir ilmiah itu ya ya tidak berpikir. Itu bahasa keseharian kita bilang, ‘Kok lu enggak mikir sih?’ Ketika kita mengatakan seseorang, ‘Kok lu enggak mikir sih?’ Artinya ada proses penting yang dia abaikan,” ujar Kang Hasan pada pembukaan video.
Kutipan ini tampil sebagai pintu masuk sebuah tantangan lembut namun tegas untuk berhenti melihat “kekurangan berpikir” sebagai sekadar kebodohan, melainkan sebagai pengabaian aktif terhadap metode. Dia kemudian menawarkan contoh sederhana namun relevan:
“Sesuatu yang harusnya logis, sesuatu yang harusnya berbasis fakta, dia abaikan sehingga ya kita bisa katakan dia tidak berpikir sebenarnya. Contoh sederhana, seseorang sakit dia kemudian melakukan proses pengobatan yang tidak berbasis pada metode ilmiah misalnya apa yang mungkin disebut orang pengobatan alternatif. Dia yakin atau dia mau mencoba pengobatan itu tanpa memeriksa, tanpa melakukan proses berpikir apakah metode yang dia pilih ini akan mengantarkan dia pada kesembuhan,”
Dalam analisis Kang Hasan, inti dari “metode ilmiah” adalah memenuhi hukum sebab-akibat, bukan hanya kepercayaan saja.
“Apakah metode yang dia pikirkan ini memenuhi hukum sebab akibat untuk membawa dia pada kesembuhan? Nah, celakanya bahkan cukup banyak orang dari kalangan medis, dokter misalnya yang terjebak untuk meyakini hal-hal yang tidak berbasis pada sains itu sebagai jalan pengobatan,”
Argumentasi ini tentu akan memantik pendengar pada: pengakuan gelar atau status profesional tidak serta merta menjamin ketepatan berpikir. Kang Hasan memperluas cakupan konsep metode ilmiah menjadi sesuatu yang harus dimaknai dan diterapkan secara luas, bukan hanya dalam laboratorium.
“Nah, apa sih yang dimaksud dengan berpikir ilmiah? Apa itu metode ilmiah? Ya, saya waktu belajar SMP dulu ingat cerita tentang si Badu yang ngelihat ilustrasinya melihat tanaman tomat ya atau sayuran di dekat kandang kambing yang kemudian dia lihat itu subur. Kenapa? Dan dia kemudian mencoba mencari jawaban. Penjelasan tentang metode ilmiah itu sendiri bisa sangat panjang. Tapi dalam waktu singkat ini saya hanya akan memberikan dua hal,” katanya.
Relatabilitas cerita “si Badu” ini membawa pembaca kembali ke dasar: bahwa metode ilmiah adalah kombinasi sederhana antara logika dan sains.
“Pertama memakai logika dalam berpikir. Yang kedua itu dia memakai pengetahuan tentang sains. Apa yang diketahui, informasi sains yang dia miliki itu digunakan untuk berpikir. Ya, artinya kalau orang tidak memakai logika serta-merta apapun yang dia pikirkan itu tidak akan ilmiah,”
“Yang kedua, kalau input yang dipakai bukan informasi sains, informasi yang bersumber dari sains, maka yang dia pikirkan atau yang dia olah itu adalah sesuatu yang gak akan menghasilkan kebenaran. Apa itu informasi sains? Seperti apa karakternya? Nah, informasi sains itu sederhananya itu adalah informasi yang sudah divalidasi ya, baik secara teori maupun eksperimen itu sudah divalidasi,”
Dalam narasi Kang Hasan, ia kemudian menekankan pentingnya verifikasi fakta sebelum kita menjalankan interpretasi atau aksi:
“Tapi pada level yang jauh lebih sederhana dari itu adalah kita memastikan dulu bahwa yang kita lihat ya atau informasi itu adalah fakta. Jadi ketika kita punya satu informasi ya kita cek dulu apakah ini fakta. Misalnya ya contoh lagi balik lagi tadi apakah ini menyembuhkan? Apakah ini betul-betul menghasilkan uang, menghasilkan profit misalnya. Nah, itu kita periksa dulu itu fakta atau bukan. Yang kedua, kalaupun kita menemukan fakta, melihat fakta, menyaksikan secara langsung atau mendengarkan dari orang yang kita percayai sebagai orang yang kredibel, berikutnya kita harus periksa lagi apakah yang kita lihat itu adalah fakta yang sebenar-benarnya fakta reality atau sesuatu yang manipulated, sesuatu yang dibuat seolah-olah itu fakta,”
Penjelasan ini menempatkan kritik terhadap manipulasi data, hoax, dan narasi populis yang tak berlandas pada bukti kuat. Ia kemudian menggunakan metafora klasik dari Richard Dawkins:
“Ya, dalam buku The Magic of Reality, Dawkins itu menjelaskan ada fakta, ada yang yang disebut dengan magic. Ya, seperti kita menonton sulap itu kan kita melihat seolah-olah ada fakta orang bisa menghilang. Tapi fakta yang sebenarnya bukan itu. Kita hanya dimanipulasi untuk meyakini bahwa sesuatu yang bukan fakta itu adalah fakta karena kita melihatnya sendiri,”
Metafora sulap ini memberikan gambaran yang kuat, bahwa persepsi banyak orang bisa dibentuk oleh ilusi visual atau naratif yang tampak nyata jika tidak dicek lebih lanjut, ia menjerat kita dalam pseudoscience atau kepercayaan palsu.
