Jika ingin mencari seorang mursyid, untuk suluk di jalan tasawuf sunni maka ada 4 syarat yang harus dimiliki, jangan sembarang mursyid, tidak semua orang bisa jadi mursyid, bahkan tidak semua wali boleh jadi mursyid, syarat mursyid adalah:
- Memahami Ilmu Fikih dan Akidah Zahir dan Istikamah Mengamalkan Amalan yang Tidak Melanggar Hal Ijmak
Tidak perlu di level ulama fikih atau ulama kalam, tapi minimal tahu dasar ilmu fikih, baik ibadat, ahwal syakhsiyah, muamalat, dan siyasah syariyah dan memahami akidah ahlusunnah secara dirayah, tahu mana yang wajib, yang mustahil dan yang jaiz bagi Allah dan Rasul-Nya. Kalau zaman sekarang kira-kira paham fathul qarib dan kharidah la. Karena dalam tarbiyah dan taslik, kadang guru memberi tugas seperti solat, puasa, jual beli, dll pada murid jadi kalau dia tidak tau dasar ilmu diatas maka jangankan diterima, shalat aja kadang tidak sah. Jadi hindari guru yang tidak tahu ilmu zahir sama sekali atau yang ga mundhabit dalam menjalankan ilmu zahir dengan melanggar ijma misalnya.
- Arif Billah
Mutahaqiq pada dirinya aqidah ahlussunnah baik dalam pengamalannya ataupun zauqnya dan juga syuhudnya, tentu saja semua harus sesuai dengan ilmu zahir tadi. Jadi zauq dan syuhudnya harus sesuai dengan aqidah ahlu zahir/ilmu aqidah, amalannya harus sesuai dengan amalan ahlu zahir/ilmu fikih. Jika sudah melanggar, walau dia kasyaf apapun jangan diterima, karena ilmu zahir atau syariat itu adalah kasyafnya Nabi Muhammad SAW, kasyafnya Nabi SAW itu makshum, sedangkan kasyaf dan syuhudnya selain Nabi itu bisa salah. Jika ada kasyaf yang bukan Nabi berbeda dengan Nabi, maka bisa dipastikan dia salah. Jadi jangan jadikan dia murabby, Nabi kok di adu ilmunya.
- Khabir/Punya Pengalaman dalam Tarbiyah dan Tazkiyah
Sehingga dia tahu di mana harus berhenti atau berjalan dalam sair, dan apa tantangan yang didapatkan di setiap tingkat, apa penyakit dan obatnya, dan mengetahui dari mana setan masuk serta bagaimana menjauh darinya, ini tidak bisa didapatkan kecuali dengan belajar qawaid tasawuf dari kitab yang muktamad, ditambah dengan pengalaman suluk bersama murabby, tapi tidak cukup dengan kitab tasawuf saja, karena dia tidak akan paham kenyataan yang dihadapi murid kecuali jika sudah mempraktekannya dihadapan murabby.
Sebagaimana tidak cukup hanya modal pengalaman suluk, karena dia butuh qawaid sebagai undang-undang agar tidak tersesat dan proses tazkiyah bisa tetap ilmiyah, ini didapatkan dari buku muktamad dalam tasawuf. Kalau salah satunya tidak ada jangan jadikan dia mursyid.
- Mendapatkan Izin untuk Irsyad/Menjadi Pembimbing Suluk dari Syekh yang Bersanad dan Muktabar / Diakui oleh Jama’ah Mutakhasis.
Jadi siapa yang mursyidnya tidak jelas sanadnya bersambung ke Rasulullah SAW satu persatu, maka jangan dijadikan mursyid, nah yang sanadnya dari mimpi ya jangan dijadikan mursyid, tafsir butuh takwil, jangan ditakwilkan sendiri. Siapa yang gurunya tidak diakui oleh ahlu ikhtisas yang masyhur maka jangan dijadikan mursyid, semastur-masturnya wali tapi para masyhurin masi mengenal dan mengakuinya la. Siapa yang belum dapat izin langsung dari mursyidnya untuk irsyad maka dia tidak boleh jadi mursyid, jadi Shirohige gak boleh jadi mursyid. Haha
Jika ada salah satu dari syarat ini hilang, maka jangan jadikan dia mursyid, walau dia bisa menghidupkan orang mati, bahkan jika dia disepakati sebagai wali, karena wali itu gak semua punya hak untuk jadi mursyid, bahkan jika dia hakikatnya punya maqam di dunia kewalian lebih tinggi dari para mursyid, tapi dia tetap tidak boleh dijadikan mursyid, karena sangat ramai orang yang punya maqam tinggi tapi tidak boleh dijadiin mursyid. Irsyad itu tugas, bukan level.
