Dalam lanskap sejarah intelektual Islam di Minangkabau, telah lama diakui bahwa wilayah ini merupakan salah satu epicentrum transmisi keilmuan. Tradisi thalab al-‘ilm tumbuh melalui jaringan surau yang berfungsi sebagai institusi non-formal education, tempat berlangsungnya proses ta‘līm, tarbiyah, dan internalisasi nilai-nilai keislaman. Namun, dalam dialektika sejarah, terjadi apa yang dapat disebut sebagai decline of intellectual tradition, di mana perhatian terhadap keilmuan Islam kian meredup, berbanding terbalik dengan menguatnya religiositas instan yang kurang berakar pada turāth (warisan keilmuan klasik).
Fenomena ini dapat dibaca sebagai siklus historis apakah ia merupakan fase nadir sebelum kebangkitan kembali (tajdīd), atau justru indikasi krisis epistemologis, tetap menjadi pertanyaan terbuka. Yang jelas, melemahnya orientasi terhadap ‘ilm telah berdampak pada erosi identitas generasi muda, yang semakin tercerabut dari memori kolektif tentang kegemilangan Islam di ranah ini.
Pada masa lalu, otoritas keilmuan seorang Urang Siak (santri) tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh lokus pedagogis tempat ia menimba ilmu. Surau-surau seperti Tobek Godang dikenal sebagai pusat dirāsah yang melahirkan ahli fiqh, ushul, lughah, dan tasawuf, sementara Candung membentuk figur-figur faqih dengan kedalaman istinbath hukum. Yang kalau dibaca pada kerangka epistemic recognition, masyarakat telah memahami kualitas intelektual seseorang hanya dari afiliasi institusionalnya.
Tidak mengherankan, penyebutan tempat seperti Mungka pun dahulunya memunculkan otoritas simbolik yang membuat orang enggan berdebat, karena asosiasi langsung dengan ulama berderajat ‘allāmah. Mengingat kembali jaringan pusat keilmuan ini bukan sekadar nostalgia, tapi sebuah upaya rekonstruksi historis untuk menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi Islam Minangkabau.
Oleh karena itu, penulis mencoba menghimpun kembali nama-nama dari tempat tersebut, yang mana nama dari tempat tersebut, penulis dengar dari orang tua-tua dan ulama-ulama sepuh yang pernah penulis kunjungi di sepanjang perjalanan dalam menziarahi pusara-pusara ulama besar di alam Minangkabau ini.
- Taram
Terdapat beberapa surau terkemuka di negeri Taram (Luhak Limo Puluah), antara lain Surau Tuo yang saat ini menjadi pusat ziarah. Selain itu juga terdapat beberapa ulama besar yang bermukim di daerah ini, antara lain Syekh Ibrahim Mufti atau yang masyhur dengan “Baliau Taram” yang hidup sekitar abad 17. Selain itu terkenal nama Syekh Surau Durian dan Syekh Sungai Ameh. Mereka ialah tokoh-tokoh ulama yang masyhur di abad 19 terutama dalam ilmu tasawuf. Berbilang ratusan Urang Siak (santri) yang belajar agama di Taram, sehingga Taram menjadi salah satu pusat agama terkemuka di Pedalaman Minangkabau saat itu. - Batuhampar
Batuhampar dikenal sebagai pusat ilmu al-Qur’an/ Qira’at Tujuh serta ilmu tasawuf (Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah) sejak abad 19 hingga pertengahan abad 20. Secara turun temurun Syekh Batuhampar hingga anak cucunya menjadi ulama besar yang berpengaruh luas bukan hanya di Minangkabau, namun hingga semenanjung Malaya. Syekh Batuhampar atau Baliau Batuhampar tersebut ialah Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (wafat dalam usia 120 pada 1899). Setelah beliau wafat, anaknya yang ‘alim ‘allamah yaitu Syekh Muhammad Arsyad menjadi tokoh agama. Setalah itu Syekh Muhammad Arifin, salah seorang sesepuh dan pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), dan lain-lainnya. Batuhampar adalah salah satu pusat keilmuan terbesar dan terlengkap di zamannya. Surau Batuhampar disebut Kampung Dagang (negeri perantau) yang terdiri dari puluhan surau-surau tempat Urang Siak menimba ilmu pengetahuan Islam. Lebih dari seribu Urang Siak tercatat belajar agama di Batuhampar setiap tahunnya. Mereka, selain belajar al-Qur’an dan ilmu-ilmu lainnya, juga menimba ilmu Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. - Barulak
Di Barulak terdapat surau besar yang masyhur di abad 19. Surau itu dipimpin oleh ulama terkemuka yang lepas belajar di Mekah mengabdikan dirinya mengajar agama di sana. Ulama tersebut ialah Syekh Muhammad Thahir Barulak. - Tungkar