Mengapa kita perlu berpikir ilmiah?
Dalam satu bagian penting, Kang Hasan sebenarnya tengah menyentuh aspek praktis, yakni problem solving, itu adalah satu mekanisme berpikir ilmiah. Dan juga menegaskan bahwa dalam manajemen, ekonomi, dan berbagai aktivitas manusia lainnya mulai dari investasi hingga pengambilan keputusan sehari-hari metode ilmiah memiliki relevansi tinggi.
Ia juga memberitahu kalau dengan mengabaikannya berarti memilih untuk tidak ikut dalam arus kemajuan dan modernitas.
Jikalau ditilik lebih dalam, pada akhirnya dapat diterjemahkan, jika proses berpikir ilmiah memerlukan energi kerja keras yang jauh dari glamor sosial media. Dan ia telah menyinggung bahwa bias kognitif bukan hanya penyakit awam tetapi juga ilmuwan dan profesor dapat terjerat. Dan, membuat kebiasaan berpikir ilmiah itu adalah suatu tantangan yang sangat besar yang memerlukan latihan yang sangat panjang dan menguras energi tentunya.
Etika dan tantangan zaman digital
Di samping itu, analisis alumnus UGM itu juga menyentuh perubahan sosial. Sekarang, akses informasi semakin mudah, kita menghadapi dua bahaya: informasi yang salah dan keengganan untuk memverifikasi. Ia melihat bahwa, mau percaya dulu, mikir belakangan. Sederhana memang, tapi bisa menjadi pola banyak orang, sementara pendidikan formal belum membekali cukup untuk mengatasi hal itu.
Sebagai seorang fisikawan yang menjadi praktisi industri, ia memberi pesan jelas ke para penonton YouTube Channel MALAKA, bahwa akademisi dan profesional harus lebih aktif mempublikasikan hasil penelitian dan tidak takut masuk ke dalam forum publik.
Dan harusnya civitas academica, mengerti bahwa kampus tempat mereka bernaung adalah data-generating tool, dan dunia usaha sebagai mitra yang bisa mengubah data menjadi produk nyata. Dengan demikian, ilmu tidak hanya berhenti di jurnal, tapi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sekaligus menyasar pendengar agar tidak hanya menjadi konsumen cerita, tetapi menjadi pemeriksa cerita. Dalam konteks yang lebih luas, ia menyiratkan bahwa perubahan sosial dan kemajuan bukan soal siapa yang paling vokal, tapi siapa yang paling konsisten dalam menggunakan logika dan data.
Ketika seseorang sakit, ketika sebuah produk dijual, ketika kebijakan publik dirancang metode ilmiah harus hadir. Tanpa itu, kita hanya berpacu pada brand, citra, atau narasi besar tanpa pijakan nyata.
Dan di sana, ia menyebut bahwa banyak orang memilih jalan pintas: kepercayaan tanpa bukti, ritual tanpa substansi, konten tanpa kualitas.
Poin nya juga adalah, Kang Hasan mengingatkan bahwa berpikir ilmiah adalah wujud tanggung jawab intelektual. Bukan eksklusif untuk laboratorium dan akademi, tapi untuk setiap orang yang hidup di era fake news, deep-fake, dan klaim tanpa verifikasi.