Angin berkesiur dari sebalik rindang dan rapatnya dedaunan. Di muara, di tempat sungai memuarakan perjalanannya kepada laut, ombak berdebur di muara Salido, memiuh sesekali menghempas pada batu gadang. Suaranya datang dan surut, kadang tenggelam di antara desir daun, benturan perkakas, dan seruan orang-orang yang sedang memindahkan batang-batang kayu gadang dari dalam hutan.
Di sanalah Croonenburg perlahan mengambil bentuk.
Pada 1732, saat VoC mencoba Kembali peruntungan untuk menemukan Kembali urat-urat emas di Tambang, pos itu belum hadir sebagai bangunan yang kukuh dan selesai. Ia masih berupa bengkalai dan pekerjaan yang mesti dilanjutkan, bahan yang harus dicari, dan tenaga yang harus dikerahkan. Dalam arsip, namanya muncul di sela-sela sebuah janji bantuan:
“Kami juga tidak akan lalai memberikan bantuan kepada para residen di Pulau Cingkuk/Cingkuak untuk menebang dan membawa kayu ke pos Croonenburg.”
Satu kalimat pendek, tetapi dari sanalah sebuah lanskap terbuka.
Kami seakan melihat orang-orang memasuki hutan yang rapat. Cahaya matahari jatuh terputus-putus melalui celah dedaunan. Batang kayu gadang dipilih, ditebang, lalu dibawa keluar melewati tanah basah dan akar-akar yang menjalar. Kayu-kayu itu tidak datang sendiri ke Croonenburg. Di belakang setiap batang yang sampai ke pos itu, ada tangan yang menebang, bahu yang memikul, dan tubuh yang dipaksa menanggung beratnya.
Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang diperbudak milik Kompeni. Nama mereka tidak turut dicatat bersama nama pos yang mereka bangun. Arsip lebih mudah mengingat kayu yang diperlukan, pekerjaan yang belum selesai, dan perintah yang harus dijalankan daripada suara orang-orang yang mengangkat batang-batang itu dari hutan. Namun, justru melalui celah-celah keheningan itulah mereka masih dapat terlihat: bukan sebagai bayang-bayang tambahan dalam cerita Croonenburg, melainkan sebagai tenaga yang memungkinkan pos tersebut berdiri.
Dari hutan, kayu-kayu dibawa ke arah muara. Di sana, angin laut berembus lebih keras. Ombak terus berdebur, sementara di seberangnya Pulau Cingkuk—atau Cingkuak—menjadi tempat para residen menerima berita, perintah, dan permintaan bantuan. Croonenburg tumbuh di dalam jaringan itu: di antara tambang di pedalaman, hutan yang menyediakan kayu, pulau tempat Kompeni bertahan, dan jalur laut yang menghubungkan pos-posnya di sepanjang Pantai Barat Sumatra.
Kini, di sekitar muara Salido, yang dikabarkan masih tersisa hanyalah pondasi-pondasi bebatuan. Akan tetapi, pada 1737, tempat itu belum merupakan reruntuhan. Pos tersebut hidup. Ada serdadu yang berjaga, ada pekerja yang datang dan pergi, ada kayu yang ditumpuk, dan ada perahu yang tertambat menghadapi pasang-surut muara.
Dua Serdadu dan Sebuah Perahu
Pagi Sabtu, 7 September 1737, bermula dengan sebuah ketidakhadiran.
Seorang serdadu bernama Jeremias Schermer van Beryd tidak terlihat di tempatnya. Pada mulanya, mungkin hanya namanya yang tidak memperoleh jawaban ketika dipanggil. Namun, tidak lama kemudian, kabar lain datang: seorang serdadu dari pos Croonenburg ternyata juga telah meninggalkan tempat tugasnya.
