Bangsa ini memiliki kebiasaan yang tampak mulia, tetapi menyimpan paradoks: ia gemar mengabadikan tokoh-tokoh yang dulu mengguncangnya. Nama mereka dipahat, diperingati, dan dijadikan simbol kebanggaan nasional. Namun dalam proses itu, sering kali yang hilang justru...
Opini
Dari Seremoni ke Substansi: Menjaga Api Tan Malaka Tetap Hidup
Tulisan terbaru dari Fajirul Aflah yang membedah peringatan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka dengan pendekatan Sorelianisme, hegemoni, dan simulakra menawarkan satu tesis utama: bahwa seremoni adalah bentuk kooptasi, bahwa penghormatan adalah penjinakan, dan bahwa massa...
Haul Tan Malaka dan Tanggung Jawab Sejarah, Menjawab Kritik dengan Kepala Dingin
Tulisan Saudara Muhammad Nurazmi Harza mengenai pelaksanaan Haul Datuk Ibrahim Tan Malaka di Pandam Gadang adalah bagian dari dinamika intelektual yang patut dihargai. Kritik tidak pernah menjadi musuh bagi gagasan. Justru dalam tradisi berpikir seorang Tan Malaka,...
“Manggantang Asok” Kanda, Dinda, dan Bijinda.
Sebagai salah satu yang hadir pada Haul Tan Malaka di Pandam Gadang pada 22 Februari lalu, saya tidak merasakan kegiatan ini dengan gegap gempita, apalagi seperti kritik yang dibuat oleh bijinda kita, Azmi. Kritik yang menurut pikiran saya lebih bernuansa normatif dan...
Batang Agam: Etalase Kemajuan yang Berceceran Sampah Birahi
Payakumbuh sedang sibuk memoles wajah. Batang Agam dijajakan ke mana-mana sebagai kebanggaan, tempat orang pamer gaya di bawah terik matahari pagi. Tapi begitu malam datang, wajah molek itu luntur seketika. Di balik gelap yang sengaja dipelihara, Batang Agam berubah...
“Raso jo Pareso” di Tengah Riuh Globalisasi: Menjaga Marwah Nagari dari Hal-Hal yang Dianggap Sepele
Penemuan dua pasang pakaian dalam yang tercecer di kawasan Batang Agam, Kota Payakumbuh, pada Senin malam (23/02/2026), mungkin bagi sebagian orang hanya peristiwa kecil yang tak layak diperpanjang. Belum ada keterangan resmi, belum jelas pula asal-usulnya. Namun di...