Selama ini banyak yang salah paham, dikira jika mursyid atau khalifah syekh itu punya maqam lebih tinggi dari yang bukan mursyid, ini salah kaprah, mursyid itu tidak ada kaitannya dengan maqam dan pangkat kewalian, mursyid itu cuma wadhifah atau tugas bagi yang punya spesialisasi disitu, jadi bukan buat bangga-banggaan, apalagi rebutan, jadi yang rebutan siapa jadi khalifah gurunya kemungkinan tidak punya dasar ilmu ini.
Lagian bisa jadi dan sering terjadi yang non mursyid lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dibanding mursyid, bisa jadi murid lebih tinggi maqam kewalian daripada syeikh, bisa jadi yang bawa tas mursyid lebih tinggi maqamnya dibanding mursyid, tapi yang satu ditugaskan menjadi mursyid yang lain tidak, beda tugas, masak semua jadi mursyid, siapa yang khidmah? Siapa yang tasrif? Siapa yang ngajar? Siapa yang qadha hajatunnas? Dst.
Jadi mursyid bukan tujuan dalam bersuluk, tujuan bersuluk hanya allah, jadi mursyid itu cobaan dari allah, jadi apa yang mau dibanggain? Jadi tau kan kenapa syarat diatas harus dipenuhi pada setiap mursyid? Bukan untuk bangga-banggain, tapi agar tidak memursyidkan orang yang tidak pantas jadi mursyid.
Contoh mursyid yang tidak boleh diikuti, mursyid yang ilmunya dan amalannya bertentangan dengan ijma, baik dalam aqidah atau fiqih atau tasawuf. Jadi mereka tidak cukup syarat yang nomor pertama, dimana dibutuhkan pengetahuan dan amalan dasar yang sesuai dengan ijma.
Karena tanpanya, dia akan memerintahkan murid pada sesuatu yang bertentangan dengan ajaran ahlusunnah, soalnya dia tidak bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh bagi muslim menurut ijma, pelanggaran terhadap ijmak itu bid’ah, jadi tasawuf dia bukan tasawuf sunny lagi, karena bertentangan dengan ajaran ahlusunnah wal jamaah
Dan tau atau paham disini tidak mesti bisa baca, bisa jadi mursyid ummy, tapi ilmunya sesuai aja dengan fathul qarib dan kharidah, atau yang ijma didalamnya, tidak keluar dari itu, makanya sangat penting bagi seorang yang ingin menjadi murid atau salik belajar ilmu zahir terlebih dahulu, walau yang paling dasar, walau bukan dalam bahasa arab, terutama fiqih, aqidah dan tasawuf, agar bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil, arah jalannya jelas. Ini bukan berarti mereka harus alim, tapi harus punya pondasi
Bahkan mursyid pun tidak mesti faqih atau alim, tapi minimalnya ilmunya sesuai pondasi tadi, dan amalannya tidak bertentangan dengan itu, kalau dapat mursyid yang faqih atau alim, itu mah bonus. Dan di zaman sekarang sebenarnya lebih baik hindari mursyid yang tidak alim secara zahir, karena sangking banyaknya mursyid palsu, lebih baik sabar ga suluk lebih dulu, menjaga modal lebih baik, daripada memaksa berdagang tanpa ilmu. Mursyid mastur dari awam itu banyak, tapi untuk zaman sekarang sangat bahaya untuk dijadikan mursyid, khususnya awam dan mubtadi, karena kemampuan membedakan yang benar dan salah sangat sulit
Dan jika memang kebetulan mereka bukan faqih, lihatlah apa yang mereka lakukan, mursyid asli akan mengarahkan murid kepada faqih atau bertanya pada faqih jika ada masalah fiqh yang harus diselesaikan, mursyid boleh kok bertaklid pada faqih dalam masalah fikih, kalau mereka faqih ya mereka bisa jawab sendiri, tapi jika bukan faqih lalu semua dijawab sendiri, apalagi sampai bertentangan dengan ijma maka itu sudah ngawur, ada pengkhianatan ilmiyah disitu dan kemungkinan dia bukan mursyid.
Jadi kalau kita sudah melihat kalau mereka udah ngawur di wilayah fikih dan aqidah, maka boleh ditinggalkan
Dan jangan takut kualat dalam meninggalkan mereka, karena mempertahankan modal sebagai ahlussunah wal jamaah jauh lebih penting karena dia wajib, daripada menjadi murid yang kebanyakan hukumnya sunnah, tapi ingat selama tidak melanggar ijmak!! Makanya sebelum belajar tasawuf ada baiknya belajar ilmu di atas, dan qawaid tasawuf, yang wajib dulu agar bisa membedakan antara guru yang benar atau tidak benar. Makanya untuk zaman sekarang, yang paling bagus memang mencari mursyid yang sudah terkenal kesalehannya dikalangan ulama zahir, ingat di kalangan ulama, bukan awam yaaa, hahaha.