Kecurigaan segera tumbuh. Kedua serdadu tersebut diduga telah bertindak bersama, melepaskan perahu dari tambatannya, lalu pergi menembus gelap. Senjata mereka tidak turut hilang. Mereka meninggalkan senjata, tetapi membawa sesuatu yang lebih diperlukan untuk menjauh dari jangkauan Kompeni: sebuah perahu dan malam yang menyembunyikan arah kepergian mereka.
Kami membayangkan muara Salido sebelum fajar. Angin bergerak di atas permukaan air. Perahu kecil itu mungkin telah melewati tepian Croonenburg ketika pos masih terbenam dalam gelap. Tidak terdengar lagi bunyi kapak dari dalam hutan. Yang ada hanya desir dedaunan dan ombak yang pecah berulang-ulang di pantai.
Akan tetapi, arsip tidak memberitahukan bagaimana mereka menurunkan perahu, siapa yang pertama kali mendayung, atau percakapan apa yang terjadi di antara keduanya. Kita juga tidak mengetahui mengapa mereka memilih pergi. Yang disimpan oleh catatan Kompeni bukanlah kegelisahan mereka, melainkan ketidakhadiran, perahu yang hilang, dan dugaan pelarian.
Begitu kehilangan itu diketahui, Yang Terhormat Tuan Kepala Komandan mengirim seseorang ke Cingkuk untuk memberitahukannya kepada para residen. Berita bergerak menyeberangi air lebih cepat daripada kepastian mengenai keberadaan kedua serdadu tersebut.
Kompeni menduga kedua pelarian itu mungkin mengambil jalan melalui Adjerhadja dan Indrapura, kemudian menyusuri pantai ke arah Mukomuko. Jalan tersebut bukan sekadar lintasan untuk menyelamatkan diri. Di ujung dugaan perjalanan itu terdapat kemungkinan yang lebih mengkhawatirkan bagi Kompeni: kedua serdadu tersebut berniat membelot ke pihak Inggris.
Dengan demikian, hilangnya sebuah perahu dari Croonenburg segera berubah menjadi perkara yang melampaui pos kecil di muara Salido. Ia menyentuh persaingan di sepanjang pesisir, batas-batas penguasaan Kompeni, serta ketakutan bahwa dua orang yang meninggalkan tempat tugas dapat menyeberang ke lingkungan kekuasaan lawan.
Di dalam arsip, garis perjalanan mereka tergambar dengan cepat: dari Croonenburg, menuju Adjerhadja dan Indrapura, lalu menyusuri pantai ke Mukomuko. Akan tetapi, di lapangan, jalan itu tentu tidak sesederhana garis yang ditarik di atas peta. Ada sungai yang harus diseberangi, hutan yang rapat, rawa, perkampungan, pantai terbuka, dan mata-mata Kompeni yang mungkin telah menunggu kabar.
Entah mereka bergerak dengan perahu atau kemudian meneruskan perjalanan melalui darat, arsip yang ada di hadapan kita belum memberi jawaban. Catatan itu hanya meninggalkan sebuah pagi yang ganjil: dua serdadu hilang, satu perahu lenyap, tetapi senjata-senjata mereka tetap berada di tempat.
Ketika matahari terbit lebih tinggi, Croonenburg masih berdiri di muara. Orang-orang mungkin kembali bekerja. Batang-batang kayu gadang kembali dipindahkan. Serdadu yang tersisa kembali berjaga. Namun, sejak pagi itu, laut di hadapan pos bukan lagi sekadar jalan masuk bagi bahan, perintah, dan bantuan. Laut juga telah menjadi jalan keluar—suatu ruang luas tempat dua orang dapat lenyap dan, setidaknya untuk sementara, berada di luar jangkauan Kompeni.
