Dendam dari Bukit Jelutung

oleh | Sep 29, 2026 | Kaba, Sastra

Namanya Ahmad Husein, enam puluh dua tahun, orang-orang memanggilnya Usin. Ia terduduk, perselisihan dengan perusahaan kembali dimenangkan pihak perusahaan. Usin hanya bisa termenung menatapi ladangnya yang dulu ditanami kacang, padi gogo, cabai, dan terong, kini telah berganti, ditumbuhi sawit setinggi puluhan meter. Ladang masa kecil Usin menjadi lahan HGU1 milik perusahaan sejak sembilan belas tujuh empat; ninik mamak kaum persukuan Tigo Niniak telah bersalaman dengan orang perusahaan, membuat hitam di atas putih, bersepakat kembali bahwa sebagian tanah ulayat kaumnya akan diberikan kembali ke perusahaan untuk dikelola, seperti kesepakatan puluhan tahun lalu.

Usin tak pernah benar-benar mampu membenci mamaknya, sebab mamaknya jualah adik Usin yang bernama Bahar bisa bekerja di perusahaan tersebut. Dendam alang kepalang kepada negara dan perusahaan ia tahan, ia pupuk, ia tunggu kesempatan hari pembalasan.

Kembali ke 1974, Usin kecil tinggal sepelemparan batu dari tepian Sungai Batanghari. Airnya jernih, ikannya berlimpah, kayu-kayu tinggi nan rimbun menaungi tepian sehingga menjadi teduh. Sebelum sembahyang ke surau, Usin berwudu ke sungai. Usin dan kawan-kawannya menyempatkan diri untuk menggali cacing, memasangnya pada kail, lalu menancapkan tangkainya di pinggir tebing Batanghari. Kehidupan masa kecil Usin dan anak-anak Rantau Batanghari lainnya tidak bisa dilepaskan dari surau. Surau adalah salah satu pusat semesta mereka. Di sanalah mereka tumbuh besar bersama, menempa fondasi spiritual. Selepas lampu-lampu minyak dinyalakan, di bawah bimbingan dari Tuk Karanai, mereka duduk melingkar belajar mengeja ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tak hanya mengaji, Tuk Karanai juga mengajarkan mereka Silek Pingian2.

Usai sembahyang, ikan sudah pasti didapat; dua ekor lempam cukup untuk sarapan pagi Usin beserta Uni, adik, dan Amaknya. Dulu Usin tujuh bersaudara; dua saudara Usin meninggal karena malaria, satu meninggal kala tidur, satu lagi hilang disurukkan bunian3 di rimba. Sekarang Usin hanya punya satu Uni dan satu adik. Sejak umur delapan tahun Usin tak lagi menerima usapan tangan ayahnya; ayah Usin memilih serumah dengan istri mudanya.

Kini telah memasuki bulan Agustus. Pada bulan-bulan ini tepian Batanghari akan menjadi ramai; orang-orang mulai mendirikan pondok, mengasah tombak, dan menjahit jala. Kira-kiranya dua pekan lagi ikan tapah dan soma4 akan mengerubungi tepian untuk kawin. Kalaulah punya rezeki, mendapatkan tapah selebar papan bukanlah hal yang sulit, atau memenuhi keruntung dengan ikan soma. Terkhusus ikan soma, ia bisa digulai tanpa harus membuang sisiknya. Dagingnya luar biasa nikmat, konon ikan ini juga disebut ikan dewa.

“Bahar, kau yang mengayuh,” kata Usin. Bahar lengah saja.

“Oi, jimbalang5! Kakiku sudah penat. Pagi tadi aku yang mengayuh, kini tiba giliran kau!” Usin naik pitam.

Sadar bahwa kakaknya sedang tidak bergurau, Bahar turun, dan mereka akhirnya bergantian mengayuh ontel. Ontel yang tak memiliki rem serta setangnya yang diganti dahan duku. Sungguhpun demikian, Usin dan Bahar tetap menjaga kendaraan pemberian Datuk. Mereka harus bersepeda kurang lebih sepuluh kilometer untuk menjemput ilmu: Usin kelas tiga SMP dan Bahar kelas satu.

Sesampai di rumah, tak seorang pun menjawab salam dari Usin, tapi ini hal biasa. Amak pasti sedang di ladang. Perut mereka lapar alang kepalang. Jika ingin mengisi perut, jelas harus ke ladang; nasi hanya ditanak di ladang. Selepas menukar pakaian, Usin dan Bahar bergegas ke ladang.

“Mak, oooi Maakk!” Usin menyeru-nyeru memanggil Amak. Usin mengulanginya hingga tiga kali sembari berjalan ke sempadan ladang. Di ujung ladang lain, Uni menjawab seruan dari Usin.

