Sosok

Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas

Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas

Tak sedikit orang yang heran, kenapa anak “Badung” dari Pandam Gadang itu bisa begitu cerdasnya. Padahal hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain saja. Kalau tidak layang-layang, sepakbola, pasti berenang di sungai. Pada malam hari akan habis waktu untuk mengaji, bersilat, dan tidur di surau. Keheranan itu juga dirasakan oleh para gurunya di Sekolah Kelas Dua (sebutan sekolah untuk rakyat biasa). Dengan kecerdasan itu, para gurunya di Sekolah Kelas Dua itu menyarankan agar sekolah Tan mesti dilanjutkan. Mereka merekomendasikan Tan untuk lanjut bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Anak pegawai rendahan itu kemudian masuk ke Sekolah Raja. Sekolah yang memang diciptkan untuk anak-anak bangsawan, ningrat, dan pegawai tinggi Belanda. Syahdan, Tan Malaka dilepas para tetua kampung. Bukittinggi kemudian menjadi rantau pertamanya. 

Syekh H. Amin dan Warisan Ruhani dari Taeh Bukik

Syekh H. Amin dan Warisan Ruhani dari Taeh Bukik

Di pedalaman Luhak Limo Puluah, tepatnya di Nagari Taeh Bukik, nama Syekh H. Amin masih disebut dengan takzim. Ia lahir sekitar 1915 dan wafat pada 1978, namun jejaknya tak lekang oleh waktu. Masyarakat mengenangnya sebagai shahibul karamah sebutan bagi sosok yang...