Opini

Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”

Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”

Kalau bicara politik Sumatera Barat, rasanya memang susah dipisahkan dari agama dan budaya. Dari dulu urang awak tumbuh dekat dengan surau, musyawarah, dan nilai ABS-SBK yang “indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.” Mungkin itu sebabnya politik di Sumbar terasa berbeda dibanding banyak daerah lain. Politik bukan cuma soal perebutan kekuasaan, tapi juga soal kedekatan nilai antara pemimpin dan masyarakat urang awak.

Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang diisi beragam pemikiran, gagasan, peristiwa dan kronik antar manusia yang khas dan pelik. Kita hidup dalam sejarah itu, dalam segala kepelikan dan kekhasannya. Manusia masa kini mencari teladan dari sejarah, dari peristiwa dan dari tokoh di masa lampau. Kini kita dapat menyebut nama dari kelampauan sejarah kita, Mohammad Natsir dan Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau lebih sohor dikenal sebagai Tan Malaka.

Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said

Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said

Di antara banyak tokoh besar dari Minangkabau, ada dua nama perempuan yang sama-sama dikenang sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Rahmah El Yunusiyah dan muridnya, Rasuna Said. Bagi sebagian orang, kisah keduanya mungkin sudah sering didengar. Namun bagi saya, Gen-Z Minang yang masih belajar memahami sejarah tokoh-tokoh dari tanah sendiri, hubungan guru dan murid ini justru memunculkan banyak pertanyaan yang tidak sederhana.

Setelah Tan dan Natsir, Mau Ngapain?

Setelah Tan dan Natsir, Mau Ngapain?

“Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan…”. Tentang pemikiran Tan Malaka dan kaitan nya dengan masuk dalam pemerintahan sudah dibahas panjang lebar oleh saudara Habiburrahman dengan semangat yang berapi – api. Ini bukan soal romantisme saya kira, ini soal mendudukkan pemikiran Tan Malaka dan Natsir melalui konteks sejarah berdasarkan sumber primer dan otoritatif. Dengan mendudukkan kedua nya melalui konteks sejarah akan menempatkan nya dengan seimbang. Seperti diketahui, sejak 1966 pemerintah Orde Baru melakukan kekerasan budaya melalui kampanye anti komunis. Sehingga buku – buku kiri, terindikasi komunis, dilarang beredar, disebarluaskan, didiskusikan. 

Tan dan Pak Natsir di Media Sosial

Tan dan Pak Natsir di Media Sosial

Tak ada gulir layar hape yang membuat penulisberhenti relatif lama menelusuri setiap untaian kalimatdi media sosial, kecuali kala membaca soal Tan dan Pak Natsir baru-baru ini. Seakan penulis ditarik kembali pada praktik diskursus intelektual yang entah kapan, rasanya sudah lama sekali, telah berhenti di Sumatra Barat.

Ketika Natsir dan Tan Malaka Kembali Menghidupkan Budaya Intelektual yang Telah Lama Hilang

Ketika Natsir dan Tan Malaka Kembali Menghidupkan Budaya Intelektual yang Telah Lama Hilang

Belakangan ini saya sedang asyik menyimak perdebatan yang terjadi di akun instagram @rundiang.id mengenai dua tokoh besar Minangkabau yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Perdebatan bermula ketika Habibur Rahman membuat tulisan berjudul ”Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir.” Dalam tulisannya, Habibur Rahman mengkritik isi video Hadi Nur Ramadhan yang cenderung membandingkan sosok Natsir dan Tan Malaka. Kemudian, Devy Kurnia Alamsyah juga turut mengkritik Hadi Nur Ramadhan melalui tulisannya yang berjudul ”Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan.”