Shalawat merupakan salah satu titah agung yang terpatri di sanubari setiap muslim; ia adalah sebentuk ‘alamat cinta nan ranum kepada Rasulullah, sang junjungan alam. Sejak fajar Islam menyingsing, ulama-ulama yang shaleh telah memahat shalawat menjadi wirid harian yang tiada putus mengalir.
Gairah ruhani inilah yang menggerakkan kalbu seorang ulama besar di “tanah Maghrib” yang digelari Qutub Da’irah al-Muhaqqiqin dan Sayyidul ‘Arifin yakni Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, untuk menghimpun untaian lafaz shalawat titipan para salafus shaleh. Untaian itu ada yang ma’tsur, murni dari lisan suci Rasulullah, dan ada pula gubahan indah para shalihin peniti jalan cahaya. Kitab himpunan itu pun lahir membawa tajuk megah: Dala’ilul Khairat wa Syawariqul Anwar (Penunjuk kepada kebaikan dan sumber cahaya).





