Kaji

Di Balik Sejarah Muhammadiyah Minangkabau: Ketika Sang Pelopor Tak Menolak Qunut Subuh

Di Balik Sejarah Muhammadiyah Minangkabau: Ketika Sang Pelopor Tak Menolak Qunut Subuh

Tulisan ini disarikan secara teliti melalui penelusuran heuristik terhadap kitab al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut (1938), karya monumental Hamka seperti ”Ayahku” dan ”Islam dan Adat Minangkabau”, dan juga sekumpulan literatur sejarah terkait, serta diperkuat oleh kesaksian oral history dari Abuya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno Batuhampar dan Abuya Drs. H. Abdul Jalal.

MADILOG, Buku Beracun Komunis

MADILOG, Buku Beracun Komunis

Untuk menilai konsistensi pemikiran seseorang, salah satu caranya ialah membaca semua karyanya secara kronologis. Dengan begitu, kita jadi tahu bahwa si Fulan, dari tahun ke tahun hidupnya, konsisten dengan pemikirannya. Jika pun pemikirannya berubah, maka perubahan pemikirannya gampang sekali teridentifikasi, karena terlihat dari tahun kapan ia menulis karyanya. Saya memakai cara kronologis ini untuk menilai konsistensi sikap kritis Tan Malaka terhadap agama-agama, yang tercermin dalam karya-karyanya, terutama MADILOG. Saya akan menelusuri isi karya-karya Tan Malaka yang ditulisnya sebelum ia menulis MADILOG dan setelah ia menulis MADILOG. Dari situ, akan nampak konsistensi kritisismenya terhadap agama-agama.  

Disungkuik Qur’an Tigo Puluah

Disungkuik Qur’an Tigo Puluah

Beberapa tahun lalu saya membaca sebuah buku baru tentang Minangkabau oleh sarjana Amerika Karl G. Heider. Judul bukunya: The Cultural Context of Emotion: Folk Psychology in West Sumatra (New York: Palgrave Macmillan, 2011). Buku ini adalah salah satu seri korpus publikasi tentang culture, mind, and society (budaya, pikiran, dan masyarakat).

Antara Sikap Keilmuan dan Adab

Antara Sikap Keilmuan dan Adab

Tulisan ini merupakan respon terhadap polemik yang kerap menyudutkan pengkritik pemikiran sufi sebagai pihak yang tak beradab. Penulis menegaskan pentingnya mendudukkan kritik keilmuan secara proporsional tanpa mengikis rasa hormat (adab) kepada para ulama. Melalui refleksi historis dan keteladanan para ulama terdahulu, dengan ini penulis nan faqir ini, berupaya memberikan sebuah esai guna mengajak pembaca membedakan ranah dialektika akademis dari persoalan adab maupun penentuan maqam kewalian seseorang.