Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Laweh Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo.
Sosok
Terkubur Dua Kali: Nestapa Pusara dan Memori Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh
Tulisan ini merupakan sebuah catatan dialektis yang lahir dari laku ziarah ke makam Syekh Abdullah Khatib yang dinarasikan dalam kolektif memori sebagai “Baliau Ladang Laweh” di Banuhampu, Agam, pada hari Selasa, 27 Agustus 2013, yang bertepatan dengan syiar Syawal 1434 H, perjumpaan fisik dengan situs tersebut menyisakan melankolia yang mendalam; menyaksikan pusara sang ulama yang rimbun dilingkupi semak belukar seketika mengiris hulu hati, memantik rasa pilu atas pengabaian sejarah.
Yusril Djalinus, Urang Koto Tinggi yang Membangun Nadi Redaksi Tempo
Yusril Djalinus atau yang lebih dikenal dengan sebutan YD adalah salah satu nama yang tak pernah tampil di halaman depan majalah Tempo, tetapi justru menentukan bagaimana halaman-halaman itu disusun, diolah, dan dipertanggungjawabkan. Lahir di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 12 Agustus 1944, Yusril membawa dua dunia dalam dirinya: denyut kota besar tempat ia dilahirkan dan watak Minangkabau yang diwariskan keluarganya dari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Batolong-tolongan: Saat Kisah Tan Malaka Bersemi Kembali di Nadi Seorang Anak Muda Bernama Devit
Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu
Melalui rekaman kaset dan video, ia mentransformasikan tradisi lisan ke dalam bentuk reproduksi modern, yang jelas bukan sekadar adaptasi, tapi juga strategi artikulasi budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Gurindam yang ia lantunkan menjelma menjadi mnemonic device, pengingat nilai sekaligus jembatan emosional bagi masyarakat rantau yang merawat ingatan akan kampung halaman.
Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir
Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.