Layu Sebelum Berkembang
18 April 1739. Di sisi selatan Pos Croonenburg, bagian bangunan yang runtuh sedang didirikan kembali dengan batu-batu karang. Barangkali seorang pejabat berdiri di dekat bagian pos yang rusak, memperhitungkan berapa banyak tenaga yang tersedia dan berapa banyak batu yang harus dipindahkan. Namun, geraknya tidak perlu direka terlalu jauh. Surat itu sendiri telah memperlihatkan hal yang lebih penting: orang-orang yang diperbudak milik Kompeni akan terlebih dahulu digunakan untuk pekerjaan tersebut. Jika tenaga mereka tidak mencukupi, pekerja upahan akan dipekerjakan.
Dengan demikian, Kompeni menyusun tenaga kerja secara berjenjang. Tubuh orang-orang yang diperbudak menjadi tenaga yang pertama-tama tersedia bagi pekerjaan kolonial. Tenaga berupah baru ditambahkan apabila jumlah mereka dianggap tidak mencukupi. Arsip tidak menyebut siapa para pekerja upahan itu, dari mana mereka berasal, atau berapa upah yang akan dibayarkan. Karena itu, kita tidak dapat memastikan bahwa mereka berasal dari penduduk sekitar. Akan tetapi, dokumen tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa kerja orang-orang yang diperbudak dan kerja berupah dapat digunakan secara berdampingan untuk mempertahankan sebuah pos Kompeni.
Siapa yang dapat diperintah untuk memindahkan batu? Siapa yang dapat disuruh seraya ketika pekerjaan harus segera diselesaikan? Dan ketika seorang budak melarikan diri, siapa pula yang dapat disuruh seraya untuk mencarinya? Adakah datuk dan kemenakan yang turut bergerak menyusuri jalan, hutan, dan nagari? Arsip belum menyebut datuk ataupun kemenakan dalam peristiwa di Pos Croonenburg. Pertanyaan itu belum dapat dijawab. Namun, sebuah catatan dari dua tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa penangkapan kembali orang yang diperbudak memang dapat melibatkan orang-orang Melayu dan diakhiri dengan pembayaran.
Minggu, 5 Mei 1737. Orang-orang Melayu membawa kembali seorang budak laki-laki milik Kompeni dalam keadaan terikat. Budak tersebut telah melarikan diri sejak 19 Februari 1737. Namanya tidak dituliskan. Catatan hanya menyebut statusnya, tanggal pelariannya, keadaan tubuhnya ketika dikembalikan, serta pembayaran yang diberikan kepada orang-orang yang menangkapnya.
Dalam satu pekerjaan yang sama, dua bentuk pengerahan tenaga bertemu, tetapi tidak dalam kedudukan yang setara. Bagi orang-orang yang diperbudak, kerja itu lahir dari penguasaan Kompeni atas tubuh mereka, jika mereka tewas di lokasi tambang, nama mereka akan masuk daftar aset yang hilang. Bagi penduduk setempat, kerja dicatat sebagai sesuatu yang akan dibayar. Arsip menyatukan keduanya dalam perhitungan kebutuhan tenaga, sedangkan pengalaman manusia di balik perhitungan itu tentu berbeda jauh.
Empat bulan kemudian, kabar tentang akhir Tambang itu mulai tiba. Pada 22 September 1737, pihak Padang memberitahukan keputusan Pemerintah Tinggi Hindia di Batavia untuk menghentikan seluruh pekerjaan Tambang Salido. Pekerjaan harus dihentikan, buku-buku ditutup, alat-alat dihitung, barang-barang dipilah, dan pagar keliling di negeri Tambang harus dirobohkan sebelum para pejabat meninggalkannya. Di antara daftar peralatan, rekening gaji, beras, obat-obatan, dan kapal pengangkut, Kompeni juga harus menentukan nasib orang-orang yang selama ini menghidupkan enklave tersebut. Siapa yang akan dipertahankan, siapa yang akan dipindahkan, siapa yang akan dikirim ke Batavia, serta istri dan anak siapa yang harus menyusul.
