Tahukah Anda? Ada seorang akademisi bernama Apria Putra yang merupakan Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, dirinya telah berdedikasi besar menyelamatkan kurang lebih 350 naskah ulama Minangkabau, hingga dilirik para peneliti dari dalam negeri, dan luar negeri seperti; Belanda, Itali, dan Malaysia.
Sosok
Jejak Syekh Muhammad Zain Simabur: Dari Tradisi Surau ke Otoritas Mufti di Tanah Malaya
Nama Syekh Muhammad Zain bergema pelan dalam historiografi Islam Minangkabau, namun pengaruhnya menjangkau paruh pertama abad ke-20. Ia hidup pada masa ketika tradisi pengajian klasik berhadapan langsung dengan arus pembaruan. Meski jejak biografis ulama kaum tuo ini tak banyak terdokumentasi, reputasi keilmuannya diakui oleh sezaman. Ia berdiri sejajar dengan para ulama tua terkemuka seperti Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli sebuah generasi yang memikul tanggung jawab menjaga kesinambungan ilmu-ilmu turats di tengah perubahan sosial yang cepat.
Di Tengah Polemik Kaum Tua–Kaum Muda: Peran Apologetik Syekh Harun Toboh
Di awal abad ke-20, ketika Minangkabau menjadi arena silang pendapat antara kaum Tua dan kaum Muda, nama Syekh Harun Toboh Pariaman muncul sebagai salah satu figur penting yang menjaga barisan tradisi. Ulama asal Toboh, Pariaman, ini dikenal bukan karena riwayat hidupnya yang gemerlap, melainkan karena karya-karyanya yang kokoh membentengi paham keagamaan lama.
Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas
Tak sedikit orang yang heran, kenapa anak “Badung” dari Pandam Gadang itu bisa begitu cerdasnya. Padahal hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain saja. Kalau tidak layang-layang, sepakbola, pasti berenang di sungai. Pada malam hari akan habis waktu untuk mengaji, bersilat, dan tidur di surau. Keheranan itu juga dirasakan oleh para gurunya di Sekolah Kelas Dua (sebutan sekolah untuk rakyat biasa). Dengan kecerdasan itu, para gurunya di Sekolah Kelas Dua itu menyarankan agar sekolah Tan mesti dilanjutkan. Mereka merekomendasikan Tan untuk lanjut bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Anak pegawai rendahan itu kemudian masuk ke Sekolah Raja. Sekolah yang memang diciptkan untuk anak-anak bangsawan, ningrat, dan pegawai tinggi Belanda. Syahdan, Tan Malaka dilepas para tetua kampung. Bukittinggi kemudian menjadi rantau pertamanya.
Syekh Mahmud Abdullah: Ulama Besar Asal Tarantang, Harau, yang digelari “Baliau Tarantang”
Al-‘Alim Al-Allamah Al-Mutafannin Al-Shufi Syekh Mahmud Abdullah atau yang lebih masyhur dengan sebutan "Baliau Tarantang", merupakan salah seorang ulama ahli dalam banyak hal di Luhak Limo Puluah, beliau merupakan ulama yang memiliki dedikasi besar dan tak ternilai...
Syekh H. Amin dan Warisan Ruhani dari Taeh Bukik
Di pedalaman Luhak Limo Puluah, tepatnya di Nagari Taeh Bukik, nama Syekh H. Amin masih disebut dengan takzim. Ia lahir sekitar 1915 dan wafat pada 1978, namun jejaknya tak lekang oleh waktu. Masyarakat mengenangnya sebagai shahibul karamah sebutan bagi sosok yang...





