Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas

oleh | Mar 4, 2026 | Opini, Sosok

Tak sedikit orang yang heran, kenapa anak “Badung” dari Pandam Gadang itu bisa begitu cerdasnya. Padahal hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain saja. Kalau tidak layang-layang, sepakbola, pasti berenang di sungai. Pada malam hari akan habis waktu untuk mengaji, bersilat, dan tidur di surau. Keheranan itu juga dirasakan oleh para gurunya di Sekolah Kelas Dua (sebutan sekolah untuk rakyat biasa). Dengan kecerdasan itu, para gurunya di Sekolah Kelas Dua itu menyarankan agar sekolah Tan mesti dilanjutkan. Mereka merekomendasikan Tan untuk lanjut bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Anak pegawai rendahan itu kemudian masuk ke Sekolah Raja. Sekolah yang memang diciptkan untuk anak-anak bangsawan, ningrat, dan pegawai tinggi Belanda. Syahdan, Tan Malaka dilepas para tetua kampung. Bukittinggi kemudian menjadi rantau pertamanya. 

Dengan bekal kecerdasannya, ia kemudian dengan cepat mencuri perhatian. Tidak hanya terampil dan unggul dalam penalaran, anak kecil mungil itu juga lincah dalam keterampilan gerak tubuh. Bermain sepakbola dan bermain musik. Perpaduan sempurna itu membuat G.H Horensma salah seorang guru di Sekolah Raja Bukittinggi terkesima, dan dengan senang hati untuk mendampinginya dalam banyak hal. Setelah selesai, sebagaimana gurunya di Sekolah Kelas Dua, Horensma juga merekomendasikan Tan untuk terus melanjutkan sekolah. Sekolah guru Rijkweekschool. Lagi-lagi, pemuka adat, serta warga ikut melepas. Tapi kali ini segenap masyarakat Suliki ikut berembuk iuran. Dengan berharap bisa membangun kampung setelah pulang. Tan Malaka kemudian dilepas ke Eropa. Tak tanggung-tanggung, Haarlem, Belanda, negeri kincir angin itu menjadi rantau berikutnya bagi Tan Malaka.

Pada akhir 1913, Tan Malaka sampai di Haarlem. Keberangakatan yang dilepas oleh masyarakat dengan harap dan cemas, kedatangannya di Eropa pun disambut pula dengan benturan-benturan yang begitu keras. Depresi ekonomi dunia, dan aura kemiskinan. Ratusan pabrik penyulingan Bir, serta pabrik-pabrik tekstil yang menjadi tulang punggung kota itu bertumbangan. Ia kemudian hidup diantara buruh-buruh pabrik yang menganggur. Serta terdengar pula sayup sampai akan ada kecamuk perang di Eropa. Dalam kondisi serupa itu lah Tan memulai pendidikannya sebagai calon guru. Ia mendapatkan kamar mondok di rumah pasangan Gerrit Van Der Mij di Jacobijnnestraat. Sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga proletariat Belanda.

Di pondok ini pula ia sering mendengar diskusi berapi-api Herman Wouters dan Van Der Mij. Herman adalah seorang pelarian Belgia atas serbuan Jerman ke kotanya. Di rumah ini pula sebuah kata sakti mandraguna itu kerap didengarnya, revolusi. Kata itu kemudian lekat di dalam kepalanya ketika dibaca terus menerus berulang-ulang dari koran-koran langganan Mij dan Wouters. 

Dengan segala keterbatasan, pada tahun 1919 Tan menyelesaikan sekolahnya. Dengan bermodalkan akte pengajar tanda ia lulus serta satu kata sakti yang telah lekat di dalam dirinya, kemudian ia kembali ke Hindia Belanda. Agaknya, pendidikan dan revolusi menjadi paduan kata yang patut untuk disandingkan. Ia kemudian berlabuh di Deli.

Ikut mendirikan sekolah rakyat

Juni 1921, ada suasana yang berbeda dalam rapat para tuan besar perkebunan Senembah, Deli. Dari banyak tamu, Tan Malaka menatap lekat seorang tuan besar yang ia kenal dengan nama Herr Graf. Tuan besar ini kerap menyebarkan fitnah dan menyebarkan yang tidak patut terhadap diri Tan Malaka. Mulai dari biang kerok demonstrasi para buruh, pergaulannya dengan buruh, dan sebagainya. Para tuan besar sangat tidak suka akan kehadiran Tan. Agaknya Tan punya metoda yang lain mengaplikasikan pendidikannya. Selain bertemu di sekolah, Tan juga kerap bertemu dan berbincang dengan siswanya di rumah mereka. Tan ingin mengetahui bagaimana tabiat, kemauan, dan kecendrungan anak-anak didiknya. Selain itu, Tan juga menampung keluh kesah para orang tua anak didiknya. Para kuli yang buta huruf, yang kerap dijerat melalui peraturan kontrak kerja yang sama sekali tidak bisa mereka baca. Pengalaman itu kemudian ditulisnya untuk koran-koran di Medan. Pengalaman bersama rakyat itu pula kemudian yang memantapkan Tan untuk bergerak di bidang pendidikan. Menurutnya, kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan. Pendidikan yang dekat dengan rakyat. Hal yang tentu saja membuat para tuan besar begitu gusar. 