Pada 15 Januari 1738, kapal De Boot meninggalkan Padang dengan perintah menuju Pulau Cingkuk. Kapal itu diperintahkan menaikkan Johan Andreas Bollman dan rombongannya, para pegawai bawahan, orang-orang yang diperbudak, serta seluruh aset Kompeni yang telah dikumpulkan di sana. Tanggal pasti ketika rombongan terakhir meninggalkan Salido belum muncul secara tegas dalam fragmen yang telah diterjemahkan. Namun, pertengahan Januari 1738 menandai tahap akhir evakuasinya. Salido tidak ditinggalkan dalam satu hari. Ia dibongkar sedikit demi sedikit melalui surat perintah, daftar nama, penutupan rekening, pemindahan keluarga, pengangkutan persediaan, dan penghancuran pagar yang pernah memisahkan negeri Tambang dari dunia di sekelilingnya.
Ketika para pejabat dan kapal akhirnya bergerak meninggalkan kawasan itu, yang berakhir bukan hanya kegiatan penambangan. Sebuah komunitas yang dibentuk melalui kerja paksa ikut tercerai. Orang-orang yang sebelumnya dihitung sebagai tenaga Tambang kembali dihitung sebagai tenaga yang dapat dialihkan ke tempat lain. Sebagian akan tetap dipertahankan di Pantai Barat Sumatra, sebagian dipersiapkan untuk perjalanan menuju Batavia, sedangkan para istri dan anak-anak mereka diatur untuk menyusul. Kompeni dapat menutup buku dan menghapus nama dari daftar, tetapi penutupan administrasi tidak pernah dapat sepenuhnya menceritakan apa yang terjadi ketika keluarga dipindahkan, ketika orang melarikan diri untuk menemui pasangan, atau ketika sebuah tempat yang selama bertahun-tahun menjadi ruang hidup mendadak dinyatakan tidak lagi diperlukan.
Sebuah Perahu dari Croonenburg
Pagi belum begitu tinggi dan air laut masih surut, Tuan Kompeni dan beberapa anggota agaknya terlelap setelah malam panjang dilalui dengan gelas-gelas minuman keras sebagaimana lazim kebiasaan mereka, tersadai sebuah perahu kecil di muara salido. Dalam laporan tertanggal 18 April 1739, seorang tahanan bernama Orang Caijo Basar diserahkan kepada seorang kopral yang hendak pergi mengambil emas. Kepadanya dipesankan agar tahanan itu dijaga baik-baik. Turut menumpang Radja Colompang bersama para saksinya dan Soetan Balie Cotta, orang yang barangnya telah dicuri.
Semntara itu, entah di Croonenburg atau entah di logie Cingkuk, namun yang jelas, Begindo Ager Saman menyampaikan terima kasih atas pengangkatannya sebagai raja atas Lakitang. Serdadu Johan Christiaan van Berlijn dan tukang kayu bangunan Jan Hendrik van der Netten juga datang menyampaikan terima kasih atas surat keputusan yang mereka terima.
Di antara segala kesibukan itu, datanglah raja dan para penghulu Sillida mengajukan Sinda Palauwang untuk menggantikan penghulu Radja Poeter Alam yang telah meninggal dunia. Kesaksian yang disampaikan menyebutnya sebagai seorang yang berkelakuan baik.
Ketika Selatan Terbakar
sepuluh tahun telah berlalu sejak batang-batang kayu gadang ditebang dari hutan Salido dan dibawa untuk mendirikan Croonenburg. Empat tahun telah berlalu sejak semua perahu pengangkut air milik pos itu ditemukan dalam keadaan buruk, sejak perahu muatannya harus diperbaiki dengan susah payah, dan sejak tiang tempat bendera Kompeni berdiri diketahui telah lapuk seluruhnya dari post Cronenburg. 20 Januari 1742, sebuah laporan dari Pantai Barat Sumatra membawa kabar yang jauh lebih buruk, kerusuhan telah berkobar di wilayah selatan.