Dalam catatan Belanda abad 19, disebutkan bahwa terdapat sebuah surau di Tungkar yang menjadi pusat keilmuan Islam khususnya dalam keilmuan Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Ulama besar yang bermukim di Tungkar ialah Syekh Muhammad Jamil atau yang masyhur dengan “Baliau Tungkar”. Berbilang ratusan Urang Siak belajar di Tungkar, di antaranya menjadi ulama besar dikemudian hari. Murid-murid Syekh Tungkar antara lain Syekh Abu Bakar Tobiang Pulai, Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka, dan Syekh Abdullah Halaban Payakumbuh. - Banuhampu
Banuhampu terletak pada posisi strategis di Fort de Kock (Bukittinggi). Pada abad 19, Banuhampu sangat harum namanya kemana-mana negeri, karena disana bermukim ulama besar yang mempunyai murid beratus-ratus. Ulama tersebut lama belajar di Mekah, dan membawa perubahan pada sistem belajar di surau yaitu disesuaikan nya dengan sistem belajar di Masjidil Haram Mekah. Nama ulama tersebut belum dapat dikenal, namun hanya dikenal dengan sebutan takzim “Baliau Banuhampu”. Banyak ulama abad 20 yang berziarah ke makam beliau tersebut. - Kumpulan
Kumpulan adalah salah satu pusat Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang berpengaruh luas dan sangat dihormati di pulau Sumatra. Disana, tepatnya pada abad 19 hingga paruh pertama abad 20 bermukim ulama besar yang kharismatik, yaitu Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan (wafat dalam usia 150 tahun pada 1914) atau yang lebih dikenal dengan panggilan “Baliau Kumpulan”, “Angguik Balinduang”, atau “Ayah Kumpulan”. Ratusan Urang Siak belajar di Surau Kumpulan, tak terbilang pula ulama-ulama besar yang secara khusus belajar Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Kumpulan. - Padang Jopang
Surau Gadang Padang Jopang adalah salah satu pusat intelektual Islam di uhak Limo Puluah pada abad 19. Disana bermukim ulama besar, yaitu Syekh Abdullah Padang Jopang (wafat tahun 1903) atau yang dikenal dengan “Baliau Surau Gadang”. Banyak murid-murid beliau yang menjadi ulama besar dikemudian hari, antara lain Syekh Jalaluddin Engku Karuang Sicincin Payakumbuh, anaknya sendiri yaitu Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah. - Kumango
Kumango adalah pusat ilmu Thariqat Naqsyabandiyah dan Thariqat Sammaniyah. Tepatnya di Surau Subarang, Syekh Abdurrahman atau yang dikenal dengan sebutan “Baliau Kumango” mengajarkan ilmu thariqat dan silat tradisional (Silat Kumango). Nama Surau Subarang sangat masyhur dikalangan Urang Siak terutama mereka yang mendalami tasawuf. - Padang Kandih
Di Padang Kandih bermukim Syekh Muhammad Saleh (wafat 1912) atau yang masyhur dengan “Baliau Munggu”. Beliau ‘alim ‘allamah dalam ilmu syari’at, yang mencakup fiqih dan lain-lain. Begitu juga dalam ilmu hakikat, mencakup Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Berbilang ratusan Urang Siak datang belajar ke Padang Kandih, yang mana bukan hanya datang dari seantero negeri Minangkabau, namun juga dari Tanah Malaya. Diantara murid-murid Syekh Muhammad Saleh yang masyhur sebagai ulama yaitu Syekh Abdul Wahid Assalihi (anak beliau sendiri), Syekh Mudo Abdul Qadim Balubuih, dan Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang. - Limbukan
Pusat keilmuan Islam terkemuka di Limbukan yaitu Surau Syekh Muhammad Thaha (wafat 1912). Syekh Muhammad Thaha (ayahanda dari Ustazd Nasharuddin Thaha) atau dikenal dengan sebutan “Baliau Limbukan” atau “Ayah Limbukan” ini ialah ulama yang alim dalam berbagai cabang keilmuan Islam, menonjol dalam ilmu Thariqat Naqsyabandiyah yangmana beliau memperoleh ijazah dari “Baliau Sungai Dareh”. Murid-muridnya banyak berdatangan dari berbagai pelosok Minangkabau, antaranya dari Bayang, Pesisir Selatan. - Mungka
