Indonesia 81 Tahun Merdeka, Mengapa Gagasan Negaranya Seperti Sedang Mengulang Masa Lalu?

oleh | Agu 15, 2026 | Esai, Opini

Ada yang terasa lucu dari negeri ini. Kita sudah 81 tahun merdeka, tetapi kadang cara negara berbicara kepada rakyat terdengar seperti Indonesia baru saja keluar dari pintu gerbang kemerdekaan. Pidato tentang kemandirian terdengar berulang-ulang—tentang rakyat harus makan, tentang koperasi, rumah, kebutuhan dasar, hingga kembali kepada kesederhanaan. Semua itu tentu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang agak kurang sopan untuk diajukan: setelah 81 tahun merdeka, kapan kita mulai benar-benar sibuk membicarakan masa depan?

Sebab dunia sudah bergerak ke kecerdasan buatan, robotika, kendaraan otonom, energi terbarukan, semikonduktor, bioteknologi, teknologi antariksa, kota pintar, dan industri berbasis data. Sementara kita kadang masih begitu bangga ketika menemukan cara baru untuk mengemas persoalan lama. Seolah-olah pembangunan cukup dengan memastikan rakyat makan, punya rumah, lalu mendirikan koperasi. Tidak salah, hanya saja kalau cita-cita negara berhenti di sana, kita sedang membangun manusia untuk bertahan hidup, bukan manusia untuk memenangkan masa depan.

Negara Maju Sibuk Membuat Masa Depan, Kita Sibuk Mengurus Masa Kini

Coba lihat ironi sederhananya. Negara-negara maju sedang bertanya: bagaimana manusia hidup bersama kecerdasan buatan? Bagaimana energi bersih menggantikan energi fosil? Bagaimana robot bekerja berdampingan dengan manusia? Bagaimana teknologi kesehatan memperpanjang kualitas hidup? Bagaimana pendidikan menyiapkan anak menghadapi pekerjaan yang bahkan hari ini belum ada?

Kita? Masih sibuk bertanya bagaimana rakyat bisa makan. Sekali lagi, memberi makan rakyat bukan kesalahan. Yang menjadi masalah adalah ketika memberi makan dianggap sebagai puncak keberhasilan pembangunan. Perut memang harus kenyang, tetapi kepala juga harus diisi, dan lebih jauh lagi diberi kemampuan untuk menciptakan sesuatu.

  • Kalau setiap persoalan kemiskinan diselesaikan dengan bantuan, kapan rakyat diberi kesempatan untuk naik kelas?
  • Kalau setiap persoalan pangan diselesaikan dengan membagikan makanan, kapan kita serius membangun industri pangan?
  • Kalau setiap persoalan ekonomi rakyat diselesaikan dengan koperasi, kapan kita membangun koperasi yang mampu menguasai teknologi, data, distribusi, dan pasar global?

Jangan sampai kita terlalu sibuk membagikan kue sampai lupa belajar membuat ovennya.

Koperasi Boleh, Tetapi Jangan Berhenti di Abad Lalu

Koperasi sebenarnya gagasan yang bagus. Yang lucu adalah ketika koperasi seolah diperlakukan sebagai jawaban baru untuk persoalan yang sebenarnya membutuhkan transformasi. Koperasi hari ini jangan hanya menjadi tempat membeli sembako, menyimpan uang, meminjam uang, atau mengelola bantuan.

Kalau koperasi ingin menjadi masa depan ekonomi rakyat, mengapa tidak dibuat menjadi koperasi digital? Mengapa tidak menjadi koperasi petani berbasis data, koperasi energi, atau koperasi teknologi yang mampu menghubungkan petani langsung dengan pasar nasional bahkan global? Sebab koperasi yang hanya menjual barang kebutuhan sehari-hari mungkin membantu rakyat bertahan, tetapi koperasi yang menguasai teknologi dapat membuat rakyat berdaulat secara ekonomi. Kita tidak membutuhkan sekadar koperasi yang punya papan nama, kita membutuhkan koperasi yang punya daya tawar. Kalau negara hanya mengubah bentuk, nama, dan kemasan tanpa mengubah kapasitas, itu bukan transformasi—itu hanya rebranding kemiskinan dengan spanduk pembangunan.