Orang-orang Sungai Pagu bergabung dengan kelompok-kelompok dari Sapuluh Buah Bandar. Bersama mereka bergerak orang-orang Bayang yang dalam laporan Kompeni disebut sebagai pemberontak. Kekuatan mereka bertambah dengan hadirnya beberapa orang Hulubalang dan para pengikut Abdul Jallil.
Negeri Salida di bakar, Tambang dibakar, Painan dibakar.
Arsip hanya menyampaikan kabar itu dalam satu rangkaian kalimat. Tidak disebutkan dari mana serangan bermula, bangunan mana yang pertama kali terbakar, atau berapa lama api bertahan. Kita hanya mengetahui bahwa sebelum semuanya terjadi, panglima dan para penghulu telah meninggalkan tempat mereka. Bersama banyak penduduk, mereka menyingkir ke Pulau Air sambil membawa harta benda. Para pedagang mengungsi ke Tello Cassie.
Barangkali dari perahu-perahu yang bergerak menjauhi pantai, mereka masih dapat melihat asap menelusuk dari belukar dan rimba. Di antara tingkah bunyi ketipak beradu dengan dayung serta lambung perahu yang membelah air, berkelindan dalam kekalutan.
Di suatu tempat bernama Koestal, dekat dan berhadapan dengan Pulau Cingkuk, beberapa orang masih bertahan. Di kawasan itulah air tawar harus diambil. Dalam bentang pesisir yang dikelilingi air asin, tempat memperoleh air tawar bukan sekadar persinggahan. Kehilangannya dapat memutus kebutuhan paling dasar bagi mereka yang tinggal dan berjaga di sekitar Cingkuk.
Para penyerang mendatangi Koestal berkali-kali. Mereka menyerbu dengan sengit dari berbagai sisi, tetapi orang-orang Nias berstatus bebas yang tinggal di sana tidak meninggalkan tempat itu. Dengan bantuan beberapa orang Bugis dari Cingkuk, mereka memukul mundur setiap serangan dan menimbulkan kerugian pada pihak lawan.
Surat Kompeni tidak menyebut nama mereka satu per satu. Tidak diketahui siapa yang memimpin pertahanan, siapa yang pertama melihat kedatangan penyerang, atau dari sisi mana serangan paling keras berlangsung. Meskipun demikian, laporan itu menyimpan satu pengakuan yang tidak samar: tanpa keberanian orang-orang Nias tersebut, Koestal tidak mungkin dapat dipertahankan.
Di antara Sillida, Tambang, dan Painan yang telah terbakar, tempat pengambilan air tawar itu masih berada di tangan mereka.
Karena pertahanan tersebut harus diperkuat, para pegawai Kompeni diberi izin untuk menyewa beberapa orang Nias berstatus bebas. Mereka diperlukan agar serangan berikutnya dapat dihadapi dengan kekuatan yang lebih besar. Di sini orang-orang Nias tidak muncul sebagai budak milik Kompeni, melainkan sebagai orang bebas yang keberanian dan tenaganya diperlukan, lalu disewa untuk membantu menghadapi musuh.
Akhir Croonenburg
Kata Sapardi, ”yang fana adalah waktu”, barangkali demikian juga untuk Croonenburg, tak berumur panjang seperti logi pulau Cingkuk yang telah berdiri disana sejak 1663. Berakhirnya upaya penambangan kembali tambang emas di Tambang, dan perang yang kemudian terjadi di tahun 1742, pembakaran Croonenburg dan penarikan penjagaan dari pos tersebut akhirnya disetujui. Alasannya dituliskan dalam satu kata yang dingin: ”onnut”-tidak berguna-.
Kayu yang dahulu dibawa dari hutan Salido akhirnya hilang bersama bangunannya. Yang mungkin bertahan lebih lama hanyalah bagian-bagian yang terbuat dari batu karang, meskipun hubungan antara sisa pondasi yang terlihat sekarang dan bangunan Croonenburg masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Croonenburg hanya beberapa tahun muncul dalam arsip. Dalam waktu yang singkat itu, pos tersebut menjadi tempat para serdadu berjaga dan perahu-perahu berlabuh. Dari sana, perintah disampaikan, tahanan diberangkatkan, emas diambil, serta orang dan barang bergerak antara Salido, Cingkuk, dan pos-pos lain di sepanjang pantai.
