Akhir-akhir ini sebagian yang mengikuti sedang dihadapkan pada polemik perdebatan panas tentang status Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Araby, mulai dari yang mengatakan beliau qutubul ghaust sampai pada yang mengkafirkan. Sebenarnya aku tidak terlalu suka untuk menulis ini, karena aku tidak merasa bahwa medsos tempat yang tepat membahasnya, kalaupun ada ya tipis aja, bukan tujuan berdebat, adapun diskusi tentu saja aku melakukannya, tapi dikalangan khusus saja, mempertajam bahasa.
Opini
Rumah yang Diminta Berdandan
“Apa yang bisa ditonton di sini?”
Pertanyaan itu hampir selalu terdengar pertama kali saat sebuah desa atau nagari mulai sering didatangi orang luar. Terdengar biasa, bahkan ramah. Tapi kalau diperhatikan agak dalam, ada cara pandang yang diam-diam bergeser. Tempat yang selama ini dihidupi warga sehari-hari (dengan segala ingatan, benih tanaman, olahan dapur, aturan hutan, hingga ritualnya) tiba-tiba dituntut buat menjelaskan dirinya sekadar sebagai tontonan. Warga tidak lagi ditanya bagaimana kabar ruang hidup mereka, tapi apa yang layak dijual atau dipamerkan ke tamu.
Tan, Islam, dan Kesalahan Membaca Komunisme
Perdebatan mengenai Islam dan Marxisme memang sering kali berhenti pada kesimpulan yang terlalu sempit, Islam adalah agama, sedangkan Marxisme adalah materialisme, maka keduanya pasti bertentangan. Dari logika sederhana ini lahir juga tuduhan bahwa seorang Marxis atau mungkin juga komunis dengan sendirinya adalah anti-agama. Jika kita lihat dalam sejarah, penjelasannya tidak sesederhana itu.
Ketika Asap Mengepul, Kepala Daerah Dharmasraya Justru Cuti: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Dharmasraya di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk, terasa kepala memilin, memilin yang tak cukup disebabkan oleh beban hidup tetapi juga disebabkan karena kelalaian negara.
Kenapa Kelompok Islam Politik Sering Gagal Mendapat Simpati Mayoritas Umat Islam?
Ada satu masalah kenapa kelompok islam politik atau harakiyun itu jarang mendapat simpati penuh dari mayoritas umat islam, baik yang sunni atau syiah, yaitu sifat eksklusif mereka, mereka merasa bahwa yang sedang memperjuangkan islam ya mereka sendiri, dimana jika ada orang yang melakukan sesuatu ke arah yang berbeda dengan kebijakan mereka atau berpendapat berbeda dengan arah politik mereka, mereka akan nyinyir dan menyerangnya, berbagai stempel disematkan mulai dari pengkhianat, musuh islam, munafikun, bahkan sampai pada level pengkafiran.
Sebuah Epilog: Tahāfut al-Tahāfut atas Konstruksi Sejarah dalam Konten Alwandi @nusa.angka Mengenai Sejarah Minangkabau
Terus terang, saya menyambut baik munculnya tanggapan baru dari Ammar Alwandi melalui akun @nusa.angka. Setidaknya, tanggapan tersebut memberi kesempatan untuk menguji (kembali) dasar dari sejumlah klaim sejarah yang sebelumnya ia sampaikan kepada publik.