Rumah Ijuk, Rumbia, dan Romantisme Kemiskinan

Hal yang sama terjadi ketika kesederhanaan mulai dipasarkan sebagai kebijaksanaan. Rumah dengan ijuk, rumbia, maupun genteng memang bagus; tradisi dan kearifan lokal pun bagus. Tetapi ada satu hal yang jangan dilupakan: orang miskin juga punya hak untuk menikmati kemajuan. Jangan karena rumah sederhana dianggap tradisional, lalu kita merasa sudah menyelesaikan persoalan perumahan.

Rakyat desa tidak harus selamanya hidup dalam romantisme masa lalu. Mereka berhak memiliki rumah tahan gempa, panel surya, internet cepat, air bersih, sanitasi modern, serta rumah yang hemat energi dan nyaman tanpa harus kehilangan identitas budayanya. Karena melestarikan budaya tidak berarti melestarikan keterbatasan. Minangkabau tidak kehilangan adat hanya karena rumahnya memakai teknologi modern; Orang Jawa tidak kehilangan budayanya karena rumahnya menggunakan panel surya; Orang Papua tidak kehilangan identitas karena menggunakan internet berkecepatan tinggi. Tradisi adalah identitas dan teknologi adalah alat—kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Yang harus ditolak adalah ketika keterbelakangan diberi nama kearifan lokal agar terdengar indah.

Jangan Jadikan Kemiskinan Sebagai Estetika

Ada bahaya lain yang lebih serius. Kita mulai terbiasa melihat kesederhanaan sebagai sesuatu yang romantis, seolah-olah rakyat miskin harus tetap miskin agar negara terlihat dekat dengan rakyat. Padahal tujuan pembangunan justru sebaliknya: membuat rakyat tidak lagi miskin.

  • Kalau rumah rakyat masih sederhana, jangan buru-buru mengatakan itu bentuk kearifan. Tanyakan apakah mereka memang memilihnya atau memang tidak punya pilihan.
  • Kalau petani masih menggunakan cara lama, jangan buru-buru menyebutnya tradisional. Tanyakan apakah mereka tidak mau menggunakan teknologi atau memang tidak mampu membelinya.
  • Kalau nelayan masih menggunakan perahu kecil, jangan hanya memuji keberanian mereka melaut. Tanyakan mengapa setelah puluhan tahun merdeka mereka belum memiliki akses teknologi, pembiayaan, dan pasar yang membuat mereka naik kelas.

Jangan mengubah keterbatasan rakyat menjadi bahan pidato kebanggaan.

Kita Bukan Kekurangan Program. Kita Kekurangan Lompatan.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan program, kita kekurangan lompatan. Setiap pemerintahan bisa membuat program—diberi nama yang indah, logo yang bagus, dan spanduk yang dicetak besar. Kemudian pejabat datang berpidato, kamera menyala, dan tepuk tangan terdengar. Selesai.

Tetapi setelah kamera mati, pertanyaan sesungguhnya dimulai: apa yang berubah? Apakah produktivitas naik? Apakah pendapatan rakyat naik? Apakah industri tumbuh, teknologi berkembang, sekolah menghasilkan manusia yang lebih kompeten, petani menjadi lebih kuat, koperasi menjadi lebih produktif, dan Indonesia semakin mampu menghasilkan teknologi sendiri?

Kalau jawabannya tidak terlalu jelas, mungkin yang kita miliki bukan transformasi, melainkan hanya kesibukan pembangunan. Dan negara yang terlalu sibuk belum tentu sedang maju.

Jangan Sampai Kita Menjadi Negara yang Rajin Membagikan, Tetapi Malas Menciptakan

Ini persoalan yang lebih besar. Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan dari berapa banyak yang dibagikan: berapa piring makanan, berapa rumah, berapa koperasi, bantuan, paket, atau program. Padahal ukuran negara maju bukan sekadar berapa banyak yang dibagikan, melainkan berapa banyak yang mampu diciptakan.

Berapa teknologi yang lahir? Berapa perusahaan teknologi yang tumbuh? Berapa industri yang kita kuasai dan paten yang kita hasilkan? Berapa anak desa yang menjadi ilmuwan, petani yang berubah menjadi pengusaha industri pangan, koperasi yang mampu bermain di pasar global, energi yang bisa kita produksi sendiri, serta produk Indonesia yang tidak lagi sekadar menjadi bahan mentah?

