Habis Asap Terbitlah Sawit

oleh | Agu 31, 2026 | Kaji, Opini

Selain menonton pertunjukan, saya juga mengamati pameran seni di perhelatan Jong Bataks Arts Festival #12 di kota Medan pada penghujung tahun 2025 lalu. Salah satunya adalah pameran dari Nonblok Ekosistem dari Kota Pekanbaru, Riau. Dari gedung pertunjukan, saya mengikuti instruksi MC untuk segera menuju ke ruang pameran. Sembari menunggu petunjuk selanjutnya saya dan pengunjung lainnya yang didominasi oleh anak-anak sekolah, ikut mengantri di halaman. Saya memperhatikan anak-anak sekolah itu. Tiap sebentar mereka bergaya di depan ponsel masing-masing. Mereka tampak seolah tak kuasa untuk menahan diri untuk memotret banyak hal. Tentu saja juga memotret diri mereka sendiri. Mengambil video diri, terkadang juga sambil berjoget-joget. 

Tak lama, panitia mempersilahkan masuk. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dilabeli oleh panitia dengan nama Mata Rasa. Saya memperhatikan serombongan sekolah menengah. Salah seorangh diantaranya tertegun cukup lama. Ekspresi wajahnya seketika berganti, mimik mukanya seketika berubah setelah masuk ke ruangan itu. Padahal beberapa menit sebelumnya ia begitu ekspresif sambil menari-nari di hadapan ponselnya. Di ruangan Mata Rasa itu, ia melihat sebuah televisi pintar (jenis televisi terbaru) ditampilkan vertikal pada bracket besi berwarna hitam. Di layar televisi itu muncul visual berwarna merah. Dari speaker televisi itu terdengar suara-suara ambient semesta. Suara ranting bergesekan, dengung uwir-uwir, kicau burung-burung kecil, lenguh dan derap kaki gajah, daun yang membuka, batang yang meregang, bunga yang mekar di sapu angin. 

Pengunjung pameran seni di perhelatan Jong Bataks Arts Festival #12 di Kota Medan.

Dari suara-suara itu, agaknya siswa itu mulai menerka-nerka. Akankah ia hendak dibawa ke hutan rimba belantara? Tepat sekali, tak lama berselang, di layar muncul visual hutan belantara. Sebuah animasi berbasis vektor yang menayangkan pertumbuhan pohon dan kayu-kayuan. Visual itu ditampilkan dengan teknik stop motion. Dari akar yang kecil mungil, menjulang menjadi batang, lalu melebar menjadi hutan lebat, dan tenang. 

Persis di depan televisi, sebuah box setinggi satu meter lebih menjadi media untuk hutan buatan. Tentu siswi itu bisa menangkap, bahwa box tersebut adalah proyeksi dari hutan belantara yang didengar dan dilihatnya di layar televisi. Tanah gambut hitam legam, diatasnya pohon-pohon berdaun sintetis tumbuh dengan nyaman. Suara kicauan burung, lenguhan gajah, derit ranting kayu yang dihembus angin menambah kesan nyaman. Betapa hutan menyediakan kedamaian dalam keberagaman. Seolah ia memberikan ruang hidup yang tenang bagi makhluk hidup yang ada di dalam. Manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan hutan. Makhluk-makhluk itu hidup begitu tenang dengan sistim yang dijalankan langsung oleh semesta. Namun, ketenangan itu terasa terusik. Jika berjalan agak sedikit ke dalam hutan, ada pemandangan yang lain. Entah bagaimana caranya, alat-alat berat berwana kuning telah mangkal pula dengan gagah. Meskipun tiruan, ia tetap tampak begitu pongah.

Tak lama, sedikit demi sedikit asap mulai mengurung hutan buatan itu.   Lama kelamaan asap semakin mengepul. Di penghujung kepulannya, simsalabin, sebatang pohon sawit sintetis dari balon muncul tiba-tiba. Entah bagaimana pula caranya, asap itu muncul. Dan bagaimana pula sawit itu tumbuh. 

Tak Hanya siswi tersebut, beberapa pengunjung lain, pun mulai tambah penasaran. Beberapa diantara mereka ada yang mengintip ke bawah box. Tampak sebuah selang terhubung ke samping bracket televisi. Selang itu mengalirkan cairan. Cairan kemudian disambut oleh besi pemanas, semacam coil. Cairan-cairan yang mengalir ke besi pemanas berubah menjadi uap, lalu mengasapi. Prinsip serupa pada rokok buatan seperti vape. Menariknya lagi, cairan itu kiranya digerakkan oleh sebuah mikrokontroler. Mikrokontroler ini menjalankan perintah yang sudah ditanam melalui sistim koding. Mikrokontroler ini lah yang mengatur kapan uap muncul. Mikrokontroler itu pula yang memerintahkan blower untuk menghembuskan udara ke dalam balon berbentuk kelapa sawit. 

