Sosok

Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo

Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo

Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Laweh Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo.

Terkubur Dua Kali: Nestapa Pusara dan Memori Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh

Terkubur Dua Kali: Nestapa Pusara dan Memori Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh

Tulisan ini merupakan sebuah catatan dialektis yang lahir dari laku ziarah ke makam Syekh Abdullah Khatib yang dinarasikan dalam kolektif memori sebagai “Baliau Ladang Laweh” di Banuhampu, Agam, pada hari Selasa, 27 Agustus 2013, yang bertepatan dengan syiar Syawal 1434 H, perjumpaan fisik dengan situs tersebut menyisakan melankolia yang mendalam; menyaksikan pusara sang ulama yang rimbun dilingkupi semak belukar seketika mengiris hulu hati, memantik rasa pilu atas pengabaian sejarah.

Yusril Djalinus, Urang Koto Tinggi yang Membangun Nadi Redaksi Tempo

Yusril Djalinus, Urang Koto Tinggi yang Membangun Nadi Redaksi Tempo

Yusril Djalinus atau yang lebih dikenal dengan sebutan YD adalah salah satu nama yang tak pernah tampil di halaman depan majalah Tempo, tetapi justru menentukan bagaimana halaman-halaman itu disusun, diolah, dan dipertanggungjawabkan. Lahir di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 12 Agustus 1944, Yusril membawa dua dunia dalam dirinya: denyut kota besar tempat ia dilahirkan dan watak Minangkabau yang diwariskan keluarganya dari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu

Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu

Melalui rekaman kaset dan video, ia mentransformasikan tradisi lisan ke dalam bentuk reproduksi modern, yang jelas bukan sekadar adaptasi, tapi juga strategi artikulasi budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Gurindam yang ia lantunkan menjelma menjadi mnemonic device, pengingat nilai sekaligus jembatan emosional bagi masyarakat rantau yang merawat ingatan akan kampung halaman.

Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir

Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir

Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.