Opini

Oleh–Oleh Kunjungan untuk Pejabat

Oleh–Oleh Kunjungan untuk Pejabat

Kemarin, sebuah video lewat di beranda media sosial saya. Awalnya saya mengira hanya potongan video debat yang biasa berseliweran di media sosial.  Tetapi berselang beberapa detik setelah saya menonton, saya baru sadar ini agak berbeda. Di video itu terlihat Menko Polkam Djamari Chaniago sedang marah. Marahnya bukan setengah-setengah. Nada suaranya naik, kalimatnya keras, dan wajahnya jelas menunjukan kekesalan.

Manggadai Saluak Cabiak : Menukar Marwah Nagari demi Cipratan Proyek

Manggadai Saluak Cabiak : Menukar Marwah Nagari demi Cipratan Proyek

Baru-baru ini, panggung kebudayaan kita yang biasanya riuh oleh perayaan seolah diselingi sebuah adegan komedi. Ada seorang anak kandung daerah ini yang sejak muda merantau tiba-tiba ditawari gelar kebesaran oleh para elit adat justru ketika ia baru saja menduduki kursi empuk kementerian di ibu kota. Penolakan halus dari sang tokoh, yang dengan jenaka mempertanyakan nalar pemberian gelar yang serba tiba-tiba itu, seakan menjadi cermin raksasa bagi kita. Cermin yang memantulkan betapa praktis dan pragmatisnya tata kelola kelembagaan adat kita hari ini.

Mencari Semangat Tan Malaka di Era Post-Truth yang Cair

Mencari Semangat Tan Malaka di Era Post-Truth yang Cair

Membicarakan Tan Malaka hari ini adalah ibarat membuka kembali kode sumber kuno di tengah sistem operasi digital yang sudah melampaui arsitekturnya. Di satu sisi, Madilog tetap menjadi monumen intelektual yang impresif, sebuah upaya heroik untuk meretas mentalitas klenik bangsa melalui instrumen logika dan materialisme. Namun, ketika kita membenturkan visi Tan Malaka dengan realitas zaman posttruth dan hegemoni algoritma, kita mendapati adanya celah yang lebar, sebuah jeda kognitif yang membuat metode perjuangannya terasa seperti mencoba menjalankan aplikasi berat di perangkat warisan yang sudah tidak lagi mendapat dukungan pembaruan. Ini bukan berarti kita menolak sejarah, melainkan mengakui bahwa tantangan eksistensial kita hari ini telah bermutasi menjadi bentuk yang tidak lagi bisa didekati dengan manual lama yang sudah usang.

Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas

Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas

Tak sedikit orang yang heran, kenapa anak “Badung” dari Pandam Gadang itu bisa begitu cerdasnya. Padahal hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain saja. Kalau tidak layang-layang, sepakbola, pasti berenang di sungai. Pada malam hari akan habis waktu untuk mengaji, bersilat, dan tidur di surau. Keheranan itu juga dirasakan oleh para gurunya di Sekolah Kelas Dua (sebutan sekolah untuk rakyat biasa). Dengan kecerdasan itu, para gurunya di Sekolah Kelas Dua itu menyarankan agar sekolah Tan mesti dilanjutkan. Mereka merekomendasikan Tan untuk lanjut bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Anak pegawai rendahan itu kemudian masuk ke Sekolah Raja. Sekolah yang memang diciptkan untuk anak-anak bangsawan, ningrat, dan pegawai tinggi Belanda. Syahdan, Tan Malaka dilepas para tetua kampung. Bukittinggi kemudian menjadi rantau pertamanya.