Di awal abad ke-20, ketika Minangkabau menjadi arena silang pendapat antara kaum Tua dan kaum Muda, nama Syekh Harun Toboh Pariaman muncul sebagai salah satu figur penting yang menjaga barisan tradisi. Ulama asal Toboh, Pariaman, ini dikenal bukan karena riwayat hidupnya yang gemerlap, melainkan karena karya-karyanya yang kokoh membentengi paham keagamaan lama.
rundiang
Limpapeh Rumah Nan Gadang: Cara Perempuan Membawa Dunia
Dalam banyak perbincangan tentang Minangkabau, sistem matrilineal sering disebut sebagai salah satu keunikan yang paling menonjol. Ia kerap dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan sebuah sistem sosial di mana garis keturunan ditarik dari ibu, tanah pusaka diwariskan melalui perempuan, dan rumah gadang berdiri sebagai ruang yang dijaga oleh mereka yang disebut limpapeh rumah nan gadang.
Mencari Semangat Tan Malaka di Era Post-Truth yang Cair
Membicarakan Tan Malaka hari ini adalah ibarat membuka kembali kode sumber kuno di tengah sistem operasi digital yang sudah melampaui arsitekturnya. Di satu sisi, Madilog tetap menjadi monumen intelektual yang impresif, sebuah upaya heroik untuk meretas mentalitas klenik bangsa melalui instrumen logika dan materialisme. Namun, ketika kita membenturkan visi Tan Malaka dengan realitas zaman posttruth dan hegemoni algoritma, kita mendapati adanya celah yang lebar, sebuah jeda kognitif yang membuat metode perjuangannya terasa seperti mencoba menjalankan aplikasi berat di perangkat warisan yang sudah tidak lagi mendapat dukungan pembaruan. Ini bukan berarti kita menolak sejarah, melainkan mengakui bahwa tantangan eksistensial kita hari ini telah bermutasi menjadi bentuk yang tidak lagi bisa didekati dengan manual lama yang sudah usang.
Humanitas: Tan Malaka dan Pendidikan Kaum Tertindas
Tak sedikit orang yang heran, kenapa anak “Badung” dari Pandam Gadang itu bisa begitu cerdasnya. Padahal hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain saja. Kalau tidak layang-layang, sepakbola, pasti berenang di sungai. Pada malam hari akan habis waktu untuk mengaji, bersilat, dan tidur di surau. Keheranan itu juga dirasakan oleh para gurunya di Sekolah Kelas Dua (sebutan sekolah untuk rakyat biasa). Dengan kecerdasan itu, para gurunya di Sekolah Kelas Dua itu menyarankan agar sekolah Tan mesti dilanjutkan. Mereka merekomendasikan Tan untuk lanjut bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Anak pegawai rendahan itu kemudian masuk ke Sekolah Raja. Sekolah yang memang diciptkan untuk anak-anak bangsawan, ningrat, dan pegawai tinggi Belanda. Syahdan, Tan Malaka dilepas para tetua kampung. Bukittinggi kemudian menjadi rantau pertamanya.
Mengabadikan atau Mewarisi? Tan Malaka dan Tradisi Nalar Republik
Bangsa ini memiliki kebiasaan yang tampak mulia, tetapi menyimpan paradoks: ia gemar mengabadikan tokoh-tokoh yang dulu mengguncangnya. Nama mereka dipahat, diperingati, dan dijadikan simbol kebanggaan nasional. Namun dalam proses itu, sering kali yang hilang justru...
Di Bawah Perteduhan: Maulang Kaji Tentang Hakikat Nilai Kasih Sayang
Dari seluruh nilai yang terkandung dalam akhlak Islam, nilai yang memiliki kedudukan dan urgensi tertinggi, yang berada di urutan terdepan, tak lain adalah nilai kasih sayang. Kasih sayang tidaklah sekadar perasaan yang muncul dan bersifat temporal maupun terikat...





