Allah Menggunting Lidah Engkau

oleh | Agu 15, 2026 | Kaji

Sejauh ini kita sudah melihat betapa khazanah pantun Minangkabau kaya dengan pantun muda. Kita mendapat gambaran bahwa dunia percintaan dan erotisme tidak ‘diharamkan’ dalam pantun-pantun Minangkabau, walaupun etnis Minangkabau diidentikkan dengan Islam. 

Namun demikian kita sudah mendapat kesan bahwa hal itu direpresentasikan dengan bahasa kiasan yang sangat halus, sebagaimana dapat dikesan lagi dalam bait-bait pantun yang akan penulis hadirkan berikut ini:

632.

Sadaun makan baranam,
Sudah sorang tingga balimo,
Sataun bungo den tanam,
Kini ka kambang malah inyo.

633.

Sadaun sambilan sapiah,
Cukuik sapuluah jo bungonyo,
Sataun samusim labiah,
Tidak den lupo digunonyo.

634.

Kalau tarantang di bungonyo,
Daun katari aleh makan,
Kalau takana digunonyo,
Kanyang sahari indak makan.

635.

Baririk  pinang di halaman,
Ditanam Malim Marajo,
Nanti sadikik nan ditahan,
Kami batenggang babicaro.

636.

Urang kabun mandi bagalah,
Mandi batimbo galuak rotan,
Mamintak ampun pado Allah,
Mamintak tabiak bakeh Tuan.

637.

Ka Puruih baburu cingkuak,
Ka lurah baburu pikau,
Kami luruih dibao bengkok,
Allah mengguntiang lidah engkau.

638.

Kain gaba tanun Batipuah,
Pakalo ambiak katantinya,
Kami bana Tuan mangicuah,
Allah Taala kasasinyo.

639.

Gulinggang di tangah ladang,
Tumbuh lado di ujuang titih,
Apo ka tenggang ula gadang,
Reno disemba ula lidih.

Penantian yang panjang akhirnya berbuah gembira: sudah lama Anda mendekati si dia, sekarang rupanya usaha Anda tidak sia-sia. Anda berhasil merebut hatinya. Itulah refleksi bait 632. Bait ini juga bisa berarti tunangan yang sejak kecil dinanti kini sudah gadis, sudah siap ‘dipetik’. Zaman dulu banyak orang yang ditunangankan ketika masih kecil, seperti terefleksi pada beberapa kaba klasik Minangkabau.

Masa pertunanganan bisa berlangsung bertahun-tahun. Demikianlah umpamanya, dalam Kaba Cindua Mato, Dang Tuanku dan Puti Bungsu sudah lama bertunangan, walau yang si bujang tinggal di Pagaruyung dan si Gadis tinggal di Ranah Sikalawi.

Bait 633, mengiaskan kenangan yang mendalam terhadap seseorang, yang dalam konteks ini bisa berarti mantan kekasih hati. Sudah setahun dia pergi, sudah lebih semusim dia meninggalkan Anda, tapi kisah lama bersamanya (gunonyo) tidak dapat Anda lupakan. Tampaknya banyak kenangan indah semasa Anda masih ‘babaua’ dengan si dia.

 Ini dapat dikesan dalam bait berikutnya (634) yang kiasannya terasa indah sekali: jika ingat akan masa lampau yang indah ketika masih bersamanya, Anda bisa merasa kenyang tak makan dibuatnya.

Adapun bait 635, memberi nasehat agar tidak banyak mengumbar kata, jangan membuka aib dengan bercerita ke sana kemari, jika sedang terjadi masalah dengan si dia. Sering dalam menghadapi masalah seperti ini orang tidak tahan untuk tidak membuka rahasianya sendiri. Akibatnya, semua orang jadi tahu. Ibarat ayam gadis bertelur, kata orang: telurnya baru keluar satu, koteknya sudah terdengar ke mana-mana, bikin ribut ayam sekampung.

Rupanya si gadis memang merasa dikhianati oleh pasangannya. Dia merasa pasangannya  memang sudah tidak benar lagi, untuk mana dia mohon maaf (bait 636). Si gadis benar-benar ingin serius dalam membina hubungan, tapi si bujang ternyata masih main-main, tindakannya tidak sesuai dengan perkataannya (dibao bengkok). “Allah akan menggunting lindahmu”, demikian peringatan yang disampaikan oleh si gadis. Jika dirimu mengecoh saya, maka Allah SWT akan jadi saksinya”, kata si gadis kepada si bujang (bait 637).

Bait 638, sepertinya menjadi klimaks dari bait-bait sebelumnya. Lelaki (Tuan) yang mengecoh pasangannya, si gadis yang berhati suci itu, mungkin dari kelas orang berada (ula gadang) yang mungkin suka mempermainkan wanita. Bait terakhir ini mengiaskan orang besar, berkuasa, dan kaya, yang kecolongan oleh seorang dari kalangan biasa saja (ula lidih) dalam merebut hati seorang gadis cantik (‘reno’; kata reno berarti mestika, kemala. Dulu banyak anak gadis Minang yang bernama Reno, dalam beberapa kaba ditemukan nama tokoh wanita Puti Reno….).

Bait terakhir ini sepertinya mengandung ajaran agar orang-orang biasa harus percaya diri (pede), jangan minder berkompetisi dengan orang-orang kaya dalam merebut hati ‘bunga mawar’ incaran banyak lelaki. Jangan merasa kalah sebelum ‘bertanding’. Peluang Anda tetap ada. Yang penting kalau mau ketemu dengan si dia pakaian harus bersih, walau modelnya lama tak masalah.

Dan jangan lupa bersungguh-sungguh: sesuaikan kata dan perbuatan. Soal uang yang banyak belum tentu juga menjamin setiap usaha akan beroleh sukses. Jadi, majulah dengan modal apa yang ada pada diri Anda, tapi jangan hanya modal dengkul doang. Kecuali kalau ikut pemilu kada, itu memang memerlukan banyak modal (dan juga berbagai taktik akal bulus).

Tulisan ini sebelumnya terbit di Padang Ekspres, Minggu, 27 Mei 2012. Sehari setelahnya terbit di nadilova.wordpress.com, tepatnya pada 28 Mei 2012.

Penulis:
Surya Suryadi
Lahir 15 Februari 1965 di Nagari Sunur, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra Unand (1991) dan mengajar sebagai asisten dosen di Unand serta UI, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sana, ia mengantongi gelar master pada 2002 dan menyelesaikan gelar doktornya pada 2014 dengan fokus riset berjudul: “The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”. Suryadi dikenal sebagai pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.