“Uii, kemari laaah!”

Usin berlari-lari kecil di antara padi gogo, juga Bahar di belakang, datang ke tempat Uni. Ada banyak orang di sana. Perut kosong tadi bukan lagi jadi pikiran; Usin bertanya-tanya ada apa gerangan di keramaian.

“Onga Ijal diterkam Inyiak Bolang6. Dibaca dari jejak tapaknya ada tiga ekor, sampai sekarang tak tahu wujudnya. Sebentar ini Uda As diantar ke simpang empat Koto Baru, kalau-kalau ada mobil, bisa menumpang ke mudik, menjemput dukun harimau ke Sumpur Kudus,” gelisah Uni menyampaikan kabar.

Bagi orang tepian Batanghari, kemunculan Inyiak Bolang punya banyak pertanda, salah satunya ada gelagat kemalangan, apalagi sampai menerkam manusia. Masyarakat jarang sekali berinteraksi dengannya. Beberapa masyarakat yang berladang jauh mengatakan bahwa Inyiak Bolang bersemayam di Rimbo Bukik Batabuah atau di Rimbo Sungai Bosau. Nasib malang memang tak dapat dikaji; Onga Ijal hanyalah pria sebatang kara yang baru-baru ini ditinggal mati istrinya. Kerjanya sehari-hari ialah menakik kayu karet yang diambil getahnya.

“Amak mana?” tanya Usin pada Uni.

“Tadi pagi Amak dibawa Mak Amir pergi, ada perihal penting katanya.”

Pada petang yang akan dijemput bulan, Amak tak kunjung hadir di ladang. Uni, Usin, dan Bahar berjalan kencang beranjak pulang. Bahar menjunjung kambut nan dipenuhi cabai dan terung; esok pagi akan dibawa Uni ke Pasar Koto Baru ditukar menjadi uang. Malam itu Usin dan Bahar tak berangkat ke surau, menemani Uni di rumah.

Saat matahari telah terbit, nyanyian siamang bersahut-sahut dari kejauhan. Amak mengetuk pintu, diantar Mak Amir pulang. Terengah-engah, sebab jarak rumah Mak Amir ke rumah mereka lumayan jauh. Amak tak diperbolehkan Mak Amir jalan sendirian, takut-takut harimau yang menerkam Onga Ijal masih berputar-putar di sekitar kampung. Uni membukakan pintu, membuatkan teh. Ada pertanyaan yang akan Uni sampaikan, namun ia tahan. Uni menjunjung kambut hasil panen kemarin untuk ia bawa ke Pasar Koto Baru. Tadi malam Amak tidur di rumah Mak Amir.

“Satu pekan dari sekarang, ladang kita akan diambil orang perusahaan,” ujar Amak sambil meletakkan gelas teh yang baru ia sesap.

“Amir dan ninik mamak lain sudah sepakat, tanah kaum kita yang telah digarap dan juga rimba di seberang Batanghari akan ditanami sawit,” sambung Amak dengan nada tak berdaya.

Amak adalah bundo kanduang7 suku kaum Tigo Niniak, keputusan besar juga ada di mulut Amak. Jika Amak tak menyepakati, ninik mamak telah menyiapkan banyak alasan untuk menyudutkan Amak: bahwa Amak telah menghambat kemajuan kampung, bahwa Amak menghambat rezeki orang lain. Apa akal Amak lagi, tak ada jawaban selain harus mengiyakan.

Dua hari setelah dibawa Mak Amir, barulah Amak tahu dua orang perwakilan ninik mamak dari masing-masing kaum di nagarinya dua pekan lalu berangkat ke Kota Padang. Mereka pastilah dirayu-rayu dengan bermacam kemewahan dan jabatan, bahwa setelah izin perusahaan dan pemberian izin lahan mereka tandatangani, mereka akan mendapatkan banyak keuntungan. Amak akhirnya paham, itulah tanda kemalangan yang dibawa tiga ekor harimau yang menerkam Onga Ijal tempo hari. Orang-orang pulau seberang yang bahkan tak mengerti arti bondau8, pagau9, atau kondiak10, datang ke tanah mereka membawa besi-besi raksasa yang kini dalam perjalanan dari Pelabuhan Teluk Bayur ke kampung.

