Jum’at 7 Agustus saya sedang berjalan-jalan di rumah, dan tak sengaja melihat kucing saya tidur di atas meja komputer, keadaannya lemas, dan sepertinya ia ingin tidur pulas, karena kebiasaan saya adalah mengganggunya, saya pun mencoba mengganggunya sebentar.
Opini
Tersedak Madilog: Catatan atas Kepanikan Intelektual terhadap Tan Malaka
Menarik sekali membaca tulisan Ustadz Ferry Hidayat di Rundiang.id yang berjudul “MADILOG, Buku Beracun Komunis”. Di tengah zaman ketika minat membaca buku-buku tebal kian menyusut, usaha beliau mengumpulkan kutipan-kutipan Tan Malaka secara kronologis dari tahun 1922 hingga 1946 tentu patut diapresiasi. Namun, membaca artikel tersebut memberikan sebuah kesan yang menggelitik: ada gelagat tersedak intelektual yang cukup hebat saat tulisan itu diracik.
Jalan Tol Boleh Dibangun, Keadilan Tidak Boleh Ditinggalkan
Boleh jadi, setelah tulisan ini dipublikasikan, saya akan menerima kritik, sanggahan, bahkan hujatan dan saya memahami hal itu adalah konsekuensi dari menyampaikan pandangan di ruang publik. Namun, saya berharap diskusi tetap berada pada substansi persoalan, bukan bergeser menjadi penilaian terhadap karakter masyarakat Minangkabau, lembaga adat, atau para niniak mamak.
Mari Belajar Memberontak, Pak, kepada Para Petani Kamang dan Pada Mande Siti
Namanya mungkin tidak setenar Kartini atau Tjut Nyak Dien, tetapi bagi masyarakat Manggopoh, Agam, Siti Manggopoh adalah sosok yang bermakna. Ia lahir dari keluarga petani sederhana, putri bungsu Sutan Tariah dan Mak Kipap. Seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya, tumbuh dan belajar mengaji di surau, serta membantu keluarganya bertani dan menjaga tanah adat.
Republik di Persimpangan Sejarah: Menggugat Privatisasi Kekuasaan dan Mistifikasi Demokrasi
Di tengah riuh rendah panggung politik nasional yang kian hari kian terjebak dalam pragmatisme transaksional dan teatrikalitas visual, masyarakat modern sering kali kehilangan kompas filosofis yang paling mendasar. Kita kerap merayakan pesta demokrasi secara prosedural (seperti pemilu berkala, pelantikan pejabat, dan perdebatan di media massa) namun lupa pada pertanyaan eksistensial yang mengalasi seluruh bangunan ketatanegaraan kita: apa sebenarnya yang sedang kita bangun, rawat, dan pertahankan dengan nama “Republik”? Apakah ia sekadar sebuah label administratif yang membedakan kita dari sistem monarki, ataukah ia sebuah komitmen etis-spiritual yang mendalam mengenai bagaimana sebuah bangsa mengelola takdir bersamanya?
MADILOG, Buku Beracun Komunis
Untuk menilai konsistensi pemikiran seseorang, salah satu caranya ialah membaca semua karyanya secara kronologis. Dengan begitu, kita jadi tahu bahwa si Fulan, dari tahun ke tahun hidupnya, konsisten dengan pemikirannya. Jika pun pemikirannya berubah, maka perubahan pemikirannya gampang sekali teridentifikasi, karena terlihat dari tahun kapan ia menulis karyanya. Saya memakai cara kronologis ini untuk menilai konsistensi sikap kritis Tan Malaka terhadap agama-agama, yang tercermin dalam karya-karyanya, terutama MADILOG. Saya akan menelusuri isi karya-karya Tan Malaka yang ditulisnya sebelum ia menulis MADILOG dan setelah ia menulis MADILOG. Dari situ, akan nampak konsistensi kritisismenya terhadap agama-agama.





