Mana kerja nyata para anggota DPRD, begitu juga Bupati serta Wakil Bupati yang dulu waktu kampanye rajin datang minta suara ke kampung kami? Sedari dulu jalan hancur dan sinyal tidak ada, tuan-tuan seolah hilang ditelan bumi. Jangan hanya pandai berlagak hebat saat memberi sambutan di acara formal saja. Rakyat tidak butuh pidato manis atau janji yang mengawang ke langit. Rakyat butuh jalan yang bagus dan internet yang lancar. Kalau internet saja tidak punya, jangan paksa anak sekolah ujian pakai sistem digital. Itu namanya memaksakan kehendak tanpa modal.
rundiang
Berikut Daftar Episentrum Intelektual Islam di Minangkabau: Jejak Kejayaan Surau dan Ulama Besar
Dalam lanskap sejarah intelektual Islam di Minangkabau, telah lama diakui bahwa wilayah ini merupakan salah satu epicentrum transmisi keilmuan. Tradisi thalab al-‘ilm tumbuh melalui jaringan surau yang berfungsi sebagai institusi non-formal education, tempat berlangsungnya proses ta‘līm, tarbiyah, dan internalisasi nilai-nilai keislaman. Namun, dalam dialektika sejarah, terjadi apa yang dapat disebut sebagai decline of intellectual tradition, di mana perhatian terhadap keilmuan Islam kian meredup, berbanding terbalik dengan menguatnya religiositas instan yang kurang berakar pada turāth (warisan keilmuan klasik).
Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI
Rega memiliki hipotesa bahwa penggunaan kata “Padang” ialah akibat “kekalahan” pihak PRRI (Minangkabau) terhadap pemerintah pusat dan ketakutan akan labeling “pemberontak” membuat orang Minang yang eksodus besar-besaran ke luar Minangkabau lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata “Minang” membuat mereka gamang. Dan pasca PRRI tersebut, kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Namun, Rega tidak memberikan referensi mengenai hal tersebut. Apakah memang sesederhana itu?
Sullam al-Arab ila Lughah al-‘Arab: Kamus Arab “Ammiyah-Minang” Pertama, Karya Syekh Abdul Latif Syakur Ampek Angkek (w. 1963)
Deliar Noer dalam disertasinya yang masyhur itu, “Gerakan Mnoderen Islam”, menyebutkan bahwa madrasah ini merupakan sekolah agama moderen pertama di Minangkabau yang telah berdiri sebelum Madrasah Thawalib dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah memaklumkan diri. Letak moderen itu ialah dari segi metode pembelajaran, adanya pelajaran umum, dan kelengkapan seperti papan tulis, bangku-meja, dan ruang kelas. Dari segi isi, tetap sebagaimana di surau-surau kebanyakan. Madrasah ini didirikan oleh tokoh ulama Ampek Angkek, yaitu Syekh Abdul Latif Syakur, seorang ulama besar, pengarang ulung, dan sosok pendidikan yang melampui zamannya.
Pangan Belum Tentu Mandiri, Tapi Sudah Tersinggung: Melihat Duduk Perkara Laporan terhadap Feri Amsari
Laporan terhadap Feri oleh LBH Tani Nusantara memang mengandung dimensi legal standing sebagai warga negara. Tapi, jangan hanya berhenti sampai disitu saja, substansi pernyataan Feri tidak bisa dilepaskan dari perdebatan akademik dan empiris terkait kebijakan pangan. Dalam hal ini, kritiknya justru menemukan relevansi jika dibaca melalui data dalam briefing paper yang disusun oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan koalisi masyarakat sipil.
Nasi Padang dan Distorsi Penamaan Etnis Minangkabau
Di balik kenikmatan nasi padang, sebenarnya ada beberapa faktor penyebab nasi padang bisa menyebar hingga ke sudut-sudut pinggiran berbagai tempat di Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Nasi padang juga kental dengan nilai filosofis. Kalian pasti sadar, kenapa nasi padang itu lebih banyak porsinya saat dibungkus ketimbang makan di tempat? Beberapa sumber menyebutkan, hal tersebut merupakan bentuk apresiasi pemilik warung karena mereka tidak perlu repot untuk mencuci piringnya. Pemilik warung juga paham, jika nasi padang dibungkus, kemungkinan akan disantap beramai-ramai karena di daerah Minangkabau ada sebuah budaya yang bernama makan bajamba atau bisa diartikan “makan bersama”.





