Gelombang silang pendapat di media digital memang sering kali bergerak dalam irama yang unik. Beberapa waktu lalu, saya berada di posisi sebagai penanggap terakhir ketika riak polemik soal potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan tentang anak muda yang dikit dikit Tan Malaka bergulir di media ini.
Kala itu, tulisan tersebut hadir untuk menutup serta merapikan simpang siur gagasan yang sempat memanas. Namun kali ini, ketika membaca tulisan terbaru dari Ustadz Ferry Hidayat di Rundiang.id yang bertajuk “MADILOG, Buku Beracun Komunis”, rasanya membahayakan jika saya terlambat datang membawa segelas air untuk seseorang yang sedang tersedak gagasannya sendiri.
Menarik sekali membaca tulisan Ustadz Ferry Hidayat di Rundiang.id yang berjudul “MADILOG, Buku Beracun Komunis”. Di tengah zaman ketika minat membaca buku-buku tebal kian menyusut, usaha beliau mengumpulkan kutipan-kutipan Tan Malaka secara kronologis dari tahun 1922 hingga 1946 tentu patut diapresiasi. Namun, membaca artikel tersebut memberikan sebuah kesan yang menggelitik: ada gelagat tersedak intelektual yang cukup hebat saat tulisan itu diracik.
Tersedak biasanya terjadi ketika seseorang berusaha menelan sesuatu yang padat dan besar secara terburu-buru tanpa sempat mengunyahnya hingga lumat. Begitulah yang tampak pada artikel tersebut. Setelah sekian puluh tahun Madilog ditulis di rawajati, kita mendadak menyaksikan kepanikan yang datang terlambat hampir satu abad.
Madilog yang padat akan gagasan sains, epistemologi, dan sejarah dialektika mendadak ditelan mentah-mentah, lalu dimuntahkan kembali sebagai “buku beracun”. Kesimpulan yang ditarik sungguh dramatis: hanya karena Tan Malaka mengkritik jimat, khurafat, dan pasivitas sosial, maka Madilog otomatis dicap sebagai racun yang mematikan, sungguh sebuah lompatan logika yang begitu indah dan cukup marabo, walau sayangnya rapuh secara metodologis.
Reduksi Hermeneutik dan Ketakutan pada Label
Sensasi tersedak dalam tulisan Ustadz Ferry bermula dari ketidakmampuan membedakan antara kritik epistemologis dan kebencian terhadap spiritualitas. Dalam tradisi berpikir yang matang, ketika seorang pemikir melancarkan kritik terhadap ketidaklogisan suatu dogma atau praktik sosial pada zamannya, langkah pertama yang arif dan bijaksana adalah memahami apa yang sedang ia serang, bukan terburu-buru menyiapkan label peyoratif.
Artikel Ustadz Ferry memang berhasil menghimpun belasan kutipan. Namun, pengumpulan teks tanpa pemahaman konteks historiografis atau yang dalam ilmu hermeneutika dikenal sebagai cherry-picking hanya menghasilkan kesimpulan yang dangkal, dan saya berpendapat tulisan Ustadz Ferry Irwandi, maaf salah, Ustadz Ferry Hidayat bisa dibilang dangkal dalam hal itu.
Ketika Tan Malaka menyoroti argumen-argumen mistik, beliau sedang berhadapan dengan sebuah realitas sejarah yang konkret, bahwa masyarakat terjajah yang lumpuh secara tindakan karena terlalu menggantungkan nasib pada kegaiban, jimat, dan nasib akhirat, ketimbang membangun sains, teknologi, serta strategi perlawanan yang terukur.
Mereduksi seluruh karya magnum opus anak Rasad Chaniago itu hingga pada akhirnya ada pada kesimpulan yang menjadi sekadar “racun komunisme” adalah bentuk kesesatan berpikir straw man fallacy. Ustadz Ferry membuat boneka jerami bernama “komunisme jahat”, menempelkannya pada Madilog, lalu membakar boneka itu sendiri di depan publik seolah-olah telah memenangkan sebuah perdebatan filosofis
Kekeliruan Kategoris: Agama vs Logika Mistika
Ustadz Ferry luput memahami bahwa agama dan logika mistika adalah dua entitas yang berbeda secara epistemologis. Agama yang matang berdiri di atas nilai moral, kaidah teologi yang rasional, serta dorongan untuk mempelajari hukum alam (sunnatullah). Sebaliknya, logika mistika sebagaimana dirumuskan oleh antropolog Lucien Lévy-Bruhl adalah pola pikir primitif yang melompati hukum sebab-akibat empiris dengan menggantikannya pada takhayul, khurafat, dan kegaiban instan.
