Di balik kenikmatan nasi padang, sebenarnya ada beberapa faktor penyebab nasi padang bisa menyebar hingga ke sudut-sudut pinggiran berbagai tempat di Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Nasi padang juga kental dengan nilai filosofis. Kalian pasti sadar, kenapa nasi padang itu lebih banyak porsinya saat dibungkus ketimbang makan di tempat? Beberapa sumber menyebutkan, hal tersebut merupakan bentuk apresiasi pemilik warung karena mereka tidak perlu repot untuk mencuci piringnya. Pemilik warung juga paham, jika nasi padang dibungkus, kemungkinan akan disantap beramai-ramai karena di daerah Minangkabau ada sebuah budaya yang bernama makan bajamba atau bisa diartikan “makan bersama”.
Opini
Kritik untuk Tuangku: Seperti Apa Harusnya Tuangku? Apakah dengan Meninggalkan Kewajiban, Masih Bisa Disebut Tuangku?
Fenomena penghormatan terhadap figur Tuangku di Padang Pariaman kini berada di persimpangan jalan yang mencemaskan. Jangan naik spaning dulu, baca baik-baik, terlebih memahami konteks ini membutuhkan kepala yang dingin. Gelar Tuangku sebagai warisan estafet keilmuan para Syekh terdahulu seharusnya merepresentasikan kedalaman intelektual dan kejernihan spiritual, ingat: ”harusnya”.
Batolong-tolongan: Saat Kisah Tan Malaka Bersemi Kembali di Nadi Seorang Anak Muda Bernama Devit
Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
Gincu Kota Wisata, di Atas Amnesia Massal Ratusan Nyawa di Pelataran Jam Gadang
Bagaimanapun, Bukittinggi tetaplah kota dengan tumpukan luka yang masih menganga. Menangis Usmar Ismail, Hatta, Syahrir, Agus Salim dari dalam kubur melihat keadaan ini. Benar-benar alam Minangkabau yang tak terbayangkan oleh Datuak Katumangguangan dahulunya.
Stagnasi Kasus Pembunuhan di Jorong Talago: Mengapa Penyelidikan Belum Menemukan Titik Terang?
Kematian Lidia Secha Iruduh (61), seorang pensiunan guru di Jorong Talago, Kenagarian VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, adalah sebuah tragedi yang menyisakan lubang besar dalam rasa aman masyarakat. Ditemukan tak bernyawa dalam balutan mukena ungu di halaman rumahnya sendiri, wanita yang kerap disapa Bu Lili itu bukan sekadar korban kriminalitas biasa.
Oleh–Oleh Kunjungan untuk Pejabat
Kemarin, sebuah video lewat di beranda media sosial saya. Awalnya saya mengira hanya potongan video debat yang biasa berseliweran di media sosial. Tetapi berselang beberapa detik setelah saya menonton, saya baru sadar ini agak berbeda. Di video itu terlihat Menko Polkam Djamari Chaniago sedang marah. Marahnya bukan setengah-setengah. Nada suaranya naik, kalimatnya keras, dan wajahnya jelas menunjukan kekesalan.