Di situlah pembangunan seharusnya berbicara. Sebab negara besar bukan negara yang rakyatnya terus menerima; negara besar adalah negara yang rakyatnya mampu menciptakan.

Delapan Puluh Satu Tahun Merdeka, Jangan Terus Memelihara Mental Negara Baru Berdiri

Indonesia sudah 81 tahun. Kita tidak lagi boleh berpikir seperti bangsa yang baru selesai mengusir penjajah. Kita memang masih memiliki pekerjaan rumah, tetapi pekerjaan rumah tidak boleh menjadi alasan untuk tidak mengerjakan pekerjaan masa depan. Kemiskinan harus diberantas, kelaparan harus diatasi, dan rumah layak harus disediakan. Namun semuanya harus menjadi jembatan menuju produktivitas, bukan tujuan akhir pembangunan.

  • Anak yang hari ini diberi makan harus dipersiapkan menjadi ilmuwan.
  • Petani yang hari ini dibantu harus dipersiapkan menjadi pemilik industri.
  • Nelayan yang hari ini diberi bantuan harus dipersiapkan menjadi pengusaha maritim.
  • Koperasi yang hari ini dibangun harus dipersiapkan menjadi kekuatan ekonomi berbasis teknologi.
  • Rumah rakyat yang hari ini dibangun harus menjadi bagian dari ekosistem kehidupan modern.

Kalau tidak, kita hanya akan mengulang siklus yang sama: rakyat kesulitan → negara membuat program → rakyat menerima → program selesai → persoalan kembali → negara membuat program baru. Begitu terus, seperti orang yang setiap tahun mengepel lantai tetapi tidak pernah memperbaiki atap yang bocor.

Presiden Tidak Cukup Menjanjikan Masa Depan

Presiden boleh berbicara tentang Indonesia maju, kemandirian, ekonomi kerakyatan, dan kesejahteraan. Tetapi ukuran kepemimpinan bukanlah seberapa indah masa depan digambarkan dalam pidato, melainkan seberapa jauh kebijakan hari ini membuat masa depan itu benar-benar mungkin.

Kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara besar, melainkan kebijakan yang membuat Indonesia mampu menjadi negara besar. Dan menjadi negara besar bukan dengan membuat rakyat sekadar cukup makan, melainkan mampu menciptakan teknologi, menguasai industri, mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun manusia, mengolah sumber daya menjadi nilai tambah, dan membuat rakyat memiliki kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri. Sebab kemerdekaan yang sejati bukan sekadar kemampuan untuk berdiri sendiri, melainkan kemampuan untuk tidak terus-menerus bergantung.

Jangan Sampai Kita Salah Arah

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya: “Program apa lagi yang akan dibuat?” dan mulai bertanya: “Lompatan apa yang sedang dibuat?” Sebab rakyat tidak membutuhkan negara yang terus-menerus terlihat bekerja, melainkan negara yang benar-benar menghasilkan perubahan.

Tidak apa-apa makan bersama, berkoperasi, membangun rumah sederhana, atau mempertahankan ijuk, rumbia, genteng, dan tradisi. Tetapi jangan berhenti di sana. Setelah makan, mari berpikir. Setelah berkoperasi, mari berproduksi. Setelah membangun rumah, mari membangun teknologi. Setelah menjaga tradisi, mari menciptakan masa depan.

Karena Indonesia tidak kekurangan sejarah—Indonesia justru terlalu kaya sejarah. Yang kita butuhkan sekarang adalah masa depan. Jangan sampai 81 tahun kemerdekaan hanya membuat kita semakin pandai mengulang kalimat tentang masa depan, tetapi semakin miskin dalam menciptakannya. Sebab bangsa yang benar-benar maju tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya merakyat dengan membawa rakyat kembali ke masa lalu, melainkan membuat rakyat kecil sekalipun punya kesempatan untuk hidup di masa depan.

Dan mungkin di situlah letak kelucuan Indonesia hari ini: kita sedang bermimpi menjadi negara maju, tetapi sebagian gagasan pembangunannya masih sibuk mencari sandal untuk berjalan menuju masa depan.

Penulis:
Salistio Erisa Putra
Lulusan ekonomi pembangunan Universitas Bung Hatta, demisioner Ketua BEM FEB UBH, pengusaha dan penulis/pegiat literasi yang hari ini aktif di beberapa kegiatan sosial di Solok.