Mengembalikan Tan Malaka ke Kalibata

oleh | Agu 20, 2026 | Opini

Ada sejarah yang hilang bukan karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, melainkan karena kota berubah terlalu cepat untuk menyisakan penandanya. Rawajati, Kalibata adalah salah satunya. Hari ini kawasan tersebut dikenal sebagai bagian dari Jakarta Selatan yang padat dan terus berkembang. Namun sekitar delapan dekade lalu, di kawasan yang sama, seorang lelaki bernama Tan Malaka hidup dalam persembunyian dan menyelesaikan salah satu karya intelektual penting dalam sejarah Indonesia: MADILOG, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika.

Yang menarik, kita tidak perlu menebak lokasi tersebut hanya berdasarkan cerita yang muncul puluhan tahun kemudian. Tan Malaka sendiri meninggalkan petunjuknya. Dalam bagian Sejarah MADILOG, ia mencatat bahwa karya itu ditulis di Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta. Ia tinggal di sana sejak 15 Juli 1942 hingga pertengahan 1943. Sementara MADILOG dikerjakannya selama sekitar delapan bulan, dari 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943, dengan catatan waktu kerja sekitar 720 jam.

Catatan tersebut penting karena menunjukkan bahwa Rawajati–Kalibata bukan sekadar lokasi yang belakangan dikaitkan dengan Tan Malaka oleh para penulis sejarah. Tan Malaka sendiri menyebut kawasan itu sebagai tempat tinggal sekaligus tempat ia menyelesaikan MADILOG. Bahkan pabrik sepatu Kalibata digunakan sebagai penanda geografis untuk menjelaskan lokasi Rawajati. Artinya, hubungan antara Tan Malaka dan Kalibata bukan konstruksi sejarah yang dibuat hari ini demi sebuah usulan penamaan jalan. Jejak itu sudah ditinggalkan oleh Tan Malaka sendiri.

Menulis di Tengah Ancaman

Tan Malaka tidak menulis MADILOG dalam suasana yang nyaman. Ia berada di Indonesia pada masa pendudukan Jepang, hidup secara tersembunyi dan menggunakan nama Ilyas Hussein. Tempat tinggalnya merupakan sebuah pondok sederhana yang bahkan dua kali diperiksa oleh polisi Jepang. Dalam keadaan seperti itu, menulis bukan pekerjaan yang bebas dari risiko. Naskah yang sedang dikerjakannya harus disimpan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Keadaan ekonominya pun jauh dari memadai. Tan Malaka mencatat berbagai kesulitan yang dihadapinya selama berada di Rawajati. Namun keterbatasan tersebut tidak membuatnya menghentikan pekerjaan intelektualnya. Ia justru menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyusun MADILOG, sebuah karya yang pada dasarnya merupakan usaha membangun cara berpikir yang menurutnya diperlukan bagi masyarakat Indonesia.

Di sinilah Rawajati menjadi penting. Tempat tersebut bukan hanya lokasi persembunyian seorang pejuang dari kejaran kekuasaan pendudukan. Rawajati menjadi ruang pertemuan antara perjuangan politik dan perjuangan intelektual. Ketika ruang geraknya terbatas, Tan Malaka memperluas ruang perjuangannya melalui gagasan.

Berjalan Mencari Buku

Ada gambaran lain yang membuat kisah ini terasa begitu manusiawi. Selama berada di Rawajati, Tan Malaka berusaha membaca dan memahami kembali keadaan Indonesia setelah lebih dari dua puluh tahun meninggalkan tanah air. Ia tidak hanya mengandalkan apa yang sudah tersimpan dalam ingatannya. Ia mencari bahan bacaan dan berjalan menuju perpustakaan Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang kini dikenal sebagai Museum Nasional.