Mungka, pusat keilmuan Islam diakhir abad 19 hingga paruh pertama abad 20. Di sana bermukim Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi (wafat 1922) atau yang dikenal dengan “Baliau Surau Baru” atau “Baliau Mungka”. Beliau merupakan ulama yang sangat ‘alim dalam fiqih, ushul, dan tasawuf. Beliau juga dikenal sebagai pembela Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah terkemuka di Nusantara. Bertahun-tahun beliau belajar dan mengajar di Mekah sebelum mengabdikan diri mengajar agama di Mungka Payakumbuh. Di surau beliau, Surau Baru, beliau mengajarkan kitab-kitab berat dalam fiqih dan tasawuf, seumpama Tuhfatul Muhtaj (9 jilid besar), Ittihaf Sadat al-Muttaqin (10 jilid besar), kitab-kitab hadis yang besar-besar dan lain-lainnya. Ribuan murid-murid berdatangan dari berbagai pelosok Sumatera termasuk dari Semenanjung Malaya untuk belajar ke Mungka. Selain itu ratusan ulama berkunjung ke Mungka untuk memperdalam ilmu agama. Syekh Sa’ad dikabarkan senang bercakap-cakap dengan muridnya dengan berbahasa Arab. Salah satu muridnya yang menjadi tokoh nasional yaitu Prof. H. Mahmud Yunus, ulama dan tokoh pendidikan yang masyhur. - Tobek Godang
Ratusan Urang Siak belajar agama ke Tobek Godang, kehadapan Syekh Abdul Wahid Assalihi (wafat 1950) atau “Baliau Tobekgodang”, untuk menimba ilmu-ilmu keislaman terutama fiqih, ushul fiqih, dan tasawuf. Pada kelas tertinggi murid-muridnya telah dapat membaca dan memahami kitab-kitab berat seumpama Tafsir Jamal Jalalain (4 jilid), Mughni Muhtaj (4 jilid besar) dan lain-lainnya. Banyak murid-murid Syekh Abdul Wahid yang menjadi ulama besar dan tokoh nasional, salah satunya yaitu Abuya KH. Rusli Abdul Wahid, ulama nasional yang pernah menjadi Menteri Urusan Irian Barat di masa Presiden Sukarno. - Balubuih
Balubuih ialah pusat Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Thariqat Sammaniyah terkemuka di pedalaman Sumatra Tengah setelah Kumpulan. Ulama besar yang bermukim disini ialah Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Balubuih (wafat 1957). Murid-muridnya banyak berdatangan dari berbagai pelosok negeri, bahkan dari Malaya dan Thailand. Banyak juga ulama-ulama besar yang khusus datang ke Balubuih untuk mengaji Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Thariqat Sammaniyah. - Canduang
Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Canduang (wafat 1970) ialah tokoh ulama, pendidik, dan pejuang yang terkemuka. Beliau masyhur ‘alim dalam ilmu fiqih dan teguh memegang prinsip-prinsip agama. Selain dalam fiqih, beliau juga mengajar Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan menjadi pembelanya. Banyak murid-murid beliau yang kemudian menjadi ulama di berbagai pelosok negeri, bahkan diantara murid-muridnya ini membuka sekolah agam sehingga terbentuk jaringan sekolah agama di Sumatera Tengah yang berhulu ke Candung. - Jaho
Lama Syekh Muhammad Jamil Jaho belajar dan mengajar di Mekah, hingga beliau pulang ke kampung halamannya, Jaho, Padangpanjang, dan membuka Madrasah (Pesantren) yang didatangi ratusan murid dari berbagai pelosok Minangkabau. Beliau sangat ‘alim dalam ilmu bahasa Arab, sehingga dalam halaqah pengajiannya dipelajari kitab-kitab berat dalam ilmu Nahwu Sharaf seperti Shabban Asymuni (4 jilid besar) sebagai hasyiyah dari Syarah Kitab Alfiyah Ibnu Malik. Selain itu beliau sangat fasih berbicara Arab Fushah dan mengarang dalam Bahasa Arab. Banyak karangannya dalam berbagai bidang keilmuan, antara lain tasawuf, nahwu, tauhid, dan lain-lainnya. Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar di berbagai belahan Sumatera. - Tiakar
Tiakar Payakumbuh menjadi tenar dan masyhur setelah Syekh Ibrahim Harun atau yang dikenal dengan “Baliau Bomban” membuka surau dan mengajar. Banyak murid-murid berdatangan ke Tiakar guna menuntut berbagai macam ilmu agama, termasuk juga mempelajari Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Syekh Ibrahim Harun sendiri seorang yang ‘alim lagi saleh, gemar membaca Dala’il Khairat setiap harinya. Salah seorang muridnya yang kemudian menjadi ulama besar dan pemimpin pesantren terkemuka yaitu Syekh Ali Amran Ringan Ringan (lahir 1926), pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan Pariaman, yang saat ini masih sehat wal afiyat dalam usia sepuhnya.
Selain dari tempat-tempat tersebut, masih banyak lagi lainnya. Namun kita cukupkan sedemikian, sebagai pengingat sahaja.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.