Opini

Mencari Pintu Surga yang Hilang: Catatan Kritis Atas Erosi Bakti di Negeri Seribu Menhir

Mencari Pintu Surga yang Hilang: Catatan Kritis Atas Erosi Bakti di Negeri Seribu Menhir

Kabupaten Lima Puluh Kota belakangan ini tampak begitu aestheticdi permukaan. Dari deretan kafe kekinian di Harau hingga gemerlap lampu di pusat-pusat keramaian baru, daerah ini seolah sedang merayakan kemajuan. Namun, di balik polesan luar yang memikat, tersimpan bara kegelisahan yang mulai membakar fondasi sosial. Sebagai negeri pemegang marwah bungo sitangkai, rentetan fenomena viral belakangan bukan sekadar dinamika biasa. Kita sedang menyaksikan sebuah “anomali peradaban”, kondisi di mana kemajuan pariwisata serta kecepatan internet tidak berbanding lurus dengan ketahanan mental serta kualitas manusianya.

Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan

Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan

“Sekarang banyak anak-anak Minang yang mengagumi Tan Malaka. Dikit-dikit menganalisa satu bangsa satu negara dengan kaji pemikiran Tan Malaka. Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan. Dia pernah aktif di dalam PKI, iya. Kemudian dia keluar. Dia pernah aktif di dalam Partai Murba, tapi itu partai kecil. Tapi kalau kita lihat seperti kaliber Natsir; dia politisi, dia negarawan, dia diplomat. Dia masuk ke jantung pemerintahan. Dia menjadi Menteri Penerangan. Dia pernah menjadi Perdana Menteri. Ya. Sehingga kata Bung Hatta ya, Sukarno tidak akan membaca surat jikalau surat itu dibaca oleh Natsir. Sukarno tidak akan men-draft surat, ya dalam pidato-pidato taklimatnya, kalau itu tidak dibaca atau dikoreksi oleh Natsir.”

Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

Pada sebuah cuplikan potongan ceramah yang diupload (10/05/26) oleh akun @sutan.malin.khatib terlihat seorang yang diketahui bernama Hadi Nur Ramadhan memberikan penjelasan dan terkesan membanding-bandingkan antara Natsir dan juga Tan Malaka dan terlihat menyudutkan peran kenegaraan Tan. Di samping itu, terlihat jelas dalam penjabarannya ia telah mengidap beberapa kecacatan dalam berpikir.

Tumbal Digitalisasi: Mengapa Anak Nagari Harus Menembus Hujan demi Mencari Sinyal?

Tumbal Digitalisasi: Mengapa Anak Nagari Harus Menembus Hujan demi Mencari Sinyal?

Mana kerja nyata para anggota DPRD, begitu juga Bupati serta Wakil Bupati yang dulu waktu kampanye rajin datang minta suara ke kampung kami? Sedari dulu jalan hancur dan sinyal tidak ada, tuan-tuan seolah hilang ditelan bumi. Jangan hanya pandai berlagak hebat saat memberi sambutan di acara formal saja. Rakyat tidak butuh pidato manis atau janji yang mengawang ke langit. Rakyat butuh jalan yang bagus dan internet yang lancar. Kalau internet saja tidak punya, jangan paksa anak sekolah ujian pakai sistem digital. Itu namanya memaksakan kehendak tanpa modal.

Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI

Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI

Rega memiliki hipotesa bahwa penggunaan kata “Padang” ialah akibat “kekalahan” pihak PRRI (Minangkabau) terhadap pemerintah pusat dan ketakutan akan labeling “pemberontak” membuat orang Minang yang eksodus besar-besaran ke luar Minangkabau lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata “Minang” membuat mereka gamang. Dan pasca PRRI tersebut, kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Namun, Rega tidak memberikan referensi mengenai hal tersebut. Apakah memang sesederhana itu?