Esai

Kedaulatan Rakyat di Tengah Kuasa Partai

Kedaulatan Rakyat di Tengah Kuasa Partai

Demokrasi Tidak Cukup Hanya dengan Pemilu

Ada kegelisahan yang layak kita renungkan: siapapun yang memimpin negeri ini, Indonesia tidak akan banyak berubah selama kedaulatan rakyat terlalu jauh berada di bawah kendali partai politik. Kalimat itu memang terdengar keras. Namun, daripada buru-buru menolaknya, lebih baik kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: setelah rakyat mencoblos dan pemilu selesai, sebenarnya siapa yang memegang kendali atas kekuasaan?

Membongkar Amnesia Digital Sejarah: Mengapa Narasi Luar tentang Minangkabau Kerap Keliru?

Membongkar Amnesia Digital Sejarah: Mengapa Narasi Luar tentang Minangkabau Kerap Keliru?

Bagi saya yang tumbuh dalam persilangan kultural—mengalir darah Minangkabau namun dibesarkan dalam iklim perantauan yang kompleks—melihat Ranah Minang dari kejauhan hari ini mendatangkan kecemasan tersendiri. Di era ketika algoritma media sosial lebih menyukai sensasi ketimbang akurasi, kebudayaan Minangkabau yang kokoh kini tengah menjadi sasaran empuk dekonstruksi narasi dari luar. Ada upaya sistematis, baik disadari atau tidak, yang berusaha mengkerdilkan tatanan sosiokultural Urang Awak. Narasi ini berkembang dari yang semula menyerang fondasi filosofis, kini bergeser menjadi upaya penggugatan memori kolektif melalui simplifikasi sejarah yang akut.

Berkias dan Berkhianat pada Alam

Berkias dan Berkhianat pada Alam

Coba dengar cara orang Minang bicara. Hampir tidak ada nasihat, sindiran, atau teguran yang lepas dari kiasan alam. Kayu gadang, aie gadang, tapian, bukit, lauik, ranting, daun, aia mailia, gunuang semua dipinjam untuk bicara soal manusia, soal etika, soal kekuasaan. Bahasa adat Minangkabau bukan sekadar dihiasi alam, ia dibangun dari alam. Masyarakat yang begitu fasih berkias pada alam ini, dalam praktiknya termasuk salah satu daerah yang paling banyak dijumpai perusakan sungai dan hutan melalui penambangan dan penebangan liar.

Indonesia 81 Tahun Merdeka, Mengapa Gagasan Negaranya Seperti Sedang Mengulang Masa Lalu?

Indonesia 81 Tahun Merdeka, Mengapa Gagasan Negaranya Seperti Sedang Mengulang Masa Lalu?

Ada yang terasa lucu dari negeri ini. Kita sudah 81 tahun merdeka, tetapi kadang cara negara berbicara kepada rakyat terdengar seperti Indonesia baru saja keluar dari pintu gerbang kemerdekaan. Pidato tentang kemandirian terdengar berulang-ulang—tentang rakyat harus makan, tentang koperasi, rumah, kebutuhan dasar, hingga kembali kepada kesederhanaan. Semua itu tentu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang agak kurang sopan untuk diajukan: setelah 81 tahun merdeka, kapan kita mulai benar-benar sibuk membicarakan masa depan?