“Manggantang Asok” Kanda, Dinda, dan Bijinda.

oleh | Feb 26, 2026 | Opini

Sebagai salah satu yang hadir pada Haul Tan Malaka di Pandam Gadang pada 22 Februari lalu, saya tidak merasakan kegiatan ini dengan gegap gempita, apalagi seperti kritik yang dibuat oleh bijinda kita, Azmi. Kritik yang menurut pikiran saya lebih bernuansa normatif dan moral. Namun yang paling menarik adalah argumennya yang menilai bahwa seremoni tersebut keliru secara logika, adat, dan politik. Sungguh menyentuh!

Saya pun mencoba membayangkan tulisan tersebut, masuk ke dalam pikiran bijinda, dan mungkin ia akan menulis, “Mereka mengarak namamu seperti panji, namun memotong pemikiranmu seperti pamflet yang dilarang. Di panggung kehormatan, elite politik menyalakan lilin seremonial, namun di ruang kekuasaan mereka memadamkan api kesadaran yang kau nyalakan. Tan Malaka dijadikan patung yang dibersihkan setiap peringatan, sementara ajarannya dijadikan debu yang disapu ke dalam kolong rapat-rapat tertutup.”

“Ini baru pertama kali saya ke rumah Tan Malaka dan tahu tentang sejarahnya di umur 53 tahun ini,” ucap Bupati saat acara ramah tamah. Pengakuan ini menunjukkan pekerjaan rumah besar bagi kita untuk membumikan pemikiran Tan Malaka di Luak Nan Bunsu. Maka, sangat tidak bijak jika kita mengkritik elit dengan ketidaktahuan akan sejarah Tan Malaka.

Bagi Bijinda, yang dengan semangat berapi-api melihat Tan Malaka kini menjadi ikon bagi generasi Milenial dan Gen Z, namun sulit diterima oleh generasi yang lebih tua, Tan Malaka tetap dianggap sebagai sesuatu yang asing. Belasan tahun yang lalu, mengunjungi rumah Tan di Pandam Gadang adalah keanehan bagi warga sekitar. Setiap teman yang datang dari luar Sumatra Barat selalu saya ajak ke sana. 32 tahun sejarah Tan Malaka diboikot oleh penguasa, bahkan tabu untuk membicarakannya dengan ancaman “Tidak BerTuhan.” Menerima kembali sejarah Tan Malaka membutuhkan waktu dan proses bagi para senior-senior di Luak Limo Puluah.

Menganggap barisan yang berdiri di depan makam saat haul adalah barisan elite, saya ikut mengambil andil dalam kegiatan tersebut. Bahkan, ketika prosesi menjemput Tan ke Selopanggung pada Februari 2017, saya juga ikut meskipun tidak dengan rombongan. Berdua dengan malakais Payakumbuh, kami melakukan touring sepeda motor Payakumbuh–Kediri PP. Merasakan gairah petualangan Tan di negeri sendiri, serta silaturahmi dengan teman-teman sepanjang perjalanan.

Mungkin bijinda hanya mendengar kabar angin tentang prostitusi anak sekolah, anak laki-laki SMP dan SMA yang melacurkan diri ke dunia homo, hingga Bundo Kanduang yang menjual anak perempuannya sendiri. Apakah ada resah dalam dada bijinda? Mengkritik memang menyenangkan, mengasah intelektualitas di dalam kepala, tapi bertindak dan melakukan hal baik kepada sesama adalah tindakan yang jauh lebih berharga.

Sebagai seorang guru, Tan Malaka bermimpi agar anak-anak di kampungnya memiliki otak yang bersinar. Anak-anak yang bermental superior, tidak tunduk atau takut kepada bangsa manapun, yang mampu bercakap-cakap dengan bangsa asing, dan bahkan mengisi kampus-kampus top dunia. Tan Malaka ingin membangun kampung yang maju dengan generasi yang berpikir kritis, bebas dari segala penjajahan.

Terakhir, untuk bijinda, mengkritik di ruang publik memang sah, namun jangan lupakan akar kita di kampung halaman. Meskipun bijinda sudah merantau dan memiliki pengalaman hebat, jangan tunjukkan “taji” kita kepada orang-orang kampung yang telah membentuk diri kita hingga hari ini. Jika semangat Tan Malaka benar-benar membara di dalam dada bijinda, mari bersama-sama merayakan ilmu pengetahuan karena hanya itulah yang dapat membebaskan kampung halaman kita dari belenggu kebodohan dan ketertinggalan.

Penulis:
Adal Bonai
(Wanderer)