Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Sebuah syair yang ditulis oleh H. Si Am Dt. Soda, cerita bersumber dari Salmawati.
Soekarno menuduh sebagai Pemberontak
Daerah menyebut sebagai Bergolak
Ibarat pertengkaran orang berdunsanak Hakekatnya
Daerah menuntut Hak
Hak otonomi diminta Daerah
Menimbulkan perang sampai di Ranah
Banyak keluarga ditimpa susah
Perlu dicatat diambil hikmah
Ranah Pesisir indah permai
Balai Selasa termasuk Palangai
Dataran rendah di sepanjang pantai
Ketika Bergolak kehilangan damai
—
Haji Lian penduduk Pesisir
Dapat disebut sebagai Martir
Laksana berjihad melawan Kapir
Menghadapi maut tanpa kuatir
Orang pesisir dari Balai Selasa
Termasuk Ulama, kepala keluarga
Saat terjadi perang saudara
Beliau bukan anggota tentara
—
Haji Lian penduduk Pesisir
Dapat disebut sebagai Martir
Laksana berjihad melawan Kapir
Menghadapi maut tanpa kuatir
Orang pesisir dari Balai Selasa
Termasuk Ulama, kepala keluarga
Saat terjadi perang saudara
Beliau bukan anggota tentara
—
Narasumber Untuk Penulisan Kisah, cerita dituturkan oleh Salmawati Ibu mertua saudara Syafroni
Melalui HP perangkat komunikasi
Peralatan moderen masa kini
Saudara Syafroni kawan penulis
Kami berkenalan melalui Mailinglist
Sarana moderen baca-tulis
Berbagi informasi tak pernah habis
Tahun 2014 Salmawati bercerita
Ketika beliau berusia 62
Teringat peristiwa kejadiaan lama
Seumur hidup tak mungkin lupa
Salmawati punya kakek
Orang tua yang sudah gaek
Biasa ke Surau pakai Tangkelek
Di Pesisir Selatan dipanggil Ayek
Saat terjadi perang saudara
Ayek menetap di kampung saja
Untuk melindungi kaum keluarga
Tidak ijok ke dalam rimba
—
Ayek Berjihad Menjaga Hak Milik
Peristiwa terjadi di kampung Marelang
Penduduknya termasuk kaum Sikumbang
Sesuai adat budaya Minang
Di situ berdiri Rumah Gadang
Paman kandung dari Salmawati
Dia bernama prajurit Rudi
Ikut berjuang di pihak PRRI Selalu diintai dicari-cari
Karena Rudi ikut berperang
Dianggap pemberontak atau petualang
—
Rumahnya diberi tanda Silang
Bisa dilihat semua orang
Tiba saatnya operasi keamanan
APRI dibantu penunjuk jalan
Rumah Rudi menjadi sasaran
Akan dibakar dibumihanguskan
Saat rumah akan dibakar
Semua orang disuruh menghindar
Oleh tentara berwajah sangar
Siapa mendekat kena tampar
Ketika rumah baru dibakar
Api cepat segera membesar
Agar kebakaran tidak menyebar
Ayek mencoba berbagai ikhtiar
Mencegah api berhenti merayap
Beliau naik ke atas atap
OPR marah menjadi kalap
Disuruh turun akan ditangkap
—
Musuh berteriak memekik-mekik
Sambil mengancam akan dibidik
Ayek menjawab tanpa panik
“Ambo manjago hak milik”
Walau diancam akan dibunuh
Keputusan Ayek tetap teguh
Beliau ditembak lalu jatuh
Tubuh terpanggang tak bisa disentuh
Ketika api telah padam
Mayat Ayek jadi terbenam
Bercampur timbunan bara hitam
Diambil air, lalu disiram
Meskipun situasi sangat darurat
Mengubur jenazah tak boleh telat
Sesuai aturan dalam syariat
Jenazah dikubur cepat cepat
—
Ibarat Menembak Burung, Ayek Dibunuh
Ketika Ayek ditembak bedil
Dilihat Nurilam di balik Kerambil
Anak gadis yang masih kecil
Sangat ketakutan badannya menggigil
Karena Nurilam melihat langsung
Dia memberitahu orang Kampung
Kejamnya musuh tidak tanggung
Menembak Ayek seperti burung
Letak rumah saling berdekatan
Api membakar tak boleh dipadamkan
Habis semua harta kekayaan
Dunsanak dicari diminta pertolongan
Walau tak diketahui jumlah pasti
Dalam ingatan mertua Syafroni
Rumah yang terbakar banyak sekali
Dusun Marelang menjadi sepi
Menurut keyakinan umat beragama
Menjaga hak milik wajib hukumnya
Karena mempertahankan milik harta
Insyaallah Ayek diganjar Surga

Penulis:
H. Si Am Dt. Soda