Begitulah sedikit penggambaran dari karya yang dibawa oleh Nonblok Ekosistem. Karya rupa dan seni media baru itu dikerjakan secara kolektif. Karya ini berangkat dari fenomena yang terus berulang setiap tahun dibanyak tempat. Tidak hanya di Sumatera, tetapi juga di Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa tahun terakhir juga marak di timur Indonesia. Karya ini diberi judul habis asap terbitlah sawit.

Sawit dan rentetan konflik Sejak dari Akar

Saya kira, bagi Nonblok Ekosistem yang membawa karya ini, asap tentu menjadi satu pilihan metafor yang dipilih dengan sadar. Barangkali untuk menggambarkan Riau (rumah mereka) kepada dunia. Kepada siswi tadi, tentu saya tak hendak bertanya. Karena saya bisa memastikan, seusia dirinya tentu tidak akan memahami bagaimana persisnya kemelut panjang dari sebuah industri. Katakanlah sawit. Bahwa mentega, sabun, lilin, ataupun minyak goreng yang merupakan kebutuhan penting dalam hidupnya, dalam hidup kita semua, dibalik itu dari hulu hingga hilirnya ada rentetan panjang proses yang dilaluinya. Dan disetiap tahapannya, mulai dari perencanaan, lobi-lobinya, persiapannya, hingga eksekusinya, konflik yang dilaluinya, siapa saja yang terlibat, dan yang paling penting adalah tetang keuntungannya. Kira-kira kemana semua itu bermuara? Pertanyaan-pertanyaan yang sudah pasti tidak ada dalam benak siswi itu, dan mungkin juga kita semua. 

Konon, pada bulan Februari di pertengahan tahun 1800an, di Buitenzorg, Kebun Raya Bogor menerima kiriman dua bibit kelapa sawit dari Pulau Bourbon, Mauritius. Beberapa bulan kemudian, tepatnya Maret, dua batang lagi datang dari Hortus, Belanda. Tanaman itu kemudian tumbuh dengan batang setinggi hampir 2 meter. Kira-kira setinggi 5 hingga 6 kaki. Berbeda dengan kelapa pada umumnya, kelapa sawit memiliki daun lebih padat, tidak tegak tetapi lebih melengkung dan jumlahnya juga lebih banyak. Tumbuhan ini, di tempat asalnya, Afrika, telah terlebih dahulu menjadi sumber eksploitasi. Tidak hanya alam, tanah, dan hutannya, melainkan juga manusianya. Hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia di tempat lainnya, Eropa. 

Kita tahu, kelapa sawit bukanlah tanaman endemik Nusantara. Karenanya, pada waktu itu di manapun, di Hindia Belanda, masyarakat belum mengenal kelapa sawit. Kebutuhan minyak dapur, masyarakat nusantara mengolahnya dari kelapa. Sementara di Eropa, selain sebagai pelengkap dapur, mentega, sabun, dan lain sebagainya, minyak adalah pelicin untuk menggerakkan, menjalankan besi-besi revolusi industri. Karena itu muncul permintaan yang begitu banyak dari pasar-pasar Eropa. Afrika sebagai penghasil sawit sedikit kewalahan untuk memenuhi kebutuhan revolusi industri itu. Melihat potensi itu, kolonial tidak tinggal diam. Mereka ingin pula untuk ikut meramaikan pasar sawit. Mereka memulai dengan menyalurkan bibit kelapa sawit di Jawa dan Sumatera. 

Tidak hanya pemerintahan kolonial, swasta pun ikut ambil bagian dalam pasar ini. Pada 1905, seorang insinyur pertanian asal Belgia, Adrien Hallet, menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Awalnya, matanya tertuju pada karet, komoditas yang juga tengah diributkan pasar dunia, bernilai tinggi, dan menjanjikan keuntungan besar. Namun, saat mengamati lahan-lahan perkebunan karet, Hallet menemukan sesuatu yang mengejutkan, kelapa sawit yang tumbuh di tanah Sumatera, termasuk di perkebunan Deli, berkembang lebih cepat dan berbuah lebih lebat dibanding yang pernah ia lihat di Afrika. 