Jadi sangat tidak direkomendasikan untuk belajar pada wali yang tidak dikenal para ulama, apalagi yang tidak alim yang sering terpesona dengan mimpi atau karamah atau rasa tenang dalam zikir, jadi sangat tidak direkomendasikan pada mursyid yang mastur (tidak dikenal), bahkan aku berani mengatakan hampir mendekati haram, ingat untuk konteks zaman ini yaa!! karena akan sangat sulit membedakan, percayalah mengamalkan yang zahir itu lebih bagus daripada salah ambil guru tarekat. Karena itu jalan yang bisa dimasuki dan susah keluarnya. Inilah yang sering jadi penyebab seorang bertarekat berguru bukan pada wali, tapi malah berguru pada walid hehehe.
Jadi kalau mau masuk tarekat, ingatlah 4 syarat di atas. Bahkan jika sudah bersuluk, dan tidak melihat 4 syarat diatas pada guru, sekali lagi boleh tinggalkan, jangan takut kualat, takutlah kualat jika melanggar ijmak atau ahlussunah wal jamaah, karena umat nabi ga akan tersesat selama berada dalam aljamaah. Karena ga tau dhawabit ini, banyak sekali orang yang jatuh pada kesalahan dalam memilih mursyid, bahkan orang jenius sekalipun, termasuk para santri!! Iya santri yang alim dalam ilmu zahir!! Mereka adalah yang paling rawan, terutama yang otodidak dalam belajar tasawuf untuk menghilangkan kegelisahan yang mereka tidak tau penyebabnya dalam hati mereka, mereka mencoba mengistinbat sendiri tanpa arahan guru yang tepat, ini yang paling rawan
Karena faktanya ilmu zahir tidak akan mampu memberikan ketenangan itu, apalagi menghilangkan kegelisahan itu, karena tugas ilmu zahir memang bukan untuk itu, makanya saat ada kenyamanan rohani pada jiwa yang selama ini kering, kenyamanan pada batas tertentu ini, yang selama ini hilang dari dirinya, maka dia akan ketagihan dan terpesona, dan kenyamanan ini jika tanpa dibarengi ilmu yang tepat dalam memilih mursyid beserta kriteria sebelumnya, akan membuat seorang kehilangan arah, karena ga bisa membedakan haq dan batil
Apalagi jika kenyamanan itu dibarengi dengan melihat khawariq pada mursyid yang kemudian dianggap karamah, seorang bisa meninggalkan akalnya, walaupun pada faktanya, jika ternyata orang tersebut tidak cukup syarat mursyid, maka kenyamanan yang diberikan oleh murysid palsu itu hanya akan jadi kenyamanan dalam bentuk tipuan sementara, talbis iblis!! setelahnya orang tersebut pasti akan kembali kering hatinya dan ruhaninyah-nya , sayangnya saat itu bisa jadi dia sudah membuang akalnya, dan tidak menyadari kalau dia sudah tidak tenang dan kehilangan arah lagi. Ajaran sesat banyak sekali lahir dengan cara seperti ini
Makanya dari awal harus super ketat dalam memilih mursyid yang sesuai kriteria syariat, agar ketenangan sejati itu datang dengan cara yang tepat, dan bertahan dengan cara yang tepat, ingat memilih mursyid itu bagian dari ilmu syariat bukan ilmu hakekat, walaupun sama-sama ilmu tasawuf, tapi ilmu tasawuf zahir yang ga terlalu sulit dipahami bahkan oleh awam, makanya sekali lagi kita sangat butuh ilmu, ilmu dan ilmu. Susah ya cari mursyid yang memenuhi syarat? Ya iyalah, apalagi di akhir zaman. Kibrit Ahmar!!
Inilah alasan sebagian ulama dalam majlis umum mempertanyakan keberadaan Mursyid di era sekarang, karena sangking bahayanya salah pilih mursyid, dan banyaknya orang yang jatuh dalam kesalahan itu, walaupun dalam majlis khusus dan orang yang dekat dengannya tau bahwa beliau bertarekat, dan bahkan kerap berziarah pada guru tarekat untuk mengambil berkah, dan bahkan memotivasi muridin agar terus bermulazamah pada mursyid mereka saat beliau berziarah pada para mursyid tersebut, ini banyak dilakukan ulama seperti Syeikh Said Ramadhan Albuty misalnya.
