Hujjah Berbalut Sya’ir: Apologetika Tarekat Inyiak Canduang dalam Dawa’ul Qulub

oleh | Agu 15, 2026 | Kaji, Opini

Tercatat dalam lembaran sejarah intelektual Minangkabau awal abad ke-20, perdebatan teologis antara Kaum Muda dan Kaum Tua menemukan salah satu manifestasi tekstualnya yang paling memikat melalui kalam Syekh Sulaiman Ar-Rasuli Canduang (1871-1970).

Di tengah pusaran dialektika dan polemik seputar eksistensi Tarekat Naqsyabandiyah, sang alim melahirkan sebuah risalah bertajuk Dawa’ul Qulub. Naskah ini mengambil posisi apologetis yang khas: alih-alih menyusun risalah doktriner bernada kaku, beliau justru membingkai argumentasi teologisnya ke dalam genre sastra berirama berupa bait-bait nazham (sya’ir) Melayu klasik.

Secara historiografis, monumen literasi sufistik ini diproduksi dan dimaterialisasi melalui mesin cetak Percetakan Islamiyah di Fort de Kock (kini Bukittinggi) pada tahun 1924. Sebagai sebuah bangunan diskursus yang terstruktur, pada bagian penutup risalah, Syekh Sulaiman menyematkan rujukan silang (cross-reference) dengan mengimbau para pembaca untuk menelaah karyanya yang lain, al-Aqwalul Washithah.

Hal ini menegaskan bahwa karya bersyair tersebut berfungsi sebagai pembuka jalan menuju dialektika yang lebih luas, khususnya dalam mengurai legitimasi praktik rabithah dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebagaimana tertera pada judulnya, risalah ini berisi tentang cerita Nabi Yusuf dan ayahnya Nabi Ya’qub. Bukan hanya sekadar cerita, Syekh Sulaiman lewat risalah ini memberikan hujjah mengenai Rabithah yang terpakai disisi Tarekat Naqsyabandiyah. Jadi, risalah ini dapat dilihat dari dua segi, pertama risalah yang bernilai sastra, yaitu penceritaannya Nabi Yusuf dengan bentuk nazhm. Kedua, merupakan apologetis terhadap rabithah yang dipakai pada murid Naqsyabandiyah sebelum berzikir.

Sebagai diketahui, perkara Rabithah menjadi satu polemik yang hangat pada awal abad XX tersebut. Persoalan ini telah menyeret ulama-ulama Muda yang mengingkarinya dan ulama-ulama tua yang mempertahankannya dalam perdebatan yang panjang. Dalam perkara Tarekat sendiri, maka Rabithah inilah yang menjadi sasaran besar kaum muda untuk dipertanyakan nya. Dengan lahirnya karya Syekh Sulaiman ini, yang bertajuk cerita sastra yang sarat dengan pembelaan itu menambah perbendaharan kepustakaan apologetis Tarekat di Minangkabau.

Risalah ini, seperti kebanyakan karya-karya Syekh Sulaiman lainnya, karya ini ditulis dengan gaya sya’ir. Diawalnya, Syekh Sulaiman mengingatkan pentingnya kisah Yusuf dan Ya’qub untuk dijadikan cermin, di antara ungkapan beliau:

Dawa’ul Qulub nama risalah
Peubat hati dari dhalalat
Kisah Yusuf terang berkilat
Perkara rabithah ada terselat

Penulis menyeru berulang-ulang
Dawa’ul Qulub wajah cermerlang
Bacalah sungguh jangan kepalang
Supaya terbujuk hati yang dalang

Dawa’ul Qulub umpama fajar
Dalamnya ada sedikit pengajar
Bacalah tuan ganji belajar
Berebut rebut kejar mengejar

Kisah ini dimulai dari kelahiran Nabi Yusuf, penderitaan-penderitaan ketika dijebak, masuk penjara, hingga menjadi raja di Mesir. Adapun penjelasan Rabithah diperoleh ketika Syekh Sulaiman menceritakan kejadian antara Zulaikha dengan Nabi Yusuf.

Alasan mengapa Nabi Yusuf dapat lepas dari keadaan gawat yang diperbuat Zulaikha tersebut ialah karena Nabi Yusuf ketika itu teringat dengan wajah ayahnya. Peristiwa ini menjadi hujjah betapa wajah Nabi Ya’qub dapat menghilangkan was-was dalam hati Nabi Yusuf, sehingga beliau terlepas dari maksiat. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Sulaiman dalam untaian baitnya:

Disini boleh kita layangkan
Pandangan insaf kita gunakan
Rupa ya’qub Tuhan hadirkan
Apa gunanya hendak fahamkan

Jikalau tidak ada gunanya
Tuhan tak mau mehadirkannya
Menjadi la’ab itu namanya
Mustahil Tuhan la’ab sifatnya

Gunanya sudah kita khabarkan
Pehilang was-was khawatir samakan
Kejadi sebab Tuhan izinkan
Rupa menghilangkan tentulah bukan

Tatkala khusushiyah ada dirupa
Dijadikan Allah sudah berjumpa
Menghilangkan was-was lalai dan lupa
Kita rabithahkan salahnya apa.

Demikian ulasan atas nazham tokoh besar PERTI yakni Syekh Sulaiman Ar-Rasuli atau yang lebih dikenal Inyiak Canduang semoga bisa menjadi kaca untuk bercermin ke masa yang akan datang lebih baik.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.