Sebagai ahli pertanian, tentu ia tahu betul soal tanah. Ia melihat bahwa tanah di Sumatera begitu optimal. Curah hujan dan sinar matahari menjadi paduan yang tepat untuk tanah. Dari pengamatan itu, benih gagasan muncul, mengembangkan perkebunan kelapa sawit secara serius. Ia tercatat sebagai pelopor perkebunan kelapa sawit skala komersial. Dalam beberapa tahun, luas kebun kelapa sawit di Sumatera telah mencapai 6.000 hektare, dan pada 1925 melonjak menjadi 32.000 hektare menandai awal transformasi Sumatera menjadi pusat produksi sawit dunia. 

Pembukaan perkebunan skala besar tentu memerlukan pekerja yang lebih banyak. Sementara, penduduk begitu enggan untuk menjadi buruh kerja. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, pemerintah memfasilitasi perusahaan-perusahaan swasta dalam merekrut buruh dari luar pulau. Terutama buruh yang didatangkan dari Jawa. Buruh-buruh ini, kemudian diikat dengan aturan. 

Aturan yang jelas tidak berpihak pada mereka. Di balik gerbang perkebunan, ada dua kehidupan yang begitu dramatis. Para pemilik, administratur, dan stafnya bergelimang kemewahan. Sementara buruh terperangkap dalam rutinitas yang keras dan upah yang pas-pasan. Kesenjangan itu tidak berhenti di pekerja. Rakyat sekitar perkebunan pun merasakan dampaknya. Konflik sosial antara buruh pendatang dengan masyarakat tempatan. Upah yang rendah, ketidakpedulian perusahaan terhadap kampung dimana sawit ditanam. Perluasan demi perluasan lahan perkebunan membuat kehidupan mereka semakin sulit. Tanah yang dulu mereka garap untuk tanaman pangan perlahan hilang, pendapatan menyusut, dan ancaman terhadap ketahanan pangan semakin nyata. Konflik pertama yang menjalar dari akarnya. 

Meraba skema perkebunan sawit dan yang timbul setelahnya

Instalasi berjudul “Habis Asap Terbitlah Sawit” ini merupakan karya dari kolektif Nonblok Ekosistem.

Pada tahun 2012, EJOLT (Environmental Justice Organisations, Liabilities and Trade) sebuah jaringan keadilan lingkungan yang bermarkas di Barcelona, ​​memulai proyek besar. Proyek kemanusiaan ini menyelidiki dan mendokumentasikan konflik-konflik yang muncul di berbagai penjuru dunia akibat pembangunan perusahaan global di atas lahan-lahan hutan. Melalui kolaborasi 23 organisasi, aktivis, dan pakar ekologi negara, mereka melaporkan peta ketidakadilan. Bagaimana kemudian alam, tanah, dan manusia saling bertaut dan saling terhubung dalam arus ekonomi global.

Di Asia Tenggara, Indonesia dan Malaysia menjadi lokus utama riset ini. Dalam laporannya, EJOLT menunjukkan bagaimana setiap tahapan menuju pembangunan industri perkebunan sawit selalu dimulai dari satu pola yang serupa. Perencanaan yang rapi, rapat yang sudah tentu elegan, tetapi juga memicu yang perlahan tumbuh menjadi konflik. Dalam bahasa EJOLT konflik sudah muncul sebelum batang sawit pertama ditancapan ke tanah.

Tahap awal tentu dimulai dengan menemukan aktor-aktor kunci. Namun panggung untuk aktor ini  bukan di ladang-ladang, bukan pula di hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang akan “dihuni”. Pentas itu justru berada di di hotel-hotel kota, di kantor pemerintahan, dan di ruang rapat perusahaan-perusahaan persekutuan. Di sanalah kemudian hutan dipetakan. Hutan yang tentu saja akan digeser dari ruang hidup menjadi ruang komoditas. Tak tanggung-tanggung, menjadi komoditas dunia. Di atas meja, peta hutan masyarakat dibentangkan dan garis-garis dibuat, menandai “ladang” uang bagi pemilik modal. 

Para pejabat daerah, investor, dan konsultan bertemu, tentu mereka akan berbicara dalam bahasa yang politis, ekonomis. Muncul diksi-diksi insentif, subsidi, keberlanjutan, kemitraan, dan seterusnya. Di sisi lain, muncul pula para profesional yang diberi tugas menggelar seminar, menyusun proposal, memaparkan hasil kajian yang mereka sebut atas nama otonomi daerah, dan membuka lapangan kerja baru. Di televisi dan radio, spanduk-spanduk, serta baliho-baliho, proyek-proyek ini diumumkan sebagai peluang, potensi, otonomi daerah. Pendeknya, menggiring opini publik. Padahal, antara semua suara itu, suara masyarakat lokal, nyanyian-nyanyian mereka yang hidup di tepi hutan, dan yang mempunyai lahan-lahan secara adat di dalam hutan, yang menggantungkan hidup pada tanah nyaris tak terdengar. Dari pertemuan-pertemuan itu lahirlah kebijakan, keluarlah lembar-lembar kertas yang menjadi semacam karpet merah bagi modal. Begitulah tahap pertama pembangunan industri sawit berlangsung. 

