“Manggantang Asok” di Pandam Gadang: Haul Tan Malaka, Teaterikal Elite, dan Kuasa Logika Mistika

oleh | Feb 23, 2026 | Opini

Di Ranah Minang, kita sangat akrab dengan pepatah: “Rami baralek dek nan mudo, rami tapian dek nan gadih” (Ramai pesta karena yang muda, ramai tepian mandi karena para gadis). Namun, apa jadinya jika keramaian itu justru diatur oleh barisan pembesar kekuasaan, tepat di atas pusara seorang bapak bangsa yang dulu dihabisi oleh republiknya sendiri?

Pemandangan ironis itulah yang terhampar di Pandam Gadang, Lima Puluh Kota, Minggu, 22 Februari lalu. Peringatan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka baru-baru ini dirayakan dengan gegap gempita. Acaranya digerakkan oleh elite daerah, mulai dari mantan Wakil Bupati yang membawa ‘makam’ dari Kediri, mantan Ketua DPRD, hingga kepala daerah petahana. Lengkap dengan prosesi tabur bunga dan penghormatan kaku ala militer.

Secara kasat mata, ini nampak seperti niat mulia “mambangkik batang tarandam” (mengangkat harkat martabat yang tenggelam). Namun, bagi nalar yang waras, seremoni ini tak lebih dari sekadar “manggantang asok” sebuah pekerjaan sia-sia, mengepulkan asap kosong tanpa isi dan substansi.

Tan Malaka melahirkan Madilog di tengah pelariannya untuk satu tujuan besar: membebaskan otak bangsa ini dari penjara “Logika Mistika”. Beliau muak melihat masyarakat yang menggantungkan nasib pada hal-hal gaib, takhayul, dan pengkultusan buta terhadap tokoh atau benda mati.

Ironisnya, memindahkan makam yang sejatinya hanya membawa bongkahan tanah lalu menjadikannya pusat ritual Haul, adalah wujud paling nyata dari logika mistika itu sendiri. Para elite ini sedang meracik “jimat sakti” untuk karir politiknya. Pusara sang tokoh dijadikan tempat mencari tuah. Rakyat disuruh takjub menatap gundukan tanah, tapi dijauhkan dari nyala api pemikiran radikalnya. Ibarat pepatah, “tungkek mambao rabah” (tongkat yang seharusnya menopang, justru ikut merebahkan). Alih-alih mencerahkan, elite malah memelihara kebodohan simbolis agar nama besar Tan Malaka menempel pada wibawa sang pejabat.

Dari kacamata ketatanegaraan, penghormatan ala militer dari para elite ini adalah komedi yang absurd. Tan Malaka adalah musuh bebuyutan feodalisme dan kemapanan. Beliau diburu, dicap pemberontak, dan pelurunya ditembakkan oleh tentara republik yang ia gagas sendiri.

Ketika para elite hari ini berbaris rapi melakukan penghormatan protokoler, mereka tidak sedang meluruskan sejarah. Mereka sedang melakukan penjinakan. Gagasan Tan Malaka yang liar dan menuntut keadilan, digunting rapi lalu dimasukkan ke sangkar emas penguasa. Seremoni ini membunuh aksi massa yang sadar dan menggantinya jadi teater jalanan yang dimainkan demi komoditas politik semata.

Jangan lupa, beliau adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka, seorang Pucuk Adat. Di Minangkabau, kepemimpinan seorang Datuk itu “duduk samo randah, tagak samo tinggi”, berpijak pada mufakat di balai adat, bukan titah dari atas ke bawah ala komandan di barak militer.

Menggelar upacara dengan sekat VIP yang tebal antara pejabat dan rakyat jelata di depan pusara Sang Datuk, adalah tamparan keras bagi adat kita. Bukannya merayakan kearifan Nagari yang membesarkan Tan Malaka, Haul ini malah memamerkan wajah birokrasi feodal yang mabuk kepangkatan. “Bak aia di daun kaladi”, pesannya tidak meresap ke akar rumput, hanya menumpang lewat di permukaan.

Bagi generasi muda di Lima Puluh Kota, parade elitis di Pandam Gadang ini bukan cuma omong kosong, tapi penghinaan terhadap akal sehat. Ketika kaum muda hari ini berdarah-darah mengurus realitas nagari mulai dari melestarikan kebudayaan yang nyaris punah, menjaga lingkungan dari eksploitasi, meletakkan fondasi pendidikan anak desa, hingga merajut kembali hukum adat yang tercabik di ratusan nagari para pembesar ini malah asyik main sandiwara di kuburan!

Pemuda Luak Nan Bungsu cuma diposisikan sebagai figuran pelengkap penderita yang tugasnya hanya disuruh bertepuk tangan. Tan Malaka menyuruh pemuda jadi motor penggerak yang kritis, bukan jadi kudo bendi (kuda delman) yang dikendalikan pakai kacamata kuda oleh para politisi kusam. Ruang dialektika dan perdebatan gagasan ditutup rapat oleh bisingnya sirene pejabat. Kalau begini caranya, alih-alih mewariskan api intelektualisme, tontonan murahan ini cuma mewariskan tradisi menjilat dan mencari muka di hadapan kekuasaan. Ini pengkhianatan paling telanjang terhadap nalar anak muda Luak Nan Bungsu!

Pada akhirnya, panggung Haul para elite ini murni pelarian dari tanggung jawab. Madilog menuntut tindakan nyata di lapangan. Tentu jauh lebih gampang dan murah menggelar seremoni megah satu hari, memobilisasi massa, dan menjual romansa masa lalu, daripada harus capek-capek turun tangan membedah persoalan hari ini.

Jika mereka benar-benar berniat menghormati Sang Datuk, panggungnya bukan di depan pusara dengan karangan bunga. Panggung sesungguhnya adalah keharusan blusukan dari nagari ke nagari, memberantas kemiskinan struktural, dan membangun masa depan anak cucu di Lima Puluh Kota.

Menghormati Tan Malaka berarti menyalakan kembali palito (pelita) nalar dan keberanian di kepala pemudanya, bukan membariskan mereka layaknya serdadu untuk memuja masa lalu. Selama para tokoh ini lebih sibuk main teater mistika, selama itu pula pemikiran Datuk Tan Malaka akan terus mati, terkubur di bawah tumpukan karangan bunga di tanah kelahirannya sendiri.

Penulis:
Muhammad Nurazmi Harza
(Mahasiswa Magister Hukum Universitas Andalas, Sekretaris DPD KNPI Kab. Lima Puluh Kota)