Alat-alat berat datang ke kampung, puluhan jumlahnya. Mobil-mobil besar membawa besi-besi nan konon akan dijadikan jembatan ke seberang Batanghari. Dalam waktu tiga bulan, jembatan mereka telah kokoh berdiri. Jalan-jalan kampung sudah menjadi lebar walau belum diaspal. Balok-balok besar berlalu-lalang di tengah kampung mulai diangkut ke somel11. Medang, meranti, hingga kulim kini diubah menjadi papan oleh Mak Amir. Bajingan itu sekarang sudah punya somel; entah di mana ia mendapat modal, balok-balok kayu tadi digesek menjadi papan dan dibawa ke Kota Padang, Jambi, atau ke Pekanbaru.

Bukit Jelutung yang dulu rimbun… Di pinggang Bukit Jelutung dulu Usin dan Bahar kerap mengawani mendiang Datuk pergi memikat ayam hutan, burung pergam, menjerat kijang, atau sesial-sialnya hari mereka pulang dengan membawa sekambut cempedak hutan. Kini tak sebatang pun ada pohon besar di sana. Kalaulah Datuk masih hidup, mungkin semua kepala ninik mamak akan ia ladiang12, entah itu dari kaumnya atau dari suku lain. Bagi Datuk, rimba adalah tempat menopang nyawa dan rumah kedua. Nilai-nilai menghormati alam itu turun pada Usin; ia tak lagi tunduk pada Mak Amir dan ninik mamak lain sebagai tetua-tetua adat. Perkara ketidaksenangan itulah Usin membuat sebuah muslihat.

“Bahar, kau belikan dulu minyak tanah ke kedai!” Usin memerintah sang adik sambil menyodorkan beberapa lembar uang.

“Minyak tanah Amak kan masih ada di belakang. Kalau untuk sekadar pemancing api untuk menghangatkan air, lebih dari cukup.”

“Beli dua liter! Setelah itu kau ikut aku pergi membakar rumah di camp baru perusahaan,” muslihat Usin.

“Gila kau! Kalau kita ketahuan, kitalah yang akan dibakar warga!”

“Tidak akan sampai ketahuan. Kalau sampai ketahuan, kau lari saja, biar aku yang dibakar warga. Kau lebih takut dibakar warga atau dimarahi mendiang Datuk?”

Kalau sudah membawa-bawa mendiang Datuk, tak dapat lagi Bahar membantah perintah Usin. Dengan rasa takut-takut ia membeli dua liter minyak tanah ke kedai. Malam itu Usin dan Bahar berhasil membakar dua rumah di camp baru perusahaan. Rumah-rumah itu memang belum dihuni karena pembangunan pabrik belum selesai. Sudah lama Usin membuat sketsa dalam kepalanya: kawasan pabrik memang dipagar tapi tidak tinggi, bukan hal sulit bagi mereka untuk memanjat dan keluar masuk. Pabrik juga sudah punya satpam—tiga orang jumlahnya—namun mereka hanya berjaga di portal gerbang depan. Dua rumah yang dibakar Usin dan Bahar berada cukup jauh dari portal depan dan minim penerangan.

Sesampainya di rumah, Bahar sudah keringat dingin. Rasa waswas dan takut masih mengerubungi kalau-kalau ketahuan; tak terbayangkan ia akan masuk tangsi. Kasihan juga pada Amak. Semenjak ladang diambil alih perusahaan, Amak bekerja sebagai tukang masak untuk para tukang yang bekerja membangun pabrik, sementara Uni sekarang bekerja sebagai pengisi polybag berupah lima rupiah untuk satu kantong. Kantong-kantong ini akan diisi kecambah sawit dan dijadikan bibit.

Pagi itu kabar mengenai terbakarnya dua rumah di camp pabrik sudah sampai di telinga seluruh warga kampung. Rumah-rumah itu hanya tersisa dinding dan atap seng yang berguguran. Berbagai cerita dan tuduhan mulai bertebaran; ada yang percaya bahwa ini adalah ulah antu balawu13 nan kurang senang dengan keberadaan pabrik. Kabar tentang antu balawu yang membakar rumah camp segera menjadi buah bibir. Namun, Mak Amir bukanlah orang bodoh yang mudah dikelabui oleh dongeng hantu. Sebagai pemilik somel yang kini dekat dengan orang-orang perusahaan, ia tahu betul ada tangan manusia yang sengaja memercikkan api ketidaksenangan.

“Kita harus pergi dari sini,” bisik Bahar suatu malam, suaranya parau menahan tangis. “Orang-orang perusahaan mulai bertanya-tanya tentang minyak tanah yang kubeli tempo hari. Pemilik kedai agaknya sudah bernyanyi pada Mak Amir.”

“Kalau kita lari, kita mengkhianati Datuk! Rimba kita sudah habis, tak lama lagi Batanghari akan keruh oleh limbah. Mau lari ke mana lagi kita?” sergah Usin, matanya menyala sampai tampak urat leher. Keberanian darah muda telah membutakan akal sehatnya dari bahaya.