Riwayat itu berakhir bukan dengan uraian panjang, melainkan dengan keputusan administratif yang ringkas. Di tengah kerusuhan yang melanda kawasan selatan, Croonenburg dinilai tidak lagi berguna. Penjagaannya ditarik, dan pos tersebut dibiarkan lenyap melalui api yang disetujui oleh Kompeni sendiri.
Ketika pekerjaan Tambang Salido dibuka kembali pada 1732, Kompeni masih menaruh harapan bahwa emas dapat ditemukan dalam jumlah yang sepadan dengan biaya, tenaga, dan pengetahuan teknis yang telah dikerahkan. Para ahli Tambang didatangkan. Lubang-lubang lama dimasuki kembali. Stolle, schacht, lubang udara, dan muka-muka Tambang diperiksa, diperpanjang, diperdalam, atau dibuka dari arah lain. Batuan dinilai menurut keras dan lunaknya, sementara urat-urat Tambang terus dicari di balik lapisan yang belum dibongkar. Setiap kemajuan diukur dengan voet dan vaam. Setiap batuan yang mengandung harapan diuji kembali.
Dari Padang dan Batavia, Tambang itu mungkin terlihat sebagai kemungkinan yang belum selesai. Kegagalan pada satu bagian belum tentu mengakhiri pekerjaan. Lorong lain dapat dibuka. Penggalian dapat diarahkan ke atas atau ke bawah. Sebuah muka Tambang dapat dipertemukan dengan lubang udara. Air yang terus naik dapat dicoba dikeluarkan. Batuan yang terlalu keras dapat diledakkan. Ketika satu pekerjaan tidak memberikan hasil, tenaga dipindahkan ke bagian lain. Harapan dipertahankan melalui pekerjaan baru, perintah baru, dan pembacaan baru atas batuan yang sama.
Namun, harapan itu tidak hanya dibangun dengan alat, mesiu, kayu penyangga, dan pengetahuan para ahli Tambang. Di belakang penggalian yang dicatat dengan ukuran yang teliti terdapat tubuh-tubuh yang harus terus tersedia. Orang-orang yang diperbudak dikirim dari satu tempat ke tempat lain, dipilih menurut kekuatan tubuh, ditempatkan dalam pekerjaan, diberi jatah, diperiksa ketika sakit, dicari ketika melarikan diri, dan dicatat ketika meninggal. Tambang memerlukan beras, ikan, obat-obatan, kain, minyak lampu, rumah sakit, kapal, juru tulis, serdadu, serta orang-orang yang akan turun ke pekerjaan yang gelap dan berbahaya itu.
Croonenburg menjadi salah satu simpul dalam pergerakan tersebut. Orang-orang yang diperbudak dibawa ke kawasan pos, diturunkan dari perahu, ditahan sementara, atau diteruskan menuju tempat kerja dan pusat kekuasaan yang lain. Bagi Kompeni, pos itu membantu menjaga jalur antara laut, negeri Tambang, dan pusat administrasi di Padang. Bagi mereka yang dipindahkan, Croonenburg mungkin hanya salah satu perhentian dalam perjalanan yang tidak mereka tentukan sendiri. Arsip mencatat kedatangan dan keberangkatan, tetapi hampir tidak pernah mencatat apa yang dilihat seseorang ketika pertama kali diturunkan di sana, siapa yang terpisah dari keluarganya, atau apakah seseorang memahami ke mana perjalanan berikutnya akan membawanya.
Referensi:
1.04.02 Inventaris van het archief van de Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), 1602-1795

Penulis:
Muhammad Ikbal
@ikbalpakaik