Bayangkan seorang tokoh pergerakan yang hidup dalam persembunyian harus berjalan kaki mencari buku, lalu kembali ke pondok sederhananya untuk menulis. Tidak ada ruang kerja mewah, tidak ada fasilitas penelitian seperti yang dikenal sekarang, dan tidak ada jaminan bahwa pekerjaannya akan selesai dengan selamat. Yang tersedia adalah waktu, ingatan, buku-buku yang berhasil ditemukan, dan keyakinan bahwa gagasan masih merupakan bagian dari perjuangan.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang MADILOG, kita sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang sebuah buku. Kita sedang berbicara tentang keteguhan seorang manusia untuk tetap berpikir ketika keadaan memaksanya untuk bersembunyi.

Mengapa Harus Kalibata?

Pertanyaan berikutnya menjadi penting: jika Tan Malaka adalah Pahlawan Nasional, mengapa nama Tan Malaka harus diabadikan melalui jalan di Kalibata?

Bukankah namanya dapat diberikan di tempat lain?

Jawabannya justru terletak pada hubungan historis yang sangat spesifik. Tan Malaka sendiri menyebut Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata sebagai tempat ia tinggal dan menulis MADILOG. Karena itu, apabila Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hendak mengabadikan nama Tan Malaka melalui sebuah ruang publik, kawasan Kalibata memiliki dasar historis yang jauh lebih kuat daripada lokasi yang dipilih semata-mata berdasarkan pertimbangan administratif.

Tan Malaka–Rawajati–Kalibata–MADILOG merupakan satu rangkaian sejarah. Memisahkan keempatnya berarti menghilangkan konteks penting dari perjalanan intelektual Tan Malaka.

Di sinilah penamaan jalan menjadi lebih dari sekadar persoalan papan nama. Ia menjadi cara untuk menghubungkan kembali seorang tokoh dengan ruang tempat ia pernah hidup dan berkarya.

Ketika Lanskap Berubah

Masalahnya, kota selalu berubah. Pabrik yang dahulu menjadi penanda kawasan dapat hilang. Permukiman berganti wajah. Jalan diperlebar. Bangunan baru tumbuh menggantikan bangunan lama. Jakarta bergerak terus dan tidak mungkin dipaksa berhenti pada satu periode sejarah.

Tetapi perubahan kota tidak seharusnya membuat ingatan sejarah ikut hilang. Ketika bangunan tidak lagi dapat ditemukan, nama tempat dan nama jalan dapat menjadi arsip yang hidup. Orang mungkin tidak lagi melihat pondok tempat Tan Malaka menulis MADILOG. Mereka mungkin juga tidak lagi melihat Kalibata sebagaimana yang dilihatnya pada 1942. Namun sebuah nama jalan dapat tetap mengingatkan bahwa di kawasan tersebut pernah berlangsung sebuah episode penting dalam sejarah pemikiran Indonesia.

Seseorang yang melewati Jalan Tan Malaka mungkin suatu hari bertanya: siapa Tan Malaka? Mengapa namanya berada di Kalibata? Apa yang pernah dilakukannya di sini? Dari pertanyaan sederhana itulah pendidikan sejarah dapat dimulai.

Dari Rawajati ke Ruang Kepahlawanan

Ada lapisan sejarah lain yang membuat hubungan ini semakin menarik. Di kawasan Kalibata berdiri Taman Makam Pahlawan Kalibata, salah satu ruang penting dalam penghormatan negara kepada para pahlawan bangsa. Keberadaan TMP tersebut memberikan dimensi tambahan terhadap gagasan penamaan Jalan Tan Malaka di kawasan yang sama.

Tan Malaka memang tidak dimakamkan di TMP Kalibata. Namun ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada 1963. Sejarah kawasan tersebut dengan demikian memiliki lapisan yang menarik: Rawajati pernah menjadi tempat Tan Malaka hidup dan menulis MADILOG, sementara Kalibata kemudian berkembang menjadi salah satu ruang simbolik negara dalam mengenang para pahlawan.

Kita tidak perlu mencampuradukkan kedua sejarah tersebut. TMP Kalibata bukan dibangun untuk Tan Malaka. Yang lebih penting adalah melihat adanya kesinambungan ruang sejarah. Sebuah kawasan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup Tan Malaka kemudian tumbuh menjadi salah satu simbol kepahlawanan nasional.

Bukan Kultus terhadap Tokoh

Mengusulkan nama Tan Malaka juga tidak berarti kita harus mengubahnya menjadi tokoh tanpa cela atau menjadikan sejarah sebagai kultus. Justru sebaliknya, sejarah Tan Malaka layak dipelajari karena di dalamnya terdapat gagasan, perdebatan, kontroversi, pengorbanan, dan keberanian intelektual.

Yang patut diwariskan dari Rawajati adalah satu hal yang sangat sederhana: kemauan untuk berpikir dalam keadaan yang sulit.

Tan Malaka memahami bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dengan membebaskan wilayah dari penjajahan. Bangsa yang merdeka juga membutuhkan kemampuan berpikir. Karena itulah MADILOG menjadi bagian penting dari warisan intelektualnya.

Dalam konteks Indonesia hari ini, gagasan tersebut tetap relevan. Kita hidup dalam zaman ketika informasi tersedia hampir tanpa batas, tetapi kemampuan memilah fakta, berpikir kritis, dan menguji sebuah pendapat justru semakin penting. Teknologi dapat mempercepat penyebaran informasi, tetapi tidak otomatis membuat manusia lebih rasional.

Karena itu, mengenalkan Tan Malaka kepada generasi baru tidak harus dimulai dari perdebatan politik masa lalu. Kita dapat memulainya dari sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana bangsa Indonesia belajar berpikir?

Mengembalikan Nama kepada Ruang Sejarahnya

Atas dasar itulah gagasan penamaan Jalan Tan Malaka di kawasan Rawajati, Kalibata layak dipertimbangkan. Usulan tersebut bukan semata-mata penghormatan kepada seorang Pahlawan Nasional, melainkan juga upaya menjaga memori sejarah Jakarta.

Jika memungkinkan, penamaan tersebut dapat dilengkapi dengan penanda sejarah sederhana yang menjelaskan bahwa di kawasan Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Tan Malaka pernah tinggal dan menyelesaikan MADILOG. Tidak perlu sebuah monumen besar. Sebuah plakat, informasi sejarah, atau QR code yang menghubungkan masyarakat dengan arsip dan sumber sejarah sudah cukup untuk membuat nama tersebut memiliki makna.

Dengan demikian, nama jalan tidak berhenti sebagai alamat. Ia menjadi pintu masuk menuju sejarah. Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang mampu membangun gedung dan jalan baru. Kota yang beradab juga tahu bagaimana menjaga ingatan tentang manusia dan gagasan yang pernah membentuk perjalanan bangsanya.

Tan Malaka pernah berjalan mencari buku, kembali ke pondok sederhana, lalu menulis tentang masa depan Indonesia. Hampir delapan puluh tahun kemudian, pondok itu mungkin sudah tidak ada. Lanskap Kalibata yang dikenalnya juga telah berubah. Tetapi gagasan yang lahir dari tempat tersebut masih dapat dibaca.

Maka, jika suatu hari sebuah ruas jalan di kawasan itu menggunakan nama Tan Malaka, sesungguhnya Jakarta tidak sedang sekadar menambahkan satu nama pada peta.

Jakarta sedang mengembalikan sebuah nama kepada ruang sejarahnya. Dan mungkin, setiap kali seseorang melintasi jalan itu, ada satu pertanyaan yang kembali hidup: Apa yang pernah dipikirkan seorang Tan Malaka di tempat ini untuk masa depan Indonesia?

Itulah cara sebuah nama menjadi ingatan.

Penulis:
Hengky Novaron Arsil, Datuk Tan Malaka VII
(Baeh Satu Lantak Salapan, KP. Kusumojatiningrat, Raja Adat Kelarasan Bungo Satangkai, Suliki 50 Kota Payakumbuh)