Ketika Tan Malaka menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) pada rentang tahun 1942–1943 di bawah cengkeraman penjajahan Jepang, beliau menyaksikan rakyatnya dibikin lumpuh oleh logika mistika ini. Sebagian masyarakat percaya bahwa kemerdekaan akan datang lewat jimat atau mukjizat ajaib tanpa perlu mengorganisasi gerakan sosial dan menguasai sains.
Kritik dari abang Kamaruddin (nama adik Tan Malaka) terhadap konsep penciptaan seketika tanpa proses ilmiah (Ptah) maupun sindirannya terhadap “Kyai Kebal” bukanlah bentuk penistaan terhadap Kekuasaan Tuhan, tapi itu adalah kritik tajam terhadap pasivitas, fatalisme, dan kemandekan berpikir.
Tan Malaka ingin menegaskan realitas sederhana: jika bangsa ini ingin membangun kereta api, kita membutuhkan ilmu fisika dan rekayasa mesin,bukan doa tanpa usaha. Jika kita ingin merdeka, kita membutuhkan strategi perlawanan material, bukan sekadar jimat kebal peluru. Menolak takhayul dan khurafat justru sejatinya adalah agenda utama dari gerakan pembaharuan pemikiran Islam itu sendiri.
Distorsi Sejarah: Kasus Pidato Pan-Islamisme 1922
Sangat ironis ketika Ustadz Ferry mengutip pidato Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional (Komintern) Ke-4 tahun 1922 di Moskow untuk membuktikan sinisme Tan Malaka terhadap agama. Padahal, episode sejarah tersebut justru merupakan salah satu bukti paling benderang betapa independen dan beraninya jalan pikiran Tan Malaka.
Di hadapan tokoh-tokoh komunis dunia yang doktriner, kaku, dan anti-agama, Tan Malaka seorang pemuda terpelajar dari Minangkabau berdiri tegak membela gerakan Pan-Islamisme. Beliau menegaskan kepada pimpinan Komintern bahwa Islam di wilayah jajahan seperti Indonesia bukanlah musuh rakyat, tapi adalah simbol pembebasan nasional dan benteng perlawanan terhadap imperialisme Barat.
Mengutip pidato itu secara parsial demi membangun kesan bahwa Tan Malaka adalah sosok yang anti-agama adalah bentuk pemutihan konteks. Tan Malaka memahami kondisi sosiologis masyarakatnya. Beliau tahu persis mana iman yang menggerakkan keadilan sosial untuk membela rakyat, dan mana mistisisme gelap yang menidurkan kesadaran publik.
Pada akhirnya, fenomena tersedak yang diperlihatkan Ustadz Ferry Hidayat memberi kita pelajaran berharga: bahwa tumpukan gagasan yang padat memang berisiko membuat kaget siapa saja yang belum siap mengunyahnya dengan tenang. Namun, menyatakan bahwa sebuah buku itu “beracun” hanya karena kita sendiri batuk-batuk saat membacanya tentu bukanlah sikap akademis yang bijak.
Sangat ironis ketika Madilog dituduh beracun oleh mereka yang menyamakan kesalehan hanya sebatas rutinitas dogma dan hafalan teks. Padahal, jika kita jujur menggali esensi keimanan, bukankah puncak peribadatan yang paling nyata adalah ketika nalar dan raga kita diwakafkan untuk membela kaum yang lemah dan tertindas?
Tan Malaka tidak sedang membakar rumah ibadah ketika menulis Madilog; alumnus Kweekschool Bukittinggi atau yang nama sekarang nya SMAN 2 Bukittinggi itu tengah meruntuhkan tembok-tembok takhayul agar rakyat jelata bisa berdiri tegak menuntut hak kehidupannya.
Menuduh ajakan rasionalisasi ini sebagai “racun komunisme” memperlihatkan betapa ringkihnya cara kita beragama. Jangan-jangan, kita lebih menikmati kesalehan simbolik yang menidurkan kepedulian sosial, ketimbang nalar kritis yang mengajak kita turun tangan membebaskan rakyat dari kemelaratan, atau jadi masyarakat yang taat kepada pemimpin saja kita lagi? Padahal, pemimpin sekarang pun tidak main-main tirani nya, begitu juga kesenjangan kita hari ini. Maka oleh karena itu untuk sadar, perlu juga tampaknya Madilog itu dibaca dengan motif, dan dibaca dengan perlahan tentunya.

Penulis:
Alfikri
Alumnus Program Studi Hukum Tata Negara, UIN Imam Bonjol Padang, di samping itu pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum UKM Surau Konstitusi. Menaruh minat pada konsentrasi persoalan adat dan budaya Minangkabau.