rundiang

Kritik untuk Tuangku: Seperti Apa Harusnya Tuangku? Apakah dengan Meninggalkan Kewajiban, Masih Bisa Disebut Tuangku?

Kritik untuk Tuangku: Seperti Apa Harusnya Tuangku? Apakah dengan Meninggalkan Kewajiban, Masih Bisa Disebut Tuangku?

Fenomena penghormatan terhadap figur Tuangku di Padang Pariaman kini berada di persimpangan jalan yang mencemaskan. Jangan naik spaning dulu, baca baik-baik, terlebih memahami konteks ini membutuhkan kepala yang dingin. Gelar Tuangku sebagai warisan estafet keilmuan para Syekh terdahulu seharusnya merepresentasikan kedalaman intelektual dan kejernihan spiritual, ingat: ”harusnya”.

Luhak Limo Puluah dalam Catatan Midden-Sumatra 1877-1879: Keindahan Harau dan Payakumbuh (Hal. 45–46)

Luhak Limo Puluah dalam Catatan Midden-Sumatra 1877-1879: Keindahan Harau dan Payakumbuh (Hal. 45–46)

Dokumen atau risalah ini berjudul ”Midden-Sumatra: Reizen en onderzoekingen der Sumatra-expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap (1877–1879)” merupakan laporan resmi berbahasa Belanda perihal Ekspedisi Sumatra (dikenal juga sebagai Ekspedisi Sumatra Tengah) yang berlangsung pada akhir abad ke-19. Di samping itu, pengawas utama dalam ekspedisi ini adalah Prof. P. J. Veth, atau yang memiliki nama lengkap Pieter Johannes Veth. Ia merupakan seorang profesor ternama asal Belanda yang ahli dalam bidang geografi dan etnografi Hindia Belanda.

Memperbaiki Cara Berpikir Jaksa Penuntut Umum dalam Kasus Dugaan Mark Up Amsal Sitepu

Memperbaiki Cara Berpikir Jaksa Penuntut Umum dalam Kasus Dugaan Mark Up Amsal Sitepu

”Ahli IT yang ikut membuat Perhitungan Kerugian Negara, tidak pernah di BAP, tidak pernah hadir di persidangan dan tidak ada lampiran perhitungannya di LHP. Ahli IT dan Auditor juga Tidak mengakui adanya Biaya Ide / Konsep, Clip On/Microphone, Cutting, Editing dan Dubbing didalam RAB, Mereka menghitung biaya Cutting, Editing, Dubbing, Clipon /Microphone & Ide sebesar, 0 Rupiah.”

— Pernyataan Amsal Christy Sitepu melalui Instagram nya @amsalsitepu (Kamis, 26 Maret 2026)

Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu

Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu

Melalui rekaman kaset dan video, ia mentransformasikan tradisi lisan ke dalam bentuk reproduksi modern, yang jelas bukan sekadar adaptasi, tapi juga strategi artikulasi budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Gurindam yang ia lantunkan menjelma menjadi mnemonic device, pengingat nilai sekaligus jembatan emosional bagi masyarakat rantau yang merawat ingatan akan kampung halaman.