“Baramulo syahadat itulah dibagi duo. Manyo nan duo? Paratamo syahadat tauhid, dan kaduo syahadat rasul. Ba a nan syahadat tauhid? Tahu di-tauhid nan ampek. Manyo nan ampek? Paratamu tauhid zat, nan kaduo tauhid sifat, nan katigo tauhid fi’il, nan ka ampek tauhid namo.”
Itulah kutipan dendang Kaji Sifat Duo Puluah, yang dilagukan dengan irama khas Pedalaman Minangkabau. Jama’ah yang hadir sangat antusias, dan bersemangat. Tidaklah mereka ragu dan bimbang, meskipun zaman silih berganti, dan pengajian Sifat Duo Puluh (Asy’ariyah-Maturidiyah) telah dirongrong faham baru.
Susunan Pengajian Sifat Duo Puluah ini ialah bentuk lokalitas, bagaimana akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) berurat berakar di Minangkabau. Kita tentu dapat menentukan bahwa konten isi Pengajian Sifat Duo Puluah tersebut disari dari kitab Ummul Barahin dan Syarahnya, yang telah tersebar luas di Minangkabau jauh sebelum zaman modern ini. Hasil sarian, kesimpulan, inti tersebut, disusun ulang oleh ulama-ulama lokal, dalam bentuk dendang, dengan tujuan (1) lebih memudahkan awam untuk mempelajarinya; dan (2) mudah dihafal, dan tentunya karena hafal menjadi lebih memasyarakat.
Ketika saya diundang mengisi pengajian dalam wirid Halaqah Sifat Duo Puluah di Taeh Bukik, Luhak Limo Puluah, saya diundang sebagai pensurah kaji.
Saya begitu menikmati, dan merasa takjub dengan kearifan lokal yang sarat dengan seni dan kedalaman makna isi tersebut. Acara dimulai sekitar jam 10 malam, dan biasanya selesai baru tengah malam. Mengapa malam? Malam menyiratkan kesyahduan, ketenangan, dan konsentrasi. Sudah lazim, di kampung-kampung, pengajian apalagi yang bersifat khusus, dilakukan malam hari. Meski malam hari, namun antusias dan semangat jama’ah tidak pudar. Apalagi sebelum acara dilantunkan zikir, tentu dengan “hentakan” Tarekat Samman yang menarik jiwa-jiwa yang lalai. Dan acara juga diakhiri, dengan zikir serupa.
Acara dimulai dengan melantunkan Kaji Sifat Duo Puluah, yang dimulai dengan penjelasan syahadat. Irama khas, dan khidmat, begitu menarik hati. Dan luar biasanya, jama’ah melantunkan kaji (yang sangat panjang itu) secara hafalan. Mereka hafal. Setelah melantunkan kaji, baru pengajian umum dilakukan. Tentunya pengajian ini berkaitan dengan tauhid dan tasawuf, khususnya Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Tarekat Sammaniyah Khalwatiyah. Hadir beberapa mursyid dan khalifah.
Acara ini diadakan satu kali seminggu, untuk satu nagari. Biasanya bergilir dari satu surau ke surau yang lain. Dan suatu waktu dilaksanakan di Surau Rambai Nagari Taeh Bukik tempat bermukimnya para ulama besar masa silam, surau yang bangunan asasnya telah berdiri lebih dari seabad yang lalu, dan pernah menjadi basis Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah penting di daerah ini.
Kala itu, sebelum halaqah dilangsungkan, saya sempatkan ziarah ke makam dua ulama, ayah dan anak, yang meneruka Surau Rambai, di abad silam. Beliau ialah Syekh Abu Bakar “Datuak Gaek” dan Syekh Rasyidin. Dua sosok ini ialah kakek dan ayah dari alm. Syekh Haji Amin Taeh Bukik (w. 1978), ulama Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Sammaniyah terkemuka dan termasyhur di abad 20, di Luhak Limapuluh; yang terkenal kiramat bertuah itu.
Ilmu akidah Ahlus sunnah wal jama’ah (‘Asy’ariyah dan Maturidiyah), sangat berurat berakar di Kampung saya, pedalaman Minangkabau. Bagaimana akan merambah akar yang telah masuk ke pitala bumi itu. Setiap dirambah, setiap itu pula tunas-tunas baru muncul. Bukankah itu do’a ulama-ulama kita yang ikhlas berdakwah di masa silam?
Pada akhirnya, pengajian Sifat Duo Puluah bukan sekadar nostalgia spiritual, tapi wujud nyata vernakularisasi yang amat organik. Lewat berhalaqah dan ritme kaji Tarekat, diskursus Asy’ariyah yang rigid bertransformasi menjadi memori kolektif yang mengakar dalam lanskap epistemik masyarakat pedalaman.
Saya melihat Ini adalah sebentuk resistensi kultural yang elegan, sebuah benteng ortodoksi yang tak perlu ditegakkan lewat polemik dialektis yang bising, tapi dirawat secara inheren dalam ekologi surau. Selama transmisi genealogi keilmuan dan praksis sufistik ini terus berdenyut lintas generasi, kontinuitas akidah di surau-surau tuo Minangkabau akan tetap kokoh. Fenomena ini membuktikan bahwa sintesis itu harmonis antara teks dogmatik, estetika lokal, dan penghayatan batiniah selalu memiliki daya lentur melampaui disrupsi zaman. Mari baliak ka surau.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.