Pada rapat itu, oleh mentornya, Dr. Jansen, Tan diberi kesempatan untuk berbicara. Anggap saja untuk menyangkal fitnah-fitnah yang dirancang tuan besar. Tan mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Meskipun Tan Malaka yakin kalau ia sedang berbicara dihadapan orang-orang yang tuli. Ia berbicara tidak panjang tapi terasa menggigit. “Anak kuli adalah anak manusia juga sebagaimana anak bangsa apapun dan golongan apapun juga,”kata Tan, mungkin saja sambil melirik kepada Tuan Graf. Tan menyerukan bahwa pendidikan begitu penting bagi anak-anak kuli, tujuan pendidikan tidak lain adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Serta kebiasaan bekerja tangan juga penting bagi masyarakat disamping juga pekerjaan otak.

Sementara itu, bagi Graf dan juga tuan besar perkebunan lainnya, pendidikan untuk anak kuli adalah kerja untuk membuang-buang pengeluaran. Barangkali sekolah akan membuat anak-anak kuli menjadi lebih buas sebagaimana ayah-ayah mereka. Sekolah bisa saja melahirkan kader-kader tangguh yang sulit ditertibkan sebagaimana pengalaman pemerintah kolonial di Jawa dengan Sarekat Islam.

Merasa kerjanya terganggu, Tan kemudian mengundurkan diri. Dr Jansen tidak bisa berbuat banyak. Ia meminta kantornya untuk membayar gaji Tan Malaka, dan meminta juga untuk menyediakan karcis kapal Tan untuk berangkat ke Jawa. Meskipun banyak diantara nyonya-nyonya tuan besar menolak untuk memberikan karcis kelas satu. 

Tak lama setelah itu, Tan Malaka sampai di Jawa. Ia bertemu dengan sahabatnya yang juga tokoh pendidikan. R. Soetopo, seorang guru Sekolah Pertanian di Purworejo. Soetopo lah kemudian membawa Tan Malaka ke kongres Sarekat Islam di Yogyakarta. Di kongres ini Tan Malaka bertemu dengan HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Samaun. Saat dimana Sarekat Islam sedang terpecah menjadi dua faksi, islam dan komunisme. Sebagai faksi yang condong kepada komunisme, Samaun mengundang Tan Malaka ke Semarang. Pada momentum inilah kemudian mereka bersepakat untuk mendidikan sekolah rakyat bagi calon pemimpin revolusioner. Sarekat islam yang memfasilitasi gedung dan sarana lainnya. Sementara Tan Malaka yang memikirkan bagaimana kurikulum dan metodanya. Berbekal pengalaman di Deli, Tan Malaka kemudian mulai membayangkan bagaimana kurikulum yang sekiranya cocok dengan kebutuhan “rakyat yang melarat”, sebut Tan Malaka dalam brosurnya. Kebutuhan dan jiwa “rakyat murba” sebutan lain oleh Tan untuk kaum proletar. Kurikulum itu kemudian dibentangkan dalam brosur yang bertajuk SI Semarang dan Onderwijs.

Dalam brosur itu lah Tan Malaka menguraikan apa kira-kira dasar dan tujuan pendidikan kerakayatan. Pertama, perlunya pendidikan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, dan bahasa. Keterampilan ini yang dibutuhkan oleh anak didik untuk berhadapan dengan pemilik modal. Kedua, pendidikan bergaul, berorganisasi, dan berdemokrasi. Pendidikan ini tidak lain adalah untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, percaya diri, harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin. Ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah. Sekolah ini berjalan pada pagi dan sore hari. Pada sore hari Tan Malaka mengejar dengan kursus-kursus. Terutama kursus guru. Tentunya guru yang berhaluan kerakyatan. Kabar sekolah model kerakyatan ini dengan cepat menyebar ke sejumlah daerah. 

Hari ini, apakah kemudian sekolah rakyat semacam ini juga yang digadang-gadang sebagai program pengentasan kemiskinan terpadu presiden prabowo? Sekolah yang kita tahu, sejak pendiriannya di banyak tempat banyak yang bermasalah.

Penulis:
Roni Keron
(Alumni Program Studi Humanitas Pasca Sarjana ISI Padangpanjang. Pegiat Festival Warga. Salah satu inisiator Bintang Harau, ruang belajar alternatif anak-anak pedalaman Harau. Menetap di Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang)