Tuan Zainuddin El-Junusy Labay

oleh | Agu 28, 2026 | Sosok

Tulisan ini merupakan tulisan dari Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan nama Buya Hamka. Tulisan ini termuat dalam buku berjudul: ”Sedjarah Minangkabau dengan Agama Islam” yang dicetak di Tasamartul Ichwan, Fort de Kock, Bukittinggi, pada tahun 1929. Redaksi menilai, bahwa penting untuk menyebarluaskan tulisan ini kembali, mengingat tulisan ini terbilang sulit ditemukan cetakannya.

Petang Kamis malam Jumat 12 Rajab 1308 Hijriah adalah malam yang beruntung, malam lahirnya seorang hamba Allah yang amat berguna, yang akan membawa perubahan besar bagi bangsanya. Yaitu malam lahirnya Tuan Zainuddin El-Junusy Labay yang tersebut.

Tuan Zainuddin adalah anak dari Tuan Syekh Yunus Imam masjid di Pandai Sikat Padang Panjang, anak dari Syekh Amaduddin bin Hafazah bin Zainal Abidin bin Tuanku nan Pulang di Rao bin Datuk Sinaro Putih.

Di masa kecilnya, dalam keinginannya, adalah hendak menjadi orang yang berbahagia juga. Gelaran Labay yang diberikan kepadanya, adalah permintaannya sendiri ketika dia belum lagi dewasa. Kalau ada orang yang memanggil namanya, marahlah dia, kalau dipanggil Labay besarlah hatinya. Begitulah keadaannya ketika kecil. Sehingga sampai besarnya, menurut adat Minangkabau: Kecil bernama, gadang bergelar. Tidak suatu pun gelar yang lekat kepadanya lain dari Labay (Kiai, Ajengan).

Dalam dunia Onderwijs (pendidikan) Islam di Minangkabau beliaulah yang pertama-tama sekali membawa perubahan besar. Sekolah-sekolah Diniyah di Minangkabau beliaulah yang mula-mula mendirikannya. Sehingga seketika beliau meninggal dunia meninggalkan 15 buah sekolah.

Pendiriannya sekolah-sekolah itu, didasarkan kepada: percaya kepada kekuatan sendiri. Beliau tidak suka menerima Subsidi dari pemerintah. Sebab pemerintah sendiri ketika itu suka menolong memberi Subsidi. Subsidi itu ditolaknya dengan baik, karena dia telah melihat contohnya dengan sekolah Adabiah di Padang yang karena tidak awasnya pengurusnya jadi kecewa pelajaran Islamnya.

Beliau bukanlah seorang keluaran sekolah tinggi, tetapi heran karena semua kemajuan dalam kalangan orang Siak (Santri) di Minangkabau beliaulah yang jadi peretas jalan. Dalam bahasa Arab beliau amat mengerti. Bahasa Inggris diketahuinya sekadar pembaca-pembaca kitab, diperdapatnya dari kesungguhan memeriksa sendiri (zelfstudie). Ilmu pendidikan amat diketahuinya, sehingga sekolah Diniah masa hidupnya jadi Populer karena ada mempunyai Metodik, ada ber-Tagore-isme, ada Sjanggittismenja, dan lain-lain.

Dalam tanah Indonesia, beliaulah pula yang masuk bilangannya Jurnalis Islam yang pandai. Surat kabar Al-Munir Organ Sumatra Thawalib Padang Panjang sangat majunya ketika dalam pimpinan beliau. Perkumpulan Sumatra Thawalib jadi maju seketika beliau menjadi Penasihatnya (Adviseur-nya). Tiap-tiap usulannya (voorstel-nya) tidak ada yang tertolak. Sehingga setelah beliau meninggal, maka Al-Munir mengikut beliau ke dalam kubur.

Pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah Diniah sampai sekarang masih memakai kitab-kitab yang dikarangnya. Kitab-kitab itu tidak kurang dari 15 macamnya. Satu kitab dari cerita Mustafa Kamil dikarang dan disusun oleh beliau untuk jadi pedoman oleh anak-anak.

Tempatnya menuntut ilmu, mula-mula di Padang Japang, sesudah itu ketika Tuan Guru Dr. H. Karim Amrullah pindah mengajar ke Padang Panjang kembalilah beliau ke sana, karena Padang Panjang adalah tanah airnya sendiri belajar dengan tuan guru itu.

Beliau telah wafat pada hari Kamis 8 Zulhijah 1342, dalam berumur 34 tahun 1 bulan 26 hari.

Penulis:
Abdul Malik Karim Amrullah
Abdul Malik Karim Amrullah bergelar Datuak Indomo, masyhur dengan julukan pena Buya Hamka, seorang cendekiawan, serta pujangga. Beliau meniti jejak selaku juru warta, penulis, serta pendidik. Beliau sempat bergiat dalam ranah siyasah Masyumi hingga riwayatnya usai, memimpin Majelis Ulama Indonesia pertama kali, pun berbakti di persyarikatan Muhammadiyah sampai akhir hayat. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahi doktor kehormatan, Universitas Moestopo mentakzimkan Hamka sebagai seorang guru besar.