Laporan terhadap Feri oleh LBH Tani Nusantara memang mengandung dimensi legal standing sebagai warga negara. Tapi, jangan hanya berhenti sampai disitu saja, substansi pernyataan Feri tidak bisa dilepaskan dari perdebatan akademik dan empiris terkait kebijakan pangan. Dalam hal ini, kritiknya justru menemukan relevansi jika dibaca melalui data dalam briefing paper yang disusun oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan koalisi masyarakat sipil.
rundiang
Nasi Padang dan Distorsi Penamaan Etnis Minangkabau
Di balik kenikmatan nasi padang, sebenarnya ada beberapa faktor penyebab nasi padang bisa menyebar hingga ke sudut-sudut pinggiran berbagai tempat di Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Nasi padang juga kental dengan nilai filosofis. Kalian pasti sadar, kenapa nasi padang itu lebih banyak porsinya saat dibungkus ketimbang makan di tempat? Beberapa sumber menyebutkan, hal tersebut merupakan bentuk apresiasi pemilik warung karena mereka tidak perlu repot untuk mencuci piringnya. Pemilik warung juga paham, jika nasi padang dibungkus, kemungkinan akan disantap beramai-ramai karena di daerah Minangkabau ada sebuah budaya yang bernama makan bajamba atau bisa diartikan “makan bersama”.
Kritik untuk Tuangku: Seperti Apa Harusnya Tuangku? Apakah dengan Meninggalkan Kewajiban, Masih Bisa Disebut Tuangku?
Fenomena penghormatan terhadap figur Tuangku di Padang Pariaman kini berada di persimpangan jalan yang mencemaskan. Jangan naik spaning dulu, baca baik-baik, terlebih memahami konteks ini membutuhkan kepala yang dingin. Gelar Tuangku sebagai warisan estafet keilmuan para Syekh terdahulu seharusnya merepresentasikan kedalaman intelektual dan kejernihan spiritual, ingat: ”harusnya”.
Luhak Limo Puluah dalam Catatan Midden-Sumatra 1877-1879: Keindahan Harau dan Payakumbuh (Hal. 45–46)
Dokumen atau risalah ini berjudul ”Midden-Sumatra: Reizen en onderzoekingen der Sumatra-expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap (1877–1879)” merupakan laporan resmi berbahasa Belanda perihal Ekspedisi Sumatra (dikenal juga sebagai Ekspedisi Sumatra Tengah) yang berlangsung pada akhir abad ke-19. Di samping itu, pengawas utama dalam ekspedisi ini adalah Prof. P. J. Veth, atau yang memiliki nama lengkap Pieter Johannes Veth. Ia merupakan seorang profesor ternama asal Belanda yang ahli dalam bidang geografi dan etnografi Hindia Belanda.
Batolong-tolongan: Saat Kisah Tan Malaka Bersemi Kembali di Nadi Seorang Anak Muda Bernama Devit
Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
Memperbaiki Cara Berpikir Jaksa Penuntut Umum dalam Kasus Dugaan Mark Up Amsal Sitepu
”Ahli IT yang ikut membuat Perhitungan Kerugian Negara, tidak pernah di BAP, tidak pernah hadir di persidangan dan tidak ada lampiran perhitungannya di LHP. Ahli IT dan Auditor juga Tidak mengakui adanya Biaya Ide / Konsep, Clip On/Microphone, Cutting, Editing dan Dubbing didalam RAB, Mereka menghitung biaya Cutting, Editing, Dubbing, Clipon /Microphone & Ide sebesar, 0 Rupiah.”
— Pernyataan Amsal Christy Sitepu melalui Instagram nya @amsalsitepu (Kamis, 26 Maret 2026)