Kalau sesulit itu, bukan berarti tidak ada alternatif, tentu ada solusinya, banyakin shalawat, itu adalah mursyid bagi yang belum bertemu mursyid, lalu sebagai tugas, amalkan sunnah sehari-hari, karena seperti dikatakan para ulama sekarang eranya tasawuf imam nawawi dengan riyadhus shalihin nya itu, itu paling aman, kalau kata Syeikh Anas Syarfawi kalau kita mampu dengan istiqamah mengamalkan sunnah yang ada dalam riyadhussalihin di zaman ini, insyaallah kita akan jadi waliyullah, bahkan jika tidak menyadarinya, betapa banyak awam yang jadi wali karena keistiqamahan mengamalkan hal sunnah, tanpa dia sadari kalau dia sudah di maqam itu. Ingat wali, bukan mursyid
Jika ada pertanyaan tentang keadaan selama mengamalkan hal-hal sunnah itu, baik melihat sesuatu dalam mimpi, rasa senang atau susah dalam ibadah, atau masalah hidup, maka tanyakan pada ulama zahir yang terkenal kesalehannya dan keistiqamahan nya, apalagi yang nampak sisi kewaliannya, itu udah paling aman dah diakhir zaman. Dalam istilah tasawuf mereka dinamakan sahib, bukan syeikh, dan itu diperlukan. Ini bukan berarti mencari guru suluk tidak penting, yang tadi dibicarakan hanyalah alternatif sementara, ibarat tayamum menggantikan wudhu, karena ilmu zahir selamanya ga akan cukup menggantikan ilmu irsyad. Jadi mursyid itu tetaplah mesti dicari dan terus didoakan agar dipertemukan, bahkan jika kita hampir mati sekalipun, teruslah berdoa dan mencari dengan shadiq dan ikhlas, insyaallah akan ditemukan
Percayalah keikhlasan itu akan dipandang oleh Allah, dan shadiqnya seorang hamba akan dilihat oleh Allah, sebagaimana dikatakan imam hadad “sesungguhnya syeikh/mursyid sejati itu pasti akan selalu ada, akan tetapi maha suci (tuhan) yang tidak menunjukan jalan pada (seorang hamba)untuk menemukan para walinya, kecuali ketika DIA ingin mengenalkan mereka pada diri-NYA, dan DIA tidak akan mempertemukan mereka pada mereka(para wali mursyid) kecuali orang yang ingin DIA (Allah) sampaikan untuk mengenal-Nya”.
Jadi menemukan para wali dan mursyid yang bisa membimbing kita di zaman sekarang itu adalah taufik dari Allah, dan hanya kesungguhan yang shadiq dan ikhlas dalam berharap yang membuka jalan menuju itu sebelum kita wafat. Sungguh beruntung orang yang bisa menemukan mursyid yang benar di zaman sekarang. Dan sungguh merugi orang yang tidak mampu merasakan nikmatnya ilmu para khawasul khawas yang merupakan inti dari ilmu para nabi dalam hidupnya.
Tapi sekali lagi jangan terburu-buru, tapi jangan juga juga merasa cukup. Jangan sembarangan, karena mempertahankan modal sebagai ahlussunah lebih penting. Ingatlah syarat di atas mutlak harus dipenuhi, jika tidak terpenuhi, jangan ya dek yaaa!! Haha.
Kalau sudah terlanjur bertarekat? Maka cek saja syarat diatas, jika cukup lanjutkan dan pertahankan, karena itu rahmat besar diakhir zaman. Jika tidak cukup syarat, maka boleh ditinggalkan dan cari mursyid lain, jangan takut kualat, bahkan jika dia beneran wali, karena ga semua wali itu mursyid, bahkan jika dia mempunyai maqam lebih tinggi dari mursyid, tapi selama tidak cukup syarat jadi mursyid tetap bukan mursyid, jadi tetap menghormatinya sebagai wali, dan ga perlu juga meninggalkan majelisnya jika tidak melanggar ijma, jadi kita tetap menghormatinya, tapi bukan sebagai mursyid, tapi sebagai guru, atau seorang wali saleh, kan beradab dan suhbah dengan orang berilmu dan shaleh itu wajib, mengenai adab maka bisa dipelajari dalam ilmu tasawuf zahir atau tarekat.
Jadi ingat ketika ketemu wali, ya tidak mesti harus dijadikan mursyid, tapi ambil berkah, minta nasehat dan minta doa, adapun irsyad pastikan kriteria diatas ada, kalau belum ketemu ingat alternatif sementara, ingat sementara yaah, jangan jadikan jalan utama. Nah ini ringkas saja, udah saya usahakan seringkas mungkin, ini bahkan bisa didapatkan di buku paling dasar dalam ilmu tasawuf, minimal bisa paham lah dasar dalam melihat dan mencari guru, walaupun lebih aman jika disamping kita ada faqih yang istiqamah dalam kesalehannya untuk menjaga dan menjadi tempat musyawarah sebelum memilih guru.

Penulis:
Fauzan Inzaghi
Merupakan mahasiswa di Universitas Syeikh Ahmad Kuftaro, Damaskus, Suriah. Ia suka menulis di sosial media.