Ketegangan memuncak menjelang akhir bulan. Amak pulang dari tempatnya bekerja dengan wajah pucat pasi. Ia memeluk Uni dan kedua anak lelakinya sembari menangis tanpa suara. Rupanya tadi ia mendengar obrolan para petinggi bersama tentara yang sengaja didatangkan dari Muaro Sijunjung. Mereka akan membersihkan siapa saja yang menghalangi kemajuan proyek tersebut, dan nama Usin berada di daftar teratas.

Sebelum fajar menyingsing pada hari berikutnya, kesunyian kampung pecah oleh suara deru beberapa mobil jip dan bentakan kasar. Pintu papan rumah Usin didobrak paksa hingga engselnya patah. Beberapa pria tegap berseragam dan beberapa orang suruhan Mak Amir merangsek masuk. Amak menjerit histeris, sementara Uni mencoba menahan tubuh adiknya, namun popor senjata mentah-mentah mendarat di pelipis Uni hingga ia terjerembap berlumuran darah.

Usin dan Bahar diseret keluar tanpa ampun ke halaman rumah. Di bawah temaram lampu senter, Mak Amir berdiri mendampingi seorang pria berdasi dari perusahaan. “Inilah budak yang mau jadi pahlawan kesiangan itu, Tuan,” ujar Mak Amir. Wajah puas terpampang jelas, tak lagi ia peduli pada kemenakannya.

Malam itu menjadi malam terakhir Usin melihat rumahnya dan melirik wajah Amak serta Uni yang menangis meraung-raung. Usin dan Bahar dijebloskan ke dalam tangsi di Muaro Sijunjung tanpa belas kasihan meski mereka masih di bawah umur, dengan tuduhan sabotase, provokator, dan perusak aset negara serta swasta.

Di dalam sel yang pengap dan gelap, satu tahun setelah mereka tertangkap, Mak Amir datang memberi tawaran: mereka akan ditebus jika mau bekerja di pabrik. Usin menolak mentah-mentah tawaran itu; tak sepatah kata pun ia anggukkan. Bahar kini tak lagi sependapat dengan Usin; ia memilih pulang, tak lagi kuat hidup dalam jeruji.

Selepas habisnya masa tahanan, Usin merantau ke Batam. Berpuluh tahun ia tak menginjak tanah kelahiran, berpuluh tahun jua ia bekerja sebagai pengantar koran. Suatu waktu ia memutuskan pulang. Momen kedatangan Usin bertepatan dengan pembaruan masa perpanjangan HGU tanah ulayatnya. Beberapa warga kampung sekarang sudah beralih pihak; sikap ini berubah dikarenakan lubuk-lubuk di pertemuan Batang Timpeh dan Batanghari kini tak lagi berisi ikan akibat limbah pabrik.

Usin kira sekarang ia punya kesempatan, tapi memang di dunia ini semuanya punya harga. Perusahaan tak habis akal; mereka memberikan lahan yang berbatasan dengan daerah Jambi sebagai bentuk hibah kepada warga yang menolak. Para warga menerimanya, kecuali Usin. Meskipun Mak Amir telah lama mati, Usin pulang hanya untuk menjemput kekalahan yang kedua kali.

Usin yang kini telah berusia enam puluh dua tahun mengusap air mata yang mengering di pipinya yang keriput. Ia terbangun dari lamunan masa lalunya. Dendam alang kepalang yang dipupuknya selama puluhan tahun ternyata tak pernah menemukan hari pembalasan.

  1. Hak Guna Usaha. ↩︎
  2. Salah satu aliran silat yang berkembang di Rantau Batanghari, Dharmasraya. ↩︎
  3. Makhluk tak kasat mata seperti manusia dalam mitologi Melayu dan Minangkabau. ↩︎
  4. Ikan Semah. ↩︎
  5. Hantu tanah dalam kepercayaan masyarakat Minangkabau. ↩︎
  6. Harimau Sumatera. ↩︎
  7. Gelar kehormatan dan pemimpin adat perempuan di Minangkabau yang memegang peran sentral dalam sistem kekerabatan Matrilineal. ↩︎
  8. Parit/selokan.  ↩︎
  9. Pagar. ↩︎
  10. Babi. ↩︎
  11. Tempat pengolahan kayu. ↩︎
  12. Golok atau Parang. ↩︎
  13. Makhluk gaib dalam kepercayaan masyarakat Dharmasraya. ↩︎

Penulis:
Achmal Assahab
Yayasan Konservasi Hutan Harimau.
@donkemal