Kematian adalah proses akhir kehidupan manusia di dunia dan awal perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Selain itu, nilai sejati manusia ditentukan menurut apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan diwariskan. Sudah barang tentu, meninggalnya Bung Hatta membawa perspektif yang beragam dari berbagai media antarbangsa. Oleh karena itu, penulis akan mengerucutkan pandangan media Belanda, Malaysia, dan Australia menyikapi wafatnya Bung Hatta.
Di sisi lain, muncul ungkapan Minangkabau juga menyuarakan kebaikan seseorang akan terus hidup meskipun jasadnya tiada. “Hancua badan dikanduang badan. Budi baiak takana juo.”
Sudah jamak orang menulis soal figur Bung Hatta dalam beragam sudut pandang. Mulai dari Bung Hatta sebagai wakil presiden, pahlawan proklamator, bapak koperasi, dan sosok yang memegang integritas tinggi. Bagi generasi muda Indonesia, khususnya orang Minangkabau, sosok Bung Hatta menjadi kompas moral dalam menghadapi dekadensi moral yang makin masif pada era sekarang.
Artikel ini mengulas bagaimana cara pandang atau pendapat media internasional terhadap figur Bung Hatta setelah wafat. Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980, pada usia 77 tahun. Jasad Bung Hatta dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Kepergian Bung Hatta membawa duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Presiden Soeharto menetapkan hari berkabung nasional selama seminggu. Pernyataan ini disampaikan dalam Berita Harian, 20 Maret 1980.
Pandangan Media Belanda terhadap Wafatnya Bung Hatta
Belanda adalah tempat persinggahan pertama Bung Hatta saat menempuh pendidikan di Rotterdam pada tahun 1920-an.Selain menempuh kuliah, Hatta juga bergabung Indische Vereeniging (1922), selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (1925). Selama di Belanda, Hatta lebih tertarik dengan pemikiran sosialis sebagai pondasi melawan hegemoni imperialisme Barat di Asia.
Berita meninggalnya Hatta menyentak perhatian media Belanda. Media koran Belanda secara menulis berita meninggalnya mantan Wakil Presiden RI dengan sudut pandang yang berbeda. Harian Trouw misalnya, 15 Maret 1980, mewartakan berita duka dan profil ringkas Bung Hatta. Berikut ini penggalannya:
“De vroegere vice-president van Indonesië, dr. Mohammed Hatta, is gisteren op 78-jarige. leeftijd overleden. Hatta werd sinds 25 februari in een ziekenhuis verpleegd. Niet bekend is aan welke ziekte hij leed.”
“Mantan Wakil Presiden Indonesia, dr. Mohammad Hatta meninggal dunia kemarin pada usia 78 tahun. Hatta telah dirawat di rumah sakit sejak 25 Februari. Belum diketahui penyakit apa yang dideritanya.”
Contoh lain yang muncul pada Newsblad van het Noorden (15 Maret 1980) menerbitkan artikel yang bertajuk Ex Premier Indonesie Hatta (78) Overleden. Sementara harian De Waarheid (17 Maret 1980) mewartakan ringkasan perjalanan hidup Hatta sebagai ketua delegasi Konferensi Meja Bundar sampai perpecahan Sukarno-Hatta yang ditandai Hatta meletakkan jabatan sebagai wakil presiden pada tahun 1956.
Pandangan Media Malaysia terhadap Wafatnya Bung Hatta
Berbeda dengan media Belanda yang mengucapkan belasungkawa secara formal dan berbagai sudut pandang, media Malaysia memberitakan kabar wafatnya Bung Hatta dengan bahasa personal dan penuh penghormatan. Harian Berita Harian, surat kabar asal Malaysia, menerbitkan artikel yang bertajuk “Seluruh Rakyat Indonesia Tangisi Kematian Hatta.” Selain itu, media ini memakai kata “Dr” dan “Allahyarham” Hal ini mencerminkan penghormatan tulus rakyat Malaysia terhadap jati diri Bung Hatta – yang merepresentasikan sesama muslim dan orang Melayu.
Berikut ini penggalan teks Berita Harian, 17 April 1980, yang mencerminkan penghormatan terhadap Bung Hatta:
“Pejuang kemerdekaan Indonesia, Dr. Mohammad Hatta, telah kembali ke rahmatullah Sabtu lalu dan kematiannya ini ditangisi oleh kesemua 140 juta orang bangsa Indonesia di atas kehilangan seorang negarawan yang dihormati.” (Berita Harian, 20 Maret 1980)
Sebulan kemudian, Berita Harian mewartakan rencana Wali Kota Bandung Husein Wangsaatmadja menamai Sukarno dan Hatta menamai jalan raya di Kota Bandung. Namun media ini ini tidak menyebutkan kapan pastinya Wali Kota Bandung meresmikan nama kedua pahlawan proklamator tersebut sebagai nama jalan utama. Tujuan penamaan jalan ini adalah untuk menghormati jasa-jasa besar Sukarno dan Hatta kepada negara Indonesia.
Namun jika ditinjau dalam hal odonim (ilmu yang mengkaji sebuah nama jalan dan rute), kebijakan ini sejalan dengan upaya rezim untuk melakukan rekonstruksi sejarah dan memori kolektif masyarakat demi melegitimasi kekuasaan sebagai arsitek pembangunan negara. Hingga kini, nama jalan Sukarno-Hatta masih langgeng di Kota Bandung dengan panjang ruas jalan mencapai 18,46 km.
Pandangan Media Australia terhadap Wafatnya Bung Hatta
Sejauh penelusuran informasi penulis, tidak banyak media Australia memberitakan wafatnya mantan wakil presiden tersebut. Harian The Canberra Times (18 Maret 1980) memberitakan profil singkat Mohammad Hatta dari memulai pendidikan di Rotterdam sampai pengunduran diri dari jabatan wakil presiden.
Menariknya koran Papua New Guinea Post-Courier (26 Maret 1980) juga menulis artikel khusus beberapa hari setelah Hatta dimakamkan. Koran ini mendeskripsikan kegiatan Hatta selama masa pengasingan di Boven Digul. Hatta mengkader pemuda Papua (Irian Jaya) untuk menentang Belanda dan mengadopsi anak-anak setempat.
Beberapa tahun kemudian, Mavis Rose, akademisi asal Australia, menulis buku biografi Mohammad Hatta yang dimuat dalam Cornell Modern Indonesia Project Monograph Series (1987). Buku ini merupakan buah pikiran disertasi Rose yang berjudul “Indonesia Free: A Political Biography of Mohammad Hatta.” Setahun kemudian, Ricklefs meresensi karya disertasi Rose dalam majalah Inside Indonesia.
Ricklefs mengomentari sumber sejarah yang Rose terapkan sebagai bahan penulisan disertasi. Disertasi ini memakai sumber lisan (wawancara) dan sumber tertulis, tetapi minus Hatta selaku informan kunci (karena keburu meninggal dunia). Ricklefs memuji pendekatan Rose yang mengapresiasi figur Hatta secara personal tanpa kehilangan daya kritis sebagai sejarawan. Misalnya pada momen Konferensi Meja Bundar sebagai puncak karier politik Hatta untuk menyelamatkan kepentingan Indonesia. Namun pada tahun 1950-an, Hatta kehilangan pijakan dan wibawa politik karena perubahan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Simpulan
Berita Meninggalnya Bung Hatta membawa dampak luas bagi masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Peran dan figur Bung Hatta tidak sekadar menjadi wakil kepala negara, tetapi juga sebagai tokoh pemikir dan pejuang bangsa yang menginspirasi generasi muda dan penerus. Secara umum, media Belanda dan Australia memberitakan berita kematian Hatta dengan bahasa normatif. Khusus Australia, figur Hatta menjadi bahan baku penulisan disertasi Mavis Rose. Adapun media Malaysia memberitakan berita duka tersebut dengan bahasa penghormatan karena kesamaan budaya dan agama.
Bibliografi
Buku dan Artikel:
- Wildan Sena Utama. “Mempropagandakan Kemerdekaan di Eropa: Perhimpunan Indonesia dan Internasionalisasi Gerakan Antikolonial di Paris.” Jurnal Sejarah. Vol. 1, No. 2. 2018, hlm. 25-45.
Surat Kabar, Majalah, dan Tabloid:
- Berita Harian, 20 Maret 1980
- Berita Harian, 17 April 1980
- De Waarheid, 17 Maret 1980
- M.C. Ricklefs. Juli 1988. “Mohammad Hatta, Forgotten Revolutionary.” dalam Inside Indonesia. Edisi No. 15.
- Newsblad van het Noorden, 15 Maret 1980
- Papua New Guinea Post-Courier, 26 Maret 1980
- The Canberra Times, 18 Maret 1980
- Trouw, 15 Maret 1980

Penulis:
Genta Ramadhan
Alumni Jurusan Sarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada yang masih belajar banyak hal dan memilih menjadi low profile.