rundiang

Percakapan George Tambaro dengan Siti Elizabeth

Percakapan George Tambaro dengan Siti Elizabeth

Tambaro : "Kalau orang sudah berkepala palu itu, Siti. Kepala awak disangka paku aja deknya." Siti : "Iyo, Da. Kadang antah lo lah, gadang lo bunyi pado tokok. Tokoknyo sagetek, tapi bunyinyo sa-Ampek Angkek. Tokoknyo di Jirek, tapi kadangaran sampai Jabodetabek....

Kedaulatan Rakyat di Tengah Kuasa Partai

Kedaulatan Rakyat di Tengah Kuasa Partai

Demokrasi Tidak Cukup Hanya dengan Pemilu

Ada kegelisahan yang layak kita renungkan: siapapun yang memimpin negeri ini, Indonesia tidak akan banyak berubah selama kedaulatan rakyat terlalu jauh berada di bawah kendali partai politik. Kalimat itu memang terdengar keras. Namun, daripada buru-buru menolaknya, lebih baik kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: setelah rakyat mencoblos dan pemilu selesai, sebenarnya siapa yang memegang kendali atas kekuasaan?

Habis Asap Terbitlah Sawit

Habis Asap Terbitlah Sawit

Selain menonton pertunjukan, saya juga mengamati pameran seni di perhelatan Jong Bataks Arts Festival #12 di kota Medan pada penghujung tahun 2025 lalu. Salah duanya adalah pameran dari Nonblok Ekosistim, Pekanbaru, Riau. Dari gedung pertunjukan, saya mengikuti instruksi MC untuk segera menuju ke ruang pameran. Sembari menunggu petunjuk selanjutnya saya dan pengunjung lainnya yang didominasi oleh anak-anak sekolah, ikut mengantri di halaman. Saya memperhatikan anak-anak sekolah itu. Tiap sebentar mereka bergaya di depan Hp masing-masing. Mereka tampak seolah tak kuasa untuk menahan diri untuk memotret banyak hal. Tentu saja juga memotret diri mereka sendiri. Mengambil video diri, terkadang juga sambil berjoget-joget.

Salik Buta di Minangkabau

Salik Buta di Minangkabau

Sampai saat ini belum ada kajian atau studi terhadap salik buta di Minangkabau. Adapun yang disebut salik buta adalah orang yang mengaku sebagai ahli tasawuf tapi menyimpang secara keyakinan dan amalan. Istilah salik buta awalnya populer di Aceh. Salah satu ulama Aceh bernama Tgk. Abdullah Ujong Rimba menulis penolakan terhadap salik buta berjudul Risalah Penolak Salik Buta.

Mengapa Tan Malaka Masih Perlu Ada?

Mengapa Tan Malaka Masih Perlu Ada?

Sebuah balasan atas kegugupan Pak Ferry Hidayat terhadap Tan Malaka dalam tulisan ”Menjilat Jilat Madilog dengan Kesumat”

Membaca tanggapan Pak Ferry Hidayat yang sarat dengan gejolak afektif membuat saya menyadari satu hal: betapa beratnya beban emosional seseorang ketika konstruksi akademisnya diuji di ruang publik.