Opini

Kedaulatan Rakyat di Tengah Kuasa Partai

Kedaulatan Rakyat di Tengah Kuasa Partai

Demokrasi Tidak Cukup Hanya dengan Pemilu

Ada kegelisahan yang layak kita renungkan: siapapun yang memimpin negeri ini, Indonesia tidak akan banyak berubah selama kedaulatan rakyat terlalu jauh berada di bawah kendali partai politik. Kalimat itu memang terdengar keras. Namun, daripada buru-buru menolaknya, lebih baik kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: setelah rakyat mencoblos dan pemilu selesai, sebenarnya siapa yang memegang kendali atas kekuasaan?

Habis Asap Terbitlah Sawit

Habis Asap Terbitlah Sawit

Selain menonton pertunjukan, saya juga mengamati pameran seni di perhelatan Jong Bataks Arts Festival #12 di kota Medan pada penghujung tahun 2025 lalu. Salah duanya adalah pameran dari Nonblok Ekosistim, Pekanbaru, Riau. Dari gedung pertunjukan, saya mengikuti instruksi MC untuk segera menuju ke ruang pameran. Sembari menunggu petunjuk selanjutnya saya dan pengunjung lainnya yang didominasi oleh anak-anak sekolah, ikut mengantri di halaman. Saya memperhatikan anak-anak sekolah itu. Tiap sebentar mereka bergaya di depan Hp masing-masing. Mereka tampak seolah tak kuasa untuk menahan diri untuk memotret banyak hal. Tentu saja juga memotret diri mereka sendiri. Mengambil video diri, terkadang juga sambil berjoget-joget.

Mengapa Tan Malaka Masih Perlu Ada?

Mengapa Tan Malaka Masih Perlu Ada?

Sebuah balasan atas kegugupan Pak Ferry Hidayat terhadap Tan Malaka dalam tulisan ”Menjilat Jilat Madilog dengan Kesumat”

Membaca tanggapan Pak Ferry Hidayat yang sarat dengan gejolak afektif membuat saya menyadari satu hal: betapa beratnya beban emosional seseorang ketika konstruksi akademisnya diuji di ruang publik.

Membongkar Amnesia Digital Sejarah: Mengapa Narasi Luar tentang Minangkabau Kerap Keliru?

Membongkar Amnesia Digital Sejarah: Mengapa Narasi Luar tentang Minangkabau Kerap Keliru?

Bagi saya yang tumbuh dalam persilangan kultural—mengalir darah Minangkabau namun dibesarkan dalam iklim perantauan yang kompleks—melihat Ranah Minang dari kejauhan hari ini mendatangkan kecemasan tersendiri. Di era ketika algoritma media sosial lebih menyukai sensasi ketimbang akurasi, kebudayaan Minangkabau yang kokoh kini tengah menjadi sasaran empuk dekonstruksi narasi dari luar. Ada upaya sistematis, baik disadari atau tidak, yang berusaha mengkerdilkan tatanan sosiokultural Urang Awak. Narasi ini berkembang dari yang semula menyerang fondasi filosofis, kini bergeser menjadi upaya penggugatan memori kolektif melalui simplifikasi sejarah yang akut.