Opini

Manjulang di Ateh Marapi, Marauak Langik Batungkek Bumi: Memegang ABS-SBK sebagai Jatidiri Urang Awak

Manjulang di Ateh Marapi, Marauak Langik Batungkek Bumi: Memegang ABS-SBK sebagai Jatidiri Urang Awak

Dalam lanskap pemikiran sosiokultural Nusantara, kebudayaan tidak pernah dipahami sekadar sebagai dokumen hukum tertulis atau kontrak sosial yang kaku di atas kertas. Kebudayaan adalah sebuah “organisme hidup”—sebuah kebulatan jiwa dan daya dorong peradaban yang dinamis. Proklamator bangsa asal Minangkabau, Mohammad Hatta, dalam catatannya menegaskan landasan filosofis ini secara kuat bahwa: “Adat Minangkabau bukanlah sebuah dokumen mati yang beku di dalam piagam sejarah. Ia adalah adat yang hidup, yang tumbuh secara alami dari kedalaman jiwa masyarakatnya…” Tesis ini dipertegas secara benderang oleh Buya HAMKA yang menyatakan bahwa integrasi adat dan Islam bukanlah taktik gencatan senjata politik, melainkan peleburan ontologis di mana adat menemukan keluhurannya dalam syariat. Dari kacamata antropologis yang jernih dari para pemikir bangsa inilah kita harus meluruskan kekeliruan berpikir adinda penulis tersebut melalui tiga dekonstruksi fundamental.

Manyuruak ka Bawah Tampuruang: Kejumudan Dogma dan Akar Intoleransi di Ranah Minang

Manyuruak ka Bawah Tampuruang: Kejumudan Dogma dan Akar Intoleransi di Ranah Minang

Tudingan provokatif Permadi Arya beberapa waktu lalu yang melabeli Sumatera Barat sebagai daerah yang “barbar” dalam beragama dan episentrum intoleransi, tak pelak memantik gelombang kemarahan publik Minangkabau. Reaksi defensif bermunculan, menuduh sang pemantik sedang melakukan pembunuhan karakter. Namun, ketika asap emosi mereda, kita harus memiliki keberanian intelektual untuk menatap cermin dan menelan pil pahit. Berbagai rilis Indeks Kota Toleran dari lembaga sipil secara konsisten menempatkan kota-kota di Sumatera Barat di papan bawah. 

Membaca Tan dan Pak Natsir: Manimbang Jo Raso di Ruang Digital

Membaca Tan dan Pak Natsir: Manimbang Jo Raso di Ruang Digital

Membaca ulasan jernih dari sahabat saya di Rundiang.id (16/5/2026) dalam artikel “Tan dan Pak Natsir di Media Sosial” Menghadirkan rasa terima kasih yang sangat mendalam di hati. Di tengah riuhnya algoritma media sosial yang sering kali memaksa kita berpihak dalam hitam-putih, kehadiran tulisan tersebut seperti oase, sebuah ajakan bersahabat untuk menarik napas dalam-dalam, duduk bersila, dan membaca ulang serta manimbang jo raso.

Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”

Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”

Kalau bicara politik Sumatera Barat, rasanya memang susah dipisahkan dari agama dan budaya. Dari dulu urang awak tumbuh dekat dengan surau, musyawarah, dan nilai ABS-SBK yang “indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.” Mungkin itu sebabnya politik di Sumbar terasa berbeda dibanding banyak daerah lain. Politik bukan cuma soal perebutan kekuasaan, tapi juga soal kedekatan nilai antara pemimpin dan masyarakat urang awak.

Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang diisi beragam pemikiran, gagasan, peristiwa dan kronik antar manusia yang khas dan pelik. Kita hidup dalam sejarah itu, dalam segala kepelikan dan kekhasannya. Manusia masa kini mencari teladan dari sejarah, dari peristiwa dan dari tokoh di masa lampau. Kini kita dapat menyebut nama dari kelampauan sejarah kita, Mohammad Natsir dan Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau lebih sohor dikenal sebagai Tan Malaka.

Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said

Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said

Di antara banyak tokoh besar dari Minangkabau, ada dua nama perempuan yang sama-sama dikenang sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Rahmah El Yunusiyah dan muridnya, Rasuna Said. Bagi sebagian orang, kisah keduanya mungkin sudah sering didengar. Namun bagi saya, Gen-Z Minang yang masih belajar memahami sejarah tokoh-tokoh dari tanah sendiri, hubungan guru dan murid ini justru memunculkan banyak pertanyaan yang tidak sederhana.