Menjadi aktivis kiri di kampus dan kompromistis begitu memegang kendali atas adik-adik sepertinya sudah jadi starter pack wajib sebagian mantan aktivis. Penasihat Khusus Presiden yang juga menjabat Komisaris PT. Pertamina (Persero), Hasan Nasbi, secara blak-blakan menceritakan kembali nostalgia romantis perjalanannya berakrobat secara intelektual mulai dari penganut gagasan religius, berbelok drastis ke kiri ekstrem, hingga akhirnya berlabuh nyaman di pelukan birokrasi pusat.
Pengakuan track record intelektual ini ia sampaikan dalam program Q&A di Metro TV yang diunggah ke kanal YouTube pada Minggu, 28 Juni 2026. Topik soal Tan Malaka mencuat bukan tanpa alasan; mantan aktivis kampus sekaligus keponakan almarhum Buya Syafi’i Ma’arif ini rupanya punya rekam jejak mentereng sebagai mantan sekretaris Harry A. Poeze, sejarawan kawakan Belanda yang hidupnya dihabiskan untuk membongkar rekam jejak sang Bapak Republik.
Pria yang mengenyam pendidikan di SMAN 2 Bukittinggi, almamater yang sama dengan Tan Malaka mengaku bahwa orientasi pemikirannya sempat berada di spektrum yang sangat berseberangan sebelum ia akrab dengan tulisan-tulisan Tan Malaka.
“Kalau kita buka-bukaan aja, spektrum berpikir saya sampai semester 1 itu politik Islam religius,” ujar Hasan saat menjelaskan fase awal pencarian jati dirinya. Akan tetapi, fondasi religius itu runtuh seketika saat doktrin kiri mulai masuk lewat bacaan berat di awal masa perkuliahan.
“Ketika berkenalan dengan Tan Malaka semester 2, semester 3, kita dibawa ke kiri ya. Jadi sampai lulus kuliah itu saya cara berpikirnya sangat-sangat kiri,” tutur mantan Sekretaris Poeze itu.
Namun, sebagaimana kisah klasik kebanyakan pengagum revolusi: idealisme kerap luntur begitu berhadapan dengan hewahunja (ini tidak typo) dunia kerja. Begitu ijazah digenggam dan realitas hidup mengetuk pintu, kemudi pemikirannya pelan-pelan dibanting ke arah kompromi.
“Ketika lulus kuliah, kita bergeser ke tengah karena hidup harus realistis,” imbuhnya. Meski kini sudah bertransformasi penuh menjadi bagian dari jajaran elite kekuasaan, Hasan mengklaim sisa-sisa Marxisme ala Tan Malaka tidak menguap begitu saja dari kepalanya.
Ia menaksir, porsi pemikiran revolusioner itu masih tertanam sekitar 25 hingga 30 persen dalam benaknya. Bahkan, senjata analisis paling masyhur milik Tan Malaka diakuinya masih dipakai untuk membedah berbagai persoalan hingga hari ini. “Kalau soal cara berpikir Madilog, Materialisme, Dialektika, Logika itu sampai hari ini masih mewarnai cara berpikir,” pungkas pria yang sangat dekat dengan Prabowo itu.
Perbincangan tersebut akhirnya bermuara pada dilema menarik: bagaimana seorang kritikus keras dan akademisi kritis kini bisa begitu fasih memainkan peran sebagai juru bicara kekuasaan? Bagi Hasan, melunaknya sikap kritis adalah hal yang sangat alamiah. Menurutnya, perubahan itu sekadar bentuk penyesuaian peran atas tanggung jawab barunya di birokrasi sebuah seni memainkan lakon demi mewakili suara pemerintah di hadapan publik.