Tahap berikutnya tentu mengamankan lahan. Peta yang dibentangkan di atas meja kini beralih ke lapangan. Jika kemudian garis-garis konsesi bersinggungan dengan rumah-rumah warga, tanah-tanah adat, tentu relokasi menjadi keniscayaan. Di banyak kasus, batas administratif yang diatur pemerintah tidak sesuai dengan batas adat yang hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat. Akibatnya, konflik pun tak terhindarkan. Apa kemudian? Aparat negara, polisi, bahkan tentara, berada digaris depan. Demi keamanan, mereka mengawal alat berat yang tidak sabar meraung di dalam hutan. Lantas, suara mesin menggantikan kicau burung, tanah mulai diratakan, dan sisa-sisa semak dibakar demi efisiensi. Lahan yang dulu menjadi ruang hidup berubah menjadi hutan buatan yang berbuah keuntungan.

Truk-truk pun disiapkan. Tak hanya masyarakat sekitar, orang-orang dari berbagai penjuru pun didatangkan. Baik itu buruh harian, pekerja lepas, bahkan remaja yang baru meninggalkan sekolah siap dipekerjakan. Bagi masyarakat desa, yang minim pilihan, pekerjaan ini tampak seperti jalan keluar. Bagi sebagian perempuan, ini adalah kesempatan pertama untuk memperoleh pendapatan sendiri. Tapi ada hal yang tidak mereka pahami, sistim kerja yang lain, outsourcing. Kata yang bahkan sulit mereka eja. Alih-alih bekerja pada perusahaan, untuk tidak menanggung beban tenaga kerja, pihak ketiga dilibatkan. Ketika krisis datang, merekalah yang pertama kali berhentikan. Setelah sawit ditanam dan pagar-pagar berdiri, banyak di antara masyarakat, yang dulunya pemilik lahan, hutan yang dulunya tempat suci, tempat berteduh, tempat bergantung, kini mereka terkurung di antara kawat berduri. Hutan yang dulunya dianggap sebagai identitas, baik secara sosial, maupun kultural kini telah hilang. Ini adalah peristiwa sosial yang mengubah seluruh cara masyarakat memahami tanah, pekerjaan, dan masa depan. Dalam ruang di mana negara dan modal bersatu atas nama devisa, manusia kecil sering kali menjadi yang terakhir diajak bicara. Padahal mereka adalah orang yang pertama menanggung akibatnya.

***

Mengutip kompas yang terbit pada 12 Januari 2025, yang ditulis Stephanus Aranditio, bahwa pemerintah pada tahun mendatang akan menambah perluasan perkebunan sawit. Dari data yang ada, berdasarkan data Badan Informasi Geospasial (BIG) yang melaksanakan pemutakhiran peta tutupan kelapa sawit bersama Kementerian Pertanian pada tahun 2023, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 17,3 juta hektar. Meskipun belum diketahui berapa besar perluasan perkebunan sawit yang direncanakan pemerintahan. Namun yang jelas, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa akan ada pengalihan lahan hutan seluas 20 juta hektar untuk pangan dan energi.

Lagi-lagi, saya tidak akan bertanya pada siswi sekolah menengah itu. Agaknya, pameran itu telah berbicara langsung pada nya. Suara-suara yang tersisa, ranting-ranting yang bergesekan, dengung uwir-uwir, kicau burung-burung kecil, lenguh dan derap kaki gajah, daun yang membuka, batang yang meregang, bunga yang mekar di sapu angin telah berpesan kepadanya. Bahwa hutan adalah ruang hidup bagi banyak makhluk. Hutan dan seisinya adalah keseimbangan kehidupan. Bagaimana mungkin demi mengambil untung, demi memperkaya diri, orang-orang tertentu, mau untuk mengorbankan kehidupan?

Penulis:
Roni Keron
(Alumni Program Studi Humanitas Pasca Sarjana ISI Padangpanjang. Pegiat Festival Warga. Salah satu inisiator Bintang Harau, ruang belajar alternatif anak-anak pedalaman Harau. Menetap di Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang)