Coba dengar cara orang Minang bicara. Hampir tidak ada nasihat, sindiran, atau teguran yang lepas dari kiasan alam. Kayu gadang, aie gadang, tapian, bukit, lauik, ranting, daun, aia mailia, gunuang semua dipinjam untuk bicara soal manusia, soal etika, soal kekuasaan. Bahasa adat Minangkabau bukan sekadar dihiasi alam, ia dibangun dari alam. Masyarakat yang begitu fasih berkias pada alam ini, dalam praktiknya termasuk salah satu daerah yang paling banyak dijumpai perusakan sungai dan hutan melalui penambangan dan penebangan liar.
Opini
Mengembalikan Tan Malaka ke Kalibata
Ada sejarah yang hilang bukan karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, melainkan karena kota berubah terlalu cepat untuk menyisakan penandanya. Rawajati, Kalibata adalah salah satunya. Hari ini kawasan tersebut dikenal sebagai bagian dari Jakarta Selatan yang padat dan terus berkembang. Namun sekitar delapan dekade lalu, di kawasan yang sama, seorang lelaki bernama Tan Malaka hidup dalam persembunyian dan menyelesaikan salah satu karya intelektual penting dalam sejarah Indonesia: MADILOG, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika.
Hujjah Berbalut Sya’ir: Apologetika Tarekat Inyiak Canduang dalam Dawa’ul Qulub
Tercatat dalam lembaran sejarah intelektual Minangkabau awal abad ke-20, perdebatan teologis antara Kaum Muda dan Kaum Tua menemukan salah satu manifestasi tekstualnya yang paling memikat melalui kalam Syekh Sulaiman Ar-Rasuli Canduang (1871-1970).
81 Tahun Merdeka: Pertanyaan Tan Malaka yang Belum Terjawab
Dari Persatuan Perjuangan hingga Indonesia hari ini, kemerdekaan bukan hanya soal merebut kekuasaan, tetapi tentang siapa yang akhirnya menjadi tuan di negeri sendiri.
Indonesia 81 Tahun Merdeka, Mengapa Gagasan Negaranya Seperti Sedang Mengulang Masa Lalu?
Ada yang terasa lucu dari negeri ini. Kita sudah 81 tahun merdeka, tetapi kadang cara negara berbicara kepada rakyat terdengar seperti Indonesia baru saja keluar dari pintu gerbang kemerdekaan. Pidato tentang kemandirian terdengar berulang-ulang—tentang rakyat harus makan, tentang koperasi, rumah, kebutuhan dasar, hingga kembali kepada kesederhanaan. Semua itu tentu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang agak kurang sopan untuk diajukan: setelah 81 tahun merdeka, kapan kita mulai benar-benar sibuk membicarakan masa depan?
Berkaca Diri: Aturan Dapat Beradaptasi tanpa Pilih Kasih
Seorang anak gadis melawan kakak laki – lakinya hingga balas membalas. Ucapan terakhir, sampai pada kalimat “Uda selah kawin samo inyo!” (Abang saja yang menikah sama laki – laki itu). Sejak itu pula, gadis paling cantik dikeluarganya dimusuhi. Dia tidak mau dijodohkan, dia tidak mau dikawinkan dengan siapapun kecuali dengan laki–laki pilihannya, dan mereka sepersukuan.





