rundiang

Bin Ocean, Musisi Asal Lima Puluh Kota di Balik Lirik Melankolis “I Wish I Had a Home”

Bin Ocean, Musisi Asal Lima Puluh Kota di Balik Lirik Melankolis “I Wish I Had a Home”

Bin Ocean seorang musisi asal Jorong Koto, Nagari Simalanggang, Kabupaten Lima Puluh Kota, mulai memperkenalkan karya-karyanya melalui jalur musik independen. Nama lengkapnya, Bintang Wahyu Ramadhan atau yang juga akrab disapa Acik dan dikenal dengan nama panggung Bin Ocean, dirinya baru saja merilis sejumlah lagu yang berangkat dari pengalaman personal tentang relasi, kesepian, dan proses memahami diri sendiri. Melalui karya-karya itu, ia perlahan membangun identitas musikalnya di tengah aktivitas akademiknya sebagai mahasiswa.

Oleh–Oleh Kunjungan untuk Pejabat

Oleh–Oleh Kunjungan untuk Pejabat

Kemarin, sebuah video lewat di beranda media sosial saya. Awalnya saya mengira hanya potongan video debat yang biasa berseliweran di media sosial.  Tetapi berselang beberapa detik setelah saya menonton, saya baru sadar ini agak berbeda. Di video itu terlihat Menko Polkam Djamari Chaniago sedang marah. Marahnya bukan setengah-setengah. Nada suaranya naik, kalimatnya keras, dan wajahnya jelas menunjukan kekesalan.

Manggadai Saluak Cabiak : Menukar Marwah Nagari demi Cipratan Proyek

Manggadai Saluak Cabiak : Menukar Marwah Nagari demi Cipratan Proyek

Baru-baru ini, panggung kebudayaan kita yang biasanya riuh oleh perayaan seolah diselingi sebuah adegan komedi. Ada seorang anak kandung daerah ini yang sejak muda merantau tiba-tiba ditawari gelar kebesaran oleh para elit adat justru ketika ia baru saja menduduki kursi empuk kementerian di ibu kota. Penolakan halus dari sang tokoh, yang dengan jenaka mempertanyakan nalar pemberian gelar yang serba tiba-tiba itu, seakan menjadi cermin raksasa bagi kita. Cermin yang memantulkan betapa praktis dan pragmatisnya tata kelola kelembagaan adat kita hari ini.

Jejak Syekh Muhammad Zain Simabur: Dari Tradisi Surau ke Otoritas Mufti di Tanah Malaya

Jejak Syekh Muhammad Zain Simabur: Dari Tradisi Surau ke Otoritas Mufti di Tanah Malaya

Nama Syekh Muhammad Zain bergema pelan dalam historiografi Islam Minangkabau, namun pengaruhnya menjangkau paruh pertama abad ke-20. Ia hidup pada masa ketika tradisi pengajian klasik berhadapan langsung dengan arus pembaruan. Meski jejak biografis ulama kaum tuo ini tak banyak terdokumentasi, reputasi keilmuannya diakui oleh sezaman. Ia berdiri sejajar dengan para ulama tua terkemuka seperti Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli sebuah generasi yang memikul tanggung jawab menjaga kesinambungan ilmu-ilmu turats di tengah perubahan sosial yang cepat.