Ada satu masalah kenapa kelompok islam politik atau harakiyun itu jarang mendapat simpati penuh dari mayoritas umat islam, baik yang sunni atau syiah, yaitu sifat eksklusif mereka, mereka merasa bahwa yang sedang memperjuangkan islam ya mereka sendiri, dimana jika ada orang yang melakukan sesuatu ke arah yang berbeda dengan kebijakan mereka atau berpendapat berbeda dengan arah politik mereka, mereka akan nyinyir dan menyerangnya, berbagai stempel disematkan mulai dari pengkhianat, musuh islam, munafikun, bahkan sampai pada level pengkafiran.
Dan yang diserang mereka itu bukan sekedar awam, bahkan ulama yang jadi panutan jutaan orang akan dicap demikian, ulama munafik, ulama sultan, ulama suu, dll., Itu hal biasa yang mereka lakukan, seolah hanya ijtihad politik mereka itu fatwa tunggal yang harus diikuti semua orang, bahkan ulama sekalipun. Dengan cara begitu mereka merasa sedang membela islam, padahal yang mereka lakukan adalah memecah belah islam.
Dan anehnya ketika musim politik tiba mereka berharap dukungan, mereka akan berbicara tentang persaudaraan, persatuan, dll, yang mana peristiwa saat memberi tuduhan macam-macam sebelumnya dilupakan begitu saja, padahal kadang yang diserang sebelumnya orang yang sangat dihormati. Dan saat dizalimi mereka masih berharap simpati, dari orang yang sebelumnya dianggap munafikun, cinta dunia, pengkhianat, dll.
Dan lebih parah jika ada kawannya berbuat salah, ga ada tuh tuduhan tajam seperti munafiqun, dll, akan ditakwil dan kalau ga bisa takwil akan diminta untuk memaklumi. Cara seperti itulah yang membuat mereka selalu tampak nyaring suaranya, tapi ga pernah beneran dapat dukungan penuh dari umat islam secara umum, dan itu akan selalu mengedepankan mereka, bagaimana mungkin mendapat simpati, sebelumnya mereka dimusuhi. Ini yang disebut ulama dengan talaub biddin, atau bermain-main dengan agama.
Mereka lupa kebijakan yang mereka usahakan itu adalah bagian dari ijtihad politik dalam islam, bukan islam itu sendiri, jadi ketika ada yang berbeda cara berpolitik itu bukan menentang islam, tapi bertentangan dengan ijtihad mereka. Bahkan kalau boleh jujur, kebanyakan ulama yang mereka musuhi itu jauh lebih kompeten dan lebih istiqamah daripada rujukan mereka
Namun fanatisme politik sering membutakan harakiyun, dimana dibandingkan memilih untuk introspeksi ketika mendapat kritikan ulama pada mereka yang didasarkan pada celah yang ulama lihat dalam ijtihad mereka, kritikan itu malah dianggap sebagai “melawan perjuangan”.
Wa hazihi musykilatuna. Jadi selama gaya berpolitik seperti ini tidak berubah maka selamanya akan seperti itu, aku ga mengatakan ini dilakukan semua harakiyun, tentu ada pribadi yang tidak seperti itu, tapi jelas ini arah umum harakiyun yang ada saat ini
Dan aku lihat salah satu kelompok harakiyun yang mulai berbenah dalam masalah ini adalah hamas, dimana mereka mulai inklusif, terutama elit pemegang kebijakan, bahkan saat negara arab ga bisa secara penuh mendukung mereka, mereka bisa memaklumi, mereka lebih memilih persatuan, dan kita bisa lihat sendiri bagaimana simpati dunia pada mereka, ini ga pernah kita lihat di perang sebelumnya, sudah sempurna? Belum, tapi perbaikan seperti ini sangat diperlukan, semoga persatuan mereka dengan kelompok politik lain didalam negeri segera terwujud.

Penulis:
Fauzan Inzaghi
Merupakan mahasiswa di Universitas Syeikh Ahmad Kuftaro, Damaskus, Suriah. Ia suka menulis di sosial media.