Perkenalkan, ia bernama Al Fikri bergelar Malin Basa, seorang alumnus Program Studi Hukum Tata Negara, UIN Imam Bonjol Padang, semasa kuliah dirinya pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum UKM Surau Konstitusi, dan menaruh minat pada konsentrasi persoalan adat dan budaya, ia berasal dari Magek, Kab. Agam. Fikri tergolong mahir menuturkan pasambahan.
Sosok
Rabithah di Pangkal Dendang: Misi Sunyi Andrianto untuk Menjaga Sijobang
Namanya Andrianto, orang-orang memanggilnya Andi atau Anto. Saat aku sampai, dia telah berdiri menungguku di simpang rumahnya. Pria kurus berkulit cokelat itu memakai baju hijau dan celana dasar hitam. Sebuah peci bertengger di kepala, memberikan kesan alim pada sosoknya yang murah senyum.
Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?
Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.
Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau
Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.
Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London
gel mengisi masa pendidikannya dengan mempelajari studi klasik, serta mengikuti kursus bahasa Rusia saat menjalankan wajib militer di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Saat dewasa, Nigel memulai kariernya dengan bekerja di Bank of England selama empat tahun sebelum akhirnya pindah ke Central Office of Information. Sejenis dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di negara kita.
Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo
Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